I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.55( Bisa bangkrut)



...Jangan tanya othor kemana, othor ngumpet di kolong meja sambil nyemil kuaci. Wkwkwk....


.......


.


"Kenapa kau mau melakukannya denganku sekarang? Kalau nyatanya kau belum pernah melakukannya sama siapapun selama ini."


"Siapa yang menggoda ku lebih dulu?" Irsan semakin merekatkan pelukannya, semakin leluasa saja dia menyentuh Cecilia.


Cecilia terkekeh, menggeser tubuhnya ke arah Irsan. "Aku yang menggodamu lebih dulu kan?"


"Hm ... Kau memang nakal."


"Benarkah? Bukan hanya kau yang bilang seperti itu, semua pria yang mendekatiku juga bilang kayak gitu." Ujarnya lalu menyambar kembali bibir Irsan yang hendak mengatakan sesuatu.


Mendapat serangan tiba tiba seperti itu tentu saja Irsan kaget, namun dia sudah tidak memiliki pertahanan apa apa lagi.


Gadis itu kembali menaiki tubuh polos pria berusia 40 tahun, mengecup cuping telinganya dengan sangat lembut hingga dia kembali menggeram.


Untuk ke dua kalinya penyatuan tubuh keduanya kembali terjadi, kali ini pergerakan mereka benar benar lembut, desir demi desir menyeruak begitu saja saat kedua kulit saling bergesekan kembali. Erangan demi erangan terdengar merdu seiring decakan dari keduanya.


Cecilia bangkit dan berjalan mundur dengan pelan, begitu juga dengan Irsan, mereka saling berpagut sambil keluar dari kamar. Mencoba sensasi lain dengan bermain di tempat lain. Irsan menggendong Cecilia, dan membawanya ke sofa single. Dia duduk dengan Cecilia yang berada di pangkuannya.


Senjata milik Irsan kembali mengeras, perlahan menerobos masuk lagi ke pusat inti milik Cecilia, gadis itu terus menggerak gerakan bokongnya dengan lembut. Dengan terus mencecap ceruk leher Irsan dan membuat lukisan indah di sana.


Kedua tangan Irsan bermain bebas di dua benda yang menggantung indah di hadapannya, meremaas serta mencecapnya lembut diselingi dengan sedikit hentak dibagian bawah. Cecilia bergelinjangan hebat, tubuhnya semakin membusung saat Irsan menyesapnya keras, kedua tangannya mengalung kuat di leher Irsan, tidak lupa meremass rambutnya dengan sedikit kasar yang justru membuat Irsan semakin bergelora. Keduanya kembali menggila, sama sama memacu tubuhnya lebih dasyat hingga suara keduanya sama sama melengking saat berada di puncaknya.


Semburan hangat milik Irsan menerobos masuk begitu saja tanpa penghalang, membuat denyutan berkali kali lipat dirasakan Cecilia.


Hentakan keduanya pun kian kembali melemah, Cecilia memeluk tubuh Irsan begitu juga dengannya, wangi khas bercintta menyerbak dikeduanya dengan nafas terengah engah.


"Aku tidak percaya kau belum pernah melakukannya sama sekali."


"Ish ... Masih gitu aja!" ujar Cecilia yang turun dari pangkuan Irsan begitu saja, dia melenggang masuk ke dalam kamar tanpa rasa malu, menyambar bathrobe yang diperkirakan milik Irsan lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Irsan dibuat geleng kepala dengan tingkahnya, namun tidak bisa dia pungkiri itulah yang membuatnya menarik.


Pria itu memejamkan kedua matanya dengan kepala tersandar di sandaran sofa, tidak pernah percaya dia bisa melakukannya justru pada seorang Cecilia.


Tanpa sadar dia justru tertidur dalam keadaan duduk dan juga tanpa sehelai kain pun. Dia hanya menutup kedua pahanya dengan bantal sofa.


Cecilia keluar dari kamar mandi, menyambar kemeja Irsan yang teronggok begitu saja di lantai dan mengenakannya. Dia juga membereskan tempat tidur yang berantakan karena permainan mereka. Juga pakaia miliknya yang dia lemparkan begitu saja ke keranjang pakaian yang berada di sudut kamar.


Namun sedetik kemudian dia mengambilnya lagi, "Sialan! Gue berada di rumah sendiri." gumamnya dengan memasukkan pakaiannya ke dalam paperbag yang dia temukan di atas lemari.


Setelah itu dia keluar kamar dan berdecak saat melihat Irsan tertidur pulas, "Kasian! Gue udah ngambil keperjakaannya sampai dia gak berdaya begitu."


Tak lama dia mengambil ponsel miliknya dan mengambil foto Irsan sebanyak banyaknya dengan sesekali tertawa. Setelah itu dia keluar begitu saja dari apartemen milik Irsan.


Dengan memakai kemeja putih berukuran Irsan yang cocok dipakainya tanpa mengenakan bawahan, dia berjalan melewati koridor dengan terus mengulum senyuman saat mengingat permainan nya bersama Irsan tadi. Mengayunkan kedua kakinya masuk kedalam lift dan menekan tombol lima dimana unit nya berada.


"Seru juga kalau dekat gini! Kita bisa bebas ketemu kapanpun." gumamnya dengan terus tersenyum.


Gadis itu kembali ke unitnya sendiri dan langsung menghempaskan tubuh nya yang lelah ke atas ranjang.


"Rasanya gue udah lama gak cape begini!" gumamnya.


Namun seketika dia tersentak lalu kembali terduduk saat pandangannya tertuju pada sebuah kotak kecil berwarna merah.


"Astaga! Gue lupa gak pake pengaman, gimana kalau bocor dan gue tengdung." ujarnya lalu beranjak bangkit ke arah meja rias, mencari sesuatu. "Masa subur ... Masa subur gue. Kapan, ini ... Disini ... Huh!" Ujarnya dengan lega saat jemarinya terus bergerak maju pada sebuah kalender masa kesuburan yang dimilikinya untuk berjaga jaga.


Cecilia menepuk jidatnya sendiri karena kecerobohan dirinya saat melakukannya tanpa pengaman, lalu mengelus perutnya berulang ulang.


"Aman ... Aman! Bahaya kalau gue tengdung anak Irsan, bisa bangkrut mendadak kalau Reno tahu."