I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 44( Pecat saja)



"Boleh juga! Kita memang butuh pegawai yang ceria dan juga menarik sepertinya."


TIdak lama kemudian dia mengotak ngatik ponselnya, sudah pasti dia melaporkan semuanya pada Irsan. Terlebih pengunjung semakin ramai saja.


Manager terus memperhatikan dari ruangannya. Berdecak seraya menggelengkan kepalanya saat Cecilia selalu bisa membuat pengunjung tersenyum.


"Hati hati, segelas kopi bisa bikin rindu." kelakarnya lagi saat seorang wanita mengambil pesanannya.


"Oh ya!"


"Hm ... Kau lihat saja wajah pacarmu itu? Kopi hanya dia jadikan kambing hitam untuk bertemu denganmu."


Wanita itu menoleh ke belakang, menatap seorang pria yang duduk dengan tersenyum memandanginya. Senyuman terulas tipis dari bibirnya dan kembali menatap Cecilia. Dimas lagi lagi berdecak kagum, baru pertama dia melihat rekannya santai dalam bekerja, sangat ramah dan tentu saja menyenangkan.


Wanita itu bahkan memberi tips besar pada Cecilia. "Mbak bikin hati senang. Aku akan kemari lagi mengajak pacarku. Kami baru seminggu jadian."


"Oh ya, selamat yaa kak. Dan ini bonus. Jangan bilang yang lain." ucap Cecilia mengedipkan mata, saat memberinya sedikit krim pada gelas kopinya.


Dimas terbeliak, rasanya baru sekarang dia melihat seorang pengunjung yang sedang senang dan memberi tips, banyak cara yang dilakuka Cecilia untuk menarik konsumen. Tidak hanya hari itu, mereka dipastikan akan kembali datang lagi karena keramahan Cecilia.


Dia memasukkan tips itu kedalam apron milik Dimas, membuat pria bertubuh kurus itu tersentak.


"Eh ... Napa lo masukin ke gue! Dia ngasih ke lo."


"Gak apa apa Dim. Kita bagi dua." Cecilia terkikik, dia tidak mungkin mengatakan tidak memerlukan uang tidak seberapa itu karena sebenarnya dia datang bukan karena uang. Cuma Irsan yang bisa bikin gue lupa akan duit.


"Thanks kalau gitu. Coffe shop ini bakal rugi kalau gak rekrut lo Cecilia, lo berpotensi banget! Gue seneng punya pathner kayak lo."


"Pasti, karena tips kan!" ujarnya menyenggol lengan Dimas hingga pria itu hampir menubruk mesin kopi saking kurusnya.


Cecilia kembali terkekeh, dia sedikit lupa jika alasannya datang hanya untuk mencari perhatian Irsan belaka.


***


Irsan yang mendapat kabar dari pegawainya kalau coffe shop miliknya semakin ramai pengunjung tentu saja senang, dia bahkan segera membereskan peralatan medisnya saat pasien terakhir keluar.


"Tidak ada lagi pasien kan hari ini?" tanyanya pada suster yang menjadi asistennya hari ini.


"Tidak ada Dok! Sudah semua."


"Kalau begitu aku bisa pergi sekarang. Hubungi aku kalau ada yang darurat." ujarnya dengan menggantungkan jubah putihnya dan menggantinya dengan jas berwarna hitam miliknya. Memakainya lalu keluar dari ruangan prakteknya.


"Mau kemana?"


Irsan menghentikan langkahnya saat dokter Siska berjalan ke arahnya, "Coffee shop."


"Kebetulan, aku sedang ingin kopi ekspreso buatanmu." Siska berbalik mengikutinya.


Pria tinggi itu hanya mengulum senyuman, dia tidak menolak atau mengiyakan perkataan Dokter Siska.


"Ku dengar Coffee shop makin ramai!"


"Aku baru saja akan mengeceknya hari ini. Kita satu mobil saja, aku juga tidak akan lama di sana."


"Baiklah."


Keduanya beranjak pergi menuju mobil milik Irsan, pria itu segera melajukan mobil ke mall dimana Coffe shop itu berada.


Tapi mereka harus mampir ke sekolah dimana anaknya Siska sudah menunggunya, Irsan tidak keberatan karena dia juga cukup dekat dengan anak semata wayang Siska.


Setelah ke sekolah, barulah mobil kembali melaju ke mall, memiliki akses khusus di basement karena dia salah satu pemilik gerai juga kenal dekat dengan pemilik mall tersebut.


Dia tahu yang dimaksud Siska tentu saja Zian temannya, pengusaha hotel yang kini merambah ke bisnis mall.


"Kau seperti tidak tahu dia saja! Dia akan melakukan semua keinginan istrinya itu."


"Kau benar juga!" Siska terkekeh lalu menghela nafas, menatap anaknya yang berumur lima tahun dengan sendu "Aku jadi ingat semasa kehebohan saat mengurus istrinya yang melahirkan. Tidak seperti ayahnya, dia bahkan pergi tanpa tahu anaknya."


"Jangan membandingkan hidup kita dengan orang lain! Itu artinya tuhan tahu kalau kau lebih kuat dan bisa menghadapinya." sahut Irsan dengan membantu Siska membuka seat belt di tubuhnya karena dia juga menggendong anaknya yang tengah tertidur.


"Haha ... Kau benar! Sudahlah ... Lupakan masa lalu!"


"Hm ... Itu bagus."


Keduanya masuk kedalam, dengan Irsan yang menggendong anak Siska yang masih tertidur, mereka berjalan layaknya sebuah keluarga kecil saja. Dengan Siska yang membawa jas milik Irsan.


Tak lama kemudian Irsan masuk kedalam ruangannya di coffe shop, dia memiliki jalan khusus dari arah samping, semua karyawan masuk dan keluar juga lewat sana, hanya Cecilia yang tidak tahu jika Irsan sudah berada di kantornya.


"Bagaimana?"


"Gadis ini luar biasa! Padahal baru dua jam dia berada di sini. Aku men trainingnya sampai anda datang dan memberinya keputusan."


Irsan memberikan anak Siska pada ibunya lagi, dia lantas duduk didepan manager yang tengah mengamati Cecilia.


"Kenapa menungguku! Kau bisa menilainya sendiri. Jangan sungkan, kau manager di sini Dre."


"Baik pak. Aku memang berencana menerimanya, setelah melihat kinerjanya dan jiga komunikasinya juga bagus."


Irsan mengangguk, sembari memeriksa laporan keuangan masuk dan juga keluar yang berada di atas meja tanpa melihat ke mana mana. "Ok! Terserah padamu."


Irsan juga mengangguk anggukan kepala saat melihat laporan semakin hari semakin meningkat walau dia hanya datang sekali dalam seminggu,


"Bagus! Tidak ada kendala."


"Tapi sepertinya aku harus mengubah sedikit tentang konsep coffe Shop. Jika tidak keberatan."


Irsan baru mendongkakkan kepalanya, "Apa ada masalah dengan konsep selama ini?"


Andre mengangguk, "Terlalu kaku, kita bisa menyegarkannya mulai sekarang, aku sudah menemukan karyawan dengan wajah baru yang ceria juga interaktif terhadap pengunjung kita." Ucapnya dengan menghubungi seseorang di luar agar menyuruh Cecilia untuk masuk ke dalam ruangannya.


"Bukankah kau tadi bilang dia baru dua jam di sini?" ucapnya melihat monitor dimana dia melihat apa yang Andre lihat.


Kedua matanya membola saat melihat seorang gadis yang rasanya tidak asing baginya, dia terus memperhatikan hingga wajahnya semakin jelas.


"Iya ... Dia yang aku maksudkan. Dia akan segera kemari."


"Dia?" ucap Irsan dengan menunjuk layar.


"Hm ... Dia sangat luar biasa, namanya siapa ya tadi!"


"Cecilia." gumamnya pelan nyaris tidak bersuara, menatap layar di monitor tanpa berkedip.


"Tidak! Jangan menerimanya di sini."


Andre terhenyak mendengarnya, baru saja mengatakan terserah padanya namun sekarang justru berkomentar. "Bukankah kau bilang terserah padaku?"


"Ikuti saja perintahku!"


"Tapi aku baru saja menerimanya jadi karyawan di sini." ungkap Andre yang sudah menyiapkan lembar kontrak pekerja.


"Kalau begitu pecat saja!"