I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.119(Gak bakal paham!)



"Maksudku bu---"


"Udahlah! Kamu emang gak akan pernah bisa ngerti, apa yang kamu anggap baik belum tentu baik buat orang lain, gitu juga sebaliknya. Aku punya alasan untuk gak ketemu tante Irene lebih dulu! Dan kamu gak akan bisa ngerti apapun itu alasannya."


Irsan cukup tercengang dengan ucapannya, dunia mereka jelas berbeda. Bagi Irsan yang selama ini hidup dengan baik, dia hidup dimana norma norma berlaku dengan semestinya, namun berbeda dengan Cecilia yang hidup dengan keras, bahkan segala norma terabaikan begitu saja.


"Maksudku baik Cecilia! Kau memang harus melakukannya, kamu dan Reno, telah menyakiti seorang wanita yang tidak lain adalah istri dari pria yang mengencanimu."


"Ya kau benar! Aku telah menyakiti semua istri dari pria yang telah membeli jasaku. Tapi apa aku salah? Dimana salahku? Aku hanya menjalankan pekerjaanku. Mereka membayar jasaku. Dan aku bekerja untuk itu. Aku kerja Irsan." ujarnya dengan suara yang lebih keras lagi, "Aaaah ... percuma aku bicara panjang lebar, kamu emang gak akan pernah bisa paham yang aku katakan. Dunia kita jelas beda." gadis itu menghentakkan kaki dan beranjak begitu saja.


Alih alih masuk ke dalam mobil milik Irsan, Cecilia justru masuk ke dalam taksi yang sedang terparkir di depan restoran, Irsan dengan cepat mencegahnya agar tidak pergi.


"Cecilia. Tunggu! Biar aku mengantarmu." ujarnya menahan pintu mobil yang hendak dia tutup.


"Udahlah! Aku harus ngurus sesuatu dulu, hanya sebentar."


Namun Irsan tidak menyerah, dia justru ikut masuk ke dalam mobil, hingga Cecilia harus bergeser. Gadis itu berdecak saat Irsan justru menyuruh supir taksi untuk melajukan kendaraannya.


"Jalan pak!"


"Heh ... Emangnya kau tahu aku akan kemana?" tanya Cecilia hampir bersamaan dengan suara sang supir.


"Kita mau ke arah mana tuan?"


Irsan menatap Cecilia, lalu kembali menatap supir. "Ikuti saja arahannya!" ujarnya dengan menunjuk Cecilia.


"Apaan sih! Mending kamu balik deh. Atau kemana gitu ... Ke rumah sakit kek, ke coffe shop kek dari pada ngikutin aku. Nanti malah kita berdebat lagi. Bisa bisa kau kaget dan marah lagi."


"Memangnya kau akan pergi kemana? Sekalian saja aku mengantarmu."


"Ke satu tempat!"


"Katakan saja dimana? Aku akan tetap ikut bersamamu."


"Mobil Ines kau tinggalkan gitu aja di sana?"


"Ya ... Tidak masalah,"


"Huft!"


Cecilia hanya menghembuskan nafasnya kasar, lalu menyandarkan punggungnya di seat mobil.


"Maaf Nona ... Tuan, bisa katakan kemana jalan yang harus aku pilih?" tanya supir taksi lagi saat mereka berada di persimpangan jalan.


"Kiri!" sahut Cecilia menunjuk ke arah kiri, dimana kawasan itu cukup terkenal karena banyaknya klub klub malam dan juga tempat karoke. Dia juga melirik sekilas ke arah Irsan, "Aku akan ke klub!"


Irsan menoleh lagi ke arahnya, "Lebih baik kamu gak usah ikut."


"Ada urusan apa kau pergi ke klub! Ini masih siang." ujar Irsan dengan menatap jam tangan di pergelangan tangannya.


Cecilia terkekeh, "Pergi ke klub gak harus malam! Jam segini udah buka, pegawai klub udah datang dari sore."


Cecilia memejamkan matanya, Irsan benar benar polos dalam hal ini, sangat berbeda dengannya. Ditambah, dia tidak perlu menunggu klub buka hanya untuk datang. Cecilia sudah memiliki kartu esklusif untuk datang kapanpun dia mau ke sana.


"Lebih baik kau pulang! Aku ingin minum." Dengusnya pelan, lalu menoleh ke arah Irsan yang kini berdecak pelan, "Aku gak suka di larang! Terlebih untuk yang satu itu. Kau boleh turun di sini dan gak usah ikutin aku."


"Cecilia! Minum itu gak baik buat kesehatanmu. Sudah berapa kali aku katakan."


"Udahlah ... Ceramahnya nanti aja! Otakku mumet ... Dan kamu gak bisa ngatur ngatur hidup aku oke sayang!" dengusnya sambil memejamkan mata. Sudah 24 jam dia menahan diri dan tidak minum alkohol sama sekali, dan fikirinnya cukup kacau saat ini karena ulah pria yang duduk di sampingnya kini.


Irsan yang hanya bisa menghela nafas tanpa bisa melarangnya, dia mengikuti ke inginan Cecilia untuk pergi ke klub.


"Kau hidup dengan aturan! Sedangkan aku enggak, jadi akan sedikit sulit ke depannya!" Desis Cecilia dengan pelan, dan kedua matanya tetap terpejam.


"Kalau begitu mulailah dari sekarang! Aku akan tetap membantumu menjadi lebih baik lagi Cecilia."


"Ya ... Aku rasa begitu! Walaupun aku harus mulai dari nol lagi. Aku akan kembalikan semua yang di berikan Reno, walaupun harusnya itu sudah menjadi hak milikku. Reno berikan semua itu sebagai bayaran atas apa yang aku lakukan, aku menjual jasa Irsan." gumamnya lagi tanpa membuka kedua matanya.


Dan pria berusia 40 tahun itu bisa menatapnya lama lama tanpa di ketahui. "Aku akan berikan semua yang kau butuhkan Cecilia! Kau hanya perlu katakan padaku apa yang kau inginkan."


Cecilia mengulas senyuman tanpa membuka kelopak matanya yang masih betah terpejam itu.


"Kau akan berikan apa? Lucu ... Kau saja bilang padaku kau itu dokter yang gak punya apa apa, lagian yaa. Diantara kita gak ada perjanjian apa apa. Apalagi kontrak. Jadi gak usah muluk muluk mau kasih aku segala macam."


Mobil berhenti di sebuah klub xx, dimana klub itu saja masih belum buka. Cecilia baru membuka mata dan langsung bergegas keluar dari taksi yang dia tumpangi, begitu juga dengan Irsan.


"Bayar!" Ujarnya pada Irsan dengan telapak tangan yang menengadah. "Cepetan ... Suruh siapa ikut!"


Irsan lagi lagi hanya bisa menuruti perkataannya, dia merogoh dompetnya dari saku celana lalu mengambil beberapa lembar uang, lalu memberikannya.


"Ini kebanyakan! Kau tidak tahu argo taksi dari resto sampai kesini? Satu aja cukup." tukas Cecilia mengambil 1 lembar uang berwarna merah, lalu menyerahkannya pada supir taksi.


Dia juga merogoh ponsel miliknya dan menghubungi seseorang, sampai tidak lama kemudian. Ada seseorang yang membuka pintu masuk klub hingga terbuka.


"Mana minumanku!" ujarnya tidak sabar, gadis itu merangsek masuk tanpa memperdulikan Irsan yang lagi lagi hanya bisa menghela nafas.


Dia ikut masuk ke dalam klub yang masih sepi, bahkan kursi kursi masih tertata rapi di atas meja, hanya ada dua orang pegawai saja, dan salah satunya sepertinya seorang bartender.


Alih alih menuangkan wine ke dalam gelas, justru Cecilia menenggaknya langsung dari mulut botol, hingga suara tenggakannya terdengar jelas.


"Cecilia! Kau bisa mabuk kalau minum sebanyak itu!" Cegah Irsan merebut botol darinya.


"Udah deh! Aku lagi pusing tahu. Biarin aja aku minum sampe puas. Kamu kan tahu dari kemaren aku gak minum dan aku gak bisa tidur, ditambah aku lagi emosi, aku sebenernya udah pengen marah banget dan bales nampar Irene, tapi aku gak punya alasan buat ngelakuinnya, dan aku juga kesal sama kamu karena sikapmu yang sok tahu!" dengus Cecilia yang kembali merebut botol dari tangan Irsan dan kembali menenggaknya, "Kecuali kau punya solusi lain agar emosiku turun dan aku bisa tidur tanpa minum alkohol."


.


Hayolo mau minta apa Ce sama si tiang listrik so tahu itu? Wkwkwk....


2 bab dulu yaa ... othor ngegas lagi tapi nanti aja... Hihihi. Jangan lupa kasih dukungan ya cecelover.