
Irsan terkekeh mendengar ucapan sang istri yang saat ini tidak lagi memuji suami sahabatnya lagi, ya walaupun Irsan juga akui jika pesona Zian memang tiada tara dan tidak ada bandingannya. Terlebih sikap dan sifatnya yang luar biasa, walaupun terkadang bodoh dalam urusan cinta.
"Pria bucin!" cibirnya dengan terkekeh.
"Eh emangnya kenapa dengan bucin, menurut aku suami itu emang harus bucin, kamu juga gitu kan."
"Aku. Bucin? Tidak mungkin." Irsan menggelengkan kepalanya, melirik ke arah sang istri yang kini mendelik. "Ya ... Kecuali kalau kau yang berfikir seperti itu, aku tidak bisa mengatakan apa apa lagi."
"Ih apaan, mau aku ingetin lagi, yang nangis sambil meluk aku terus bilang gini Ayo kita berjuang sama sama aku tidak peduli jika ibu ku tidak memberikan restu, walau seluruh duni--- hmmpp ..." ucapan Cecilia terjeda karena Irsan membekam mulutnya. Gadis itu mencoba melepaskan tangan Irsan dan menepiskannya sambil tertawa, "Kamu lagi nyetir sayang, ayo fokus!"
Keduanya lalu kembali tertawa dengan riang, saling berpegangan tangan dan menggenggam.
"I love you Cecilia. More and more forever"
"Ahhhh ... Itu namanya bukan bucin ya! Itu bucin tahu,"
"Benrakah? Apa bucin seperti ini!"
"Ya ... Menurutku sih!"
Keduanya tertawa lagi.
***
Sementara Vanesa alias Ines yang kini tengah berbunga bunga juga karena hubungannya dengan Tristan semakin banyak peningkatan.
Hampir setiap hari selama Irsan tidak ada di rumah sakit dia akan datang, dan hampir setiap hari datang dengan uring uringan, pasalnya semenjak Irsan dan Cecilia pergi honey moon. Irsan sulit di hubungi untuk dimintai bantuan dalam kasus kasus berat dari pasien pasir nya, sementara Tristan terlihat kewalahan sendiri, walaupun pria itu tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Kak Ines tenang aja, mulai hari ini, tidak akan ada yang mengganggu hubungan kak ines dan Tristan lagi. Aku jamin itu!
Ines ingat perkataan Cecilia sebelum berangkat, "Apa ini yang dia maksud? Emang kurang ajar tuh bocah, dia memang sengaja menggunakan alibi agar kita tidak di ganggu, padahal itu semua hanya untuk kepentingannya saja, ini sama saja bohong. Aku tidak bisa berduaan dengan mu bahkan makan siang kita pun harus terganggu karena panggilan itu."
Tristan terkekeh, "Tidak apa apa, mereka memang butuh waktu berdua saja, kan namanya juga honey moon, masa iya harus repot juga dengan masalah pekerjaan, kita masih bisa berduaan setelah aku selesai bukan?" ujarnya dengan menyuapkan sesuap nasi pada mulut Ines.
"Ya tetap saja ... Masa iya setiap hari kita seperti ini, kencan di rumah sakit katanya, nyebelin banget kan si Cecilia itu, pacarku jadi kasihan!" Ines mengelus pipi Tristan dengan lembut.
Pria itu kembali terkekeh. "Dia baik kok orangnya, buktinya bisa membuat senior seperti sekarang, jujur dulu aku sempet mikir jika Senior itu bukan manusia, tapi robot, selain dingin dan kaku, bicara hanya seperlunya saja dan begitu bicara justru sangat menakutkan." ujarnya terkekeh tapi berakhir dengan bergidig.
"Kalau itu sih aku sudah tahu dari awal, dan hebatnya Cecilia lah yang membuat Irsan melepas keperjakannya. Ups...." Ines menutup mulutnya seketika dengan menatap Tristan dengan menggunakan ekor matanya saja. Kunyahannya berhenti begitu saja. "Anggap kau tidak mendengar apa apa ya."
Tristan terkesiap dengan wajah kaget dan tidak percaya. "Benarkah yang kau katakan. Senior?"
"Mati aku ... Jangan di bahas lagi! Please ... Aku! Ih Mulut ini." ujarnya lagi dengan memukul pelan bibirnya.
Tristan menatap kearah kekasihnya itu, walaupun diantara mereka tidak ada yang saling mengutarakan perasaan seperti kebanyakan orang pada umumnya namun keduanya bersepakat untuk berjalan seiring waktu.
Tristan masih terus menatap Ines dengan lekat, dan tiba tiba saja dia mencapit dagunya pelan.
"Dari pada kau terus memukul mulutmu sendiri, bagaimana kalau aku saja yang melakukannya?"
Ines terkesiap, wajahnya yang tiba tiba menghangat karena terpaan nafas Tristan yang berada tepat di depannya. "Melakukan apa?"
"Bagaimana aku memukul bibirmu dengan bibirku saja?" ujar Tristan yang langsung menyambar bibir Ines dengan lembut.
Ines tentu saja tidak menolaknya, cinta lama yang belum selesai itu justru kembali bersemi. Jatuh cinta pada orang yang sama dan yang pasti tidak pernah menyangka jika dirinya kini kembali bersama seseorang yang berada di masa lalu dengan versi yang berbeda.
"Tristan!"
"Hm ... " gumamnya memagut lembut benda kenyal milik mereka yang kini saling membelit ragu.
"I love you too." ujar Ines yang kini tanpa sadar terbaring dengan Tristan yang kini berada di atasnya,
Suasana rumah sakit sore itu cukup sepi, hanya denting jam dinding yang berbunyi dan mengiringi decakan demi decakan yang tercipta dari keduanya.
Tristan melepaskan jubah putihnya, saat tangan Ines perlahan membuka satu persatu kancing kemeja miliknya dan dengan lembut menyentuh dada bidang Tristan yang semakin berhasratt.
Pria berusia 30 tahun itu tidak tinggal diam. Di melakukan hal yang sama pada Ines, menyelusupkan tangan ke sela baju Ines dan menyentuh kulit mulus nan putih miliknya, membuatnya bergelinjangan.
Sofa panjang ruangan Tristan seolah menjadi saksi cinta mereka berdua yang kini kembali terajut dengan indah dalam versi yng lebih baik. Sampai lengu han demi leeguhan tidak tertahankan lagi.
"Aku tidak pernah menyangka jika aku kembali bertemu denganmu lagi sayang."
"Aku juga! Aku selalu melihat sosok dirimu pada setiap pria yang mngajak ku kencan dan itu selalu membuatku gagal Tristan." lirih Cecilia dengan mendesahh saat tangan Irsan kini bermain di dua gundukan yang kian membusung.
Euuhh!
Tangan Tristan kini sudah berpindah, merayap pada kaki jenjang milik Ines dan berakhir di sela paha miliknya yang semakin membuat Ines bergelinjangan hebat.
Suasana rumah sakit seakan tidak membuat mereka berhenti, dua jiwa yang terjebak dalam cinta remaja yang telah lama saling menanti dan mendamba kini semakin larut dalam pusaran asmara yang memabukkan.
"Tristan!!" lenguhnya saat sesuatu yang hangat mendarat di perutnya.
kecupan demi kecupan terus melayang dan mendarat sempurna di kulit putih nan mulus milik Ines, sampai tubuhnya teus bergelinjang.
"May I?"
Ines terdiam, menatap dua manik hitam yang kini menatapnya dengan penuh gairah berciinta, dia hanya menggigit bibirnya, menahan diri walau nyataya sulit.
hingga akhirnya dia mengangguk pasrah, saat Tristan meminta persetujuannya untuk langkah yang semakin jauh.
Tristan menyentuh lapisan kulit tipis disela paha Ines, membuat gadis itu terbuai dan semakin terbakar.
"Ahk ... Tris! Aku tidak pernah melakukannya." ujarnya polos.
"Benarkah?"
"Hm"
"Kalau begitu, aku akan berhenti sekarang juga! Aku tidak ingin merusakmu." ucap Tristtan dengan mulutnya, namun otaknya tidak mampu bekerja sama dengan baik. Hingga tangannya terus bergerak tanpa henti.
"Tris!?" sentaknya dengan menggengam tangan Tristan yang berhenti sejenak. "DO it! Please?"
Tristan tersenyum, menggerakan jemarinya menari nari di bawah sana. dan kembali memagut bibirnya lembut.
Tak sampai situ, Tristan kini menarik tubuh Ines dan memangkunya, hingga memudahkannya menyentuh dua bagian berbeda di tubuhnya, tangan kirinya terus bermain d benda yang membusung d dadanya sementara tangan kanannya bermain di bawah sana.
Satu jari sudah melesak masuk dengan lembut, membuat Ines semakin tidak berdaya dengan rasa yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya, degup jantungnya seakan berantakan tidak karuan lagi, antara takut dan menginginkannya dengan sangat, tapi juga ada sesuatu yang muncul tiba tiba dan mendorongnya untuk melakukannya.
"Aku ... Aaaah Tris! Aku ingin pipis."
"Lakukan saja, tidak perlu di tahan Ines."
"Aaah .... Tris, tolong hentikan," ujarnya di saat jemari Tristan bergerak semakin lincah di dalam sana.
"Ini belum seberapa sayang, ini hanya pemanasan!"
Brak!