I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.139(Terus berusaha)



"Jangan gila Irsan! Kau hanya kan memperumit keadaan saja! Aku sudah katakan panjang lebar dari tadi pagi, kenapa kau tidak juga mengerti." sentak Carl dengan kesal.


Namun Irsan tidak peduli, dia bahkan tidak mendengar apa yang di katakan sahabatnya itu. Bagaimana dia bisa membiarkan wanita yang dia cintai itu mendapat masalah tanpa bisa membantunya apa apa.


"Irsan. Dengarkan aku!"


Irsan lagi lagi tidak peduli, dia memegang setir kemudi dengan sangat erat, melaju dengan kecepatan tinggi bahkan tidak peduli suara suara klakson kendaraan lain yang dia lewati.


"Kau fikir aku tidak bisa berbuat apa apa Carl! Kau fikir aku akan diam begitu saja seperti orang bodoh!" ujarnya membuat Carl tertohok.


Bagaimana tidak. Biasanya, Irsan yang dia kenal tidak banyak bicara itu tidak akan melakukan apa apa, mengingat pekerjaannya sebagai seorang Dokter dan memiliki lisensi internasional, semua hal dia lakukan dengan baik, semua difikirkan secara matang dan juga masuk akal, penuh kehati hatian dan juga pernuh perhitungan. Tidak gegabah apalagi asal asalan.


Termasuk mengejar cinta, dia bahkan tidak melakukan apa apa saat wanita itu pergi dengan pria lain. Yang lebih membuat Carl tertohok, kali ini dia berani mengambil tindakan bahkan sampai rela mengorbankan pekerjaannya. Profesi yang sebelumnya ditentang orang tuanya, profesi yang dia pilih yang berbeda dari teman temannya yang kebanyakan memilih bisnis agar bisa meneruskan kerajaan bisnis keluarganya.


Carl terdiam, dia hapal betul dengan sifat temannya itu. Dan semua pilihannya sudah pasti sudah dia fikirkan secara matang, terlebih pria berusia 40 tahun itu selalu bisa mempertanggung jawabkan semua ucapannya.


"Kau memang bodoh Irsan!" gumamnya saat Irsan melaju masuk ke pelataran parkir di depan gedung.


Mobil pun berhenti begitu saja, bahkan Irsan keluar dari dalam mobil tanpa mematikan mesin kendaraanya, dia berlari masuk ke dalam gedung perusahaan milik Irene.


Carl berdecak, dia segera mengambil alih mobil dan memarkirkannya dengan benar, setelah itu barulah dia masuk menyusul Irsan.


Irsan sudah lebih dulu masuk ke dalam lift, menekan tombol bernomor 7 dimana dia tahu ruangan Irene sebelumnya. Sementara Carl menyusulnya namun terlambat, pintu lift sudah kadung tertutup.


Ting


Pintu lift terbuka, Irsan bergegas keluar dan langsung mencari Irene di ruanganya.


"Mana Bosmu?" Tanyanya pada seorang wanita yang tengah berjalan ke arah lain dengan berkas ditangannya.


"Maksud anda Bu Irene?"


"Ya."


"Beliau sedang rapat dengan dewan direksi yang lain," ujarnya dengan menunjuk ke arah depan, dimana ruangan meeting berada.


Irsan mengangguk dan segera mengayunkan langkah ke arah yang ditunjuk, tekadnya sudah bulat dan kalau perlu dia akan mengamuk di tempat ini.


"Tunggu! Apa yang anda lakukan disini?" Jo terbeliak saat melihat Irsan di depan pintu meeting, dirinya yang akan keluar pun dengan cepat menghadangnya untuk masuk ke dalam.


"Aku ingin bertemu dengannya. Minggir kau!" hardiknya dengan mendorong bahu Jo ke arah samping.


"Maaf Dokter Irsan! Anda tidak bisa masuk sekarang, bisa kau tunggu saja sampai nyonya Irene selesai rapat?" Jo tampak tenang, dia sama sekali tidak terpancing dengan kemarahan Irsan.


"Tidak bisa. Aku harus menemuinya sekarang juga!" Irsan mendorong pintu dan merangsek masuk kedalam.


Tampak 4 orang yang terdiri dari para direksi sekaligus pemilik saham, salah satu diantara nya adalah Irene, dan semua orang yang berada di dalam menoleh ke arahnya dengan serentak.


"Dokter Irsan?" Irene menyapanya dengan senyuman, walau Irsan tahu itu hanya senyuman yang penuh kegetiran.


"Aku harus bicara dengan anda!"


"Bukankah kita sudah bicara tadi?" seloroh Irene dengan merekatkan kedua tangan di atas meja. "Aku rasa pembicaraan kita sudah lebih dari cukup Dokter, aku sedang rapat dan anda tidak berkepentingan di sini." ujarnya lagi menohok.


Carl masuk dengan nafas hampir habis, dia menarik lengan Irsan namun pria itu tidak bergeming.


"Kita bicara nanti! Kau mempermalukan dirimu sendiri di depan banyak orang Irsan, so please. Jangan bodoh!" gumamnya tepat di telinga Irsan.


"Pengacaramu benar Dokter! Keluarlah dan jaga reputasimu. Jangan mempermalukan dunia kedokteran dengan sikapmu yang tidak sopan!" seru Irene dengan menyunggingkan senyuman.


"Ayo ...!" Sekali lagi Carl menarik lengan Irsan, namun pria itu tetap pada pendiriannya.


"Aku rasa kita harus segera pergi! Kau harus lebih dulu mengurus masalah ini. Jangan sampai membuat saham kita semakin anjlok gara gara masalah yang Reno buat!" Salah satu pria berdiri dan langsung keluar begitu saja.


"Aku juga!" Sahut yang lainnya, "Terlebih Mr Orlan tidak hadir hari ini, keputusan yang kita ambil belum final Irene." satu pria lagi bangkit dan menyusul rekannya keluar, begitu juga dengan pria satunya lagi yang hanya mengikutinya tanpa mengatakan apa apa.


Irene berdecih saat ketiga anggota direksi pergi meninggalkannya begitu saja, terlebih masalah ini memang sempat mengguncangkan perusahaan dengan rumor dan rekaman yang sempet beredar di kalangan staff tempo hari, dan berimbas pada turunnya harga saham mereka dengan perlahan lahan.


"Kau lihat? Semua masalah ini timbul karena gadis yang kau bela Dokter. Apa masih kurang?"


"Kau salah. Semua masalah ini bukan hanya dari Cecilia, tapi imbas dari perbuatan suamimu dulu. Tidakkah kau sadar juga. Apa dengan melaporkannya pada polisi, kau merasa puas dan semua masalah ini selesai?"


"Kenapa kau bersikeras seperti ini Dokter Irsan? Apa dia begitu spesial dimatamu sampai kau buta olehnya?"


"Aku kesini hanya ingin bicara tentang laporan yang kau buat, bukan perasaanku. Dan aku minta kau cabut laporan itu! Dan aku akan membantu masalah perusahaanmu."


Irene tertawa, lalu bangkit dari kursi yang dia duduki san menghampirinya. "Kau ini lucu sekali dokter Irsan! Kau ini seorang dokter, tahu apa tentang bisnis terlebih dunia bisnis yang aku geluti."


"Aku tahu!"


"Sudahlah ... Kau ikuti saja apa kata pengacaraku. Kita ikuti prosedur hukum ya. Aku tidak ingin melibatkan seseorang yang tidak terlibat di dalamnya!"


Drett


Drett


Ponsel Irene bergetar, begitu juga dengan ponsel milik Jo, seseorang masuk dengan cepat dan langsung membisiki Jo sesuatu yang entah apa itu, namun terlihat raut wajah Jo berubah, asisten pribadi Reno yang kini jadi Asisten Irene menoleh kepadanya.


Jo berjalan ke arah Irene dan menyuruhnya melihat ponsel miliknya. Raut wajah Irene pun sama berubahnya dengan Jo, bahkan lebih parah.


Wajah penuh kecemasan dan juga khawatir tampak jelas, terlebih bunyi intercom diatas meja kini berdering, ditambah ponsel miliknya yang juga ikut berdering. Irene bertambah panik saat melihat kegaduhan di luar. Beberapa staff terkait terlihat masuk dan Jo menggiringnya kembali keluar.


Carl dan Irsan tampak saling melirik, keduanya ikut bingung dengan kepanikan yang terjadi.


"Ada apa Carl?"


Carl hanya mengerdik, namun dia juga mengecek ponsel miliknya untuk mengetahui apa ada informasi tentang kepanikan Irene.


Irene menggebrak meja, dia langsung terduduk lesu dengan wajah pucat pasi.


"Kau tidak tahu dengan siapa kau berhubungan Dokter Irsan!"


.


Satu bab lagi buat kalian Cecelover. Btw si Cece malah ngumpet apa yak. Gak tahu apa dia kalau tuh ayang tiang lagi rempong. Wkwkw