
Keduanya kini keluar dari unit dan berjalan menuju lift, mereka masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka. Di dalamnya sudah ada beberapa orang yang juga penghuni apartemen disana.
Tatapan mereka sulit di artikan saat melihat Cecilia, kedua matanya saling mendelik sipit, bahkan ada yang terang terangan berbisik bisik dengan teman di sebelahnya. Dan Cecilia sudah menduga jika mereka mengenalnya karena rumor yang sudah menyebar seantero apartemen mengenai pengusiran dirinya secara paksa oleh orang yang di utus istri sang pemelihara, padahal sebagian rumor itu terlalu di besar besarkan, nyatanya Reno sendirilah yang melakukannya tanpa campur tangan Irene.
Melihat gelagat tidak enak, Irsan yang bahkan tidak menolehkan kepalanya sama sekali itu justru membalikkan tubuhnya, menggunakan tubuhnya sendiri agar Cecilia yang menghadap pada orang yang tengah berbisik bisik itu menjadi terhalang. Dan kedua orang itu hanya bisa melihat punggung Irsan yang tinggi. Dia yang kini menghadap tepat ke arahnya pun hanya berdiri tanpa kata.
Cecilia mendongkak, menatap Irsan yang hanya melihatnya saja itu, wajah datar dan juga kaku namun juga diam diam ternyata perhatian.
"Kamu gak perlu ngelakuin hal ini! Aku gak apa apa dan gak masalah juga. Biarin aja mereka ngomong di depan muka ku langsung, biar ku cakar sekalian, ku colok matanya biar mereka puas."
"Tidak perlu. Biarkan saja mereka!" tukas Irsan yang semakin menghalangi pandangannya agar tidak melihat kedua orang yang tengah membicarakannya.
Beruntung, karena mereka turun di lantai 2, jadi mereka tidak perlu terang terangan lagi membicarakannya walau sudah dipastikan mereka keluar dari lift dengan terus membicarakan Cecilia.
"Iih ... Pengen gue bejek bejek muka mereka. So suci banget!" ujar Cecilia meninju udara.
"Kenapa kau marah? Bukankah kau sudah bilang tidak akan peduli apa yang saat ini ramai di bicarakan di gedung apartemen ini?" decak Irsan yang kini mundur dan membalikkan tubuhnya lagi.
"Ya ... Aku emang gak masalah juga! Tapi aku juga gak mau mereka ikut campur masalah aku, emangnya mereka peduli apa. Mereka kasih makan aku? Enggak kan. Jadi gak usah deh kalau cuma ngerecokin doang, heboh bener kayak gak pernah lihat orang di usir. gerutunya, "Dasar detergen. Seenaknya aja, mereka gak tahu apa apa masalah hidup orang."
"Biarkan saja!"
Jawaban sederhana yang menurut Cecilia tidak membantu sama sekali. Tidak memiliki harapan apa apa agar Irsan membantu masalahnya, atau berekspetasi tinggi pria itu akan melakukan sesuatu. Nyatanya pria itu sangatlah acuh dengan semua rumor yang beredar.
Lift terbuka dilantai dasar, dimana mereka langsung melihat ke arah basement, Irsan mengarahkan Cecilia untuk berjalan ke arah dimana mobilnya terparkir.
"Mobil pinjam lagi?" tanyanya saat melihat mobil BMW berwarna putih yang kini pintu nya terbuka otomatis dari remot control yang berada di tangan Irsan.
"Milik Ines, dia tidak memakainya hari ini. Jadi aku bisa memakainya." ujar Irsan yang masuk ke dalam pintu kemudi.
"Ish ini nih paling gak suka aku kalau punya mobil dengan remot control, gak bisa bukain pintu buat pacarnya. Si Ines gak doyan deh mobil ginian, gak ada romantis romantisnya." dengusnya sambil masuk ke dalam mobil.
"Itulah gunanya remot control, kau tidak perlu membuka pintu sendiri kan!" Irsan yang hanya menjawabnya datar saja lalu melajukan mobil setelah Cecilia memasangkan seat beltnya.
"Iya ... Gak ada romantis romantisnya! Biasanya cewek itu paling seneng walau cuma di bukain pintu doang. Perhatian kecil padahal tapi justru itu yang bikin cewe klepek klepek."
Irsan hanya mendengus saja, terlihat ujung bibirnya terangkat sangat tipis. Cecilia menepuk jidatnya sendiri, dia lupa jika pria yang tengah mengendarai mobil di sampingnya itu sangat berbeda, dan tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. "Ah lupaa gue!!"
"Kau ingin aku melakukannnya juga? Dan kau akan ...." Irsan menoleh sebentar, "klepek klepek?" ujarnya lagi dengan mengulas senyuman.
"Ish ... Kau ini! Gak inisiatif banget, baru akan lakuin kalau aku udah ngomong." Cecilia mendengus, dengan sedikit berjingkat dan menatap spion untuk melihat riasan di wajahnya. "Lagian ya ... Walaupun aku mau, kau pasti cuma sekali doang ngelakuinnya, selanjutnya ya buka sendiri. Eeeh...." Cecilia terkesiap saat Irsan menurunkan sedikit spion agar Cecilia lebih leluasa melihat pantulan dirinya.
"Makasih." cicitnya, lalu menoleh dan menatap wajah Irsan.
Perhatian yang tidak biasa itulah yang semakin membuatnya berbeda, dan pasti berbeda dengan perlakuan para pria di luar sana.
Cecilia menggelengkan kepalanya dua kali, "Enggak apa apa. Cuma heran aja, perhatianmu benar benar beda."
"Apakah harus sama? Bukankah setiap orang punya cara masing masing. Aku tidak bisa menjadi orang lain, aku mungkin akan selalu berbeda. Tapi aku pastikan semua hal berbeda itu yang terbaik untukmu."
Cecilia mengerjapkan kedua matanya, lagi lagi mendengar perkataan yang manis keluar dari mulut Irsan, dia mencubit cubit kecil lengan Irsan dengan sedikit dia goyang goyangkan dengan gemas. Sampai pria itu meringis.
"Aaaaaa ... So sweet banget sih pacarnya aku."
"Kau ini kenapa. Sudah seperti cacing kremi saja!"
Cecilia mendorong lengannya keras, "Dasar ... Masa aku di samain sama cacing kremi!"
"Ya kau kenapa begitu!"
"Udahlah, kamu emang susah." Sungutnya lalu mencebikkan bibirnya.
Irsan hanya terkekeh saja melihatnya, lalu menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, mobil berhenti di sebuah restoran jepang, Cecilia menatap ke kiri dan ke kanan. Sementara Irsan mematikan mesin kendaraannya.
"Sebelum kita masuk, kau harus berjanji sesuatu padaku." ujarnya menatap ke arah Cecilia.
"Kenapa? Janji apa?"
"Janji kau tidak akan membuat keributan saat bertemu dengannya. Janji tidak akan membuat keadaan semakin keruh, dan janji akan mengendalikan diri?" tukas Irsan dengan wajah serius.
Cecelia mengernyit merasa heran kenapa Irsan menyuruhnya berjanji sedemikian rupa. "Emangnya aku akan ketemu siapa di sini sampai kau menyuruhku berjanji. Takut banget aku kasih masalah sama kamu?"
"Kita akan ketemu Irene!" sahutnya datar. "Irene ... Istrinya Reno."
"Tan--Tante Irene?"
Irsan mengangguk, "Ya ... Dia!"
Cecilia berusaha membuka pintu, namun tidak bisa karena Irsan menguncinya otomatis, dia sudah menduga Cecilia tidak akan mau bertemu Irene.
"Gak ... Aku gak mau ketemu dia! Buat apa ... Kau gila bawa aku kesini. Aku mau pergi. Buka pintunya Irsan!"
.
...Wah cari perkara aja nih si tiang listrik, baru aja tuh si Cacing kremi adem ayem udah di buat rusuh lagi. Awas lo ... Kena mental kalau dia sampai ngamuk! Othor gak tanggung jawab ya. Wkwkwk...
...Makasih Cece lover buat semua dukungannya yang warbsyah ini, maaf kalau othor gak sempet balas komentar yaa....