
Irsan mengernyitkan kedua alisnya semakin curiga dengan apa yang dikatakan Cecilia.
"Apa maksud perkataanmu. Hm?"
Cecilia mengerjapkan kedua matanya, dengan cepat dia mengambil tas miliknya dan menyampirkannya di lengannua. "Ah ... Iya sayang, hari ini aku mau ke rumah Ibu. Aku pergi ya."
Irsan tentu saja langsung bangkit dan menahan pintu tepat waktu, semakin curiga dengan apa yang dilakukan Cecilia. "Duduk! Kau tidak bisa pergi begitu saja sebelum mengatakannya dengan jujur."
"Sayang, tapi akan aku mau nganterin oleh oleh untuk Ibu."
"Itu bisa nanti! Aku juga pasti akan mengantarkanmu! Jadi bicaralah yang jujur apa yang kau tahu tentang mereka berdua."
Cecilia melingkarkan tangan pada lengannya, "Astaga sayang,"
"Kau memilih aku menghukummu untuk menutupi mereka?"
"Coba bilang hukumannya apa? Kali aja bikin aku berubah fikiran dan milih jadi penghianat!" Cecilia terkekeh.
Sementara Irsan mendengus, "Sayang ... Ini tentang sepupu kita, kau akan membiarkannya? Bagaimana kau ini!"
"Ya karena menurutku itu masih wajar aja sih! Lagian aku lihat mereka mau sama mau, gak ada yang maksa dan terpaksa!"
Irsan berdecak, semakin paham ke arah mana perkataan sang istri. Dan sejurus kemudian Cecilia kembali terkekeh.
"Maksudku ... Udahlah sayang, kita juga sebelum nikah udah ngelakuin hal itu bahkan lebih dari itu. Lagian ya...!" ucapan Cecilia terjeda begitu saja karena Irsan lebih cepat membuka pintu.
"Sayang! Astaga ...!" Cecilia menyusulnya keluar dan mengikuti langkahnya yang menuju ruangan Tristan.
Gadis berambut panjang itu dengan cepat menahannya. "Hey ... Hey, sayang ... Dengerin aku. Tahan tahan ... Jangan emosi dulu. Biar aku yang ngomong sama mereka ya, kalau kamu yang ngomong yang ada mereka kaget dan shock! Aku aja ... Oke, oke sayang."
"Tolong minggir, akan hanya akan bicara pada Tristan sebagai seorang pria."
Cecilia masih menahan tubuh suaminya itu yang ingin terus berjalan ke arah ruangan Tristan, sampai beberapa suster dan rekan sejawatnya heran saat melihat tingkah mereka berdua.
"Sayang, mereka ngeliatin kamu tuh! Nanti di kira kamu gak profesional. Kita bicara setelah selesai praktek ok?"
Cecilia memang pintar memanfaatkan situasi pada saat itu, terlihat Irsan menghela nafas namun dengan raut wajah yang tidak berubah sama sekali. Dia mendorong suaminya agar kembali ke ruangannya sebelum hal hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Aku akan atur jadwal supaya kalian bisa bicara setelah pulang dari sini oke sayang. Sekarang tahan emosi. Tahan ... jangan sampai masalah ini bikin reputasi rumah sakit jadi bintang satu alias tidak ramah. Oke sayang!" Ujar Cecilia terus berusaha menenangkan Irsan, menyuruhnya duduk dan memijit kedua bahunya dengan lembut.
Irsan mulai tenang, terlihat dia menghela nafas berkali kali agar emosinya kembali stabil. Terlebih kini ada seseorang yang membuatnya rileks.
"Enak kan pijitanku?"
"Hm ...! Aku baru tahu kalau kau pintar memijat!"
Cecilia terkekeh, Jangan salah ... Ini dulu adalah jurus andalan untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi, sekali sentuh, gendut dompetku. Kalau sekarang, aku hanya melakukannya karena gak mau bikin rusuh. Gak kebayang Kamu marah sama Tristan gara gara hal yang mereka lakuin atas dasar suka dan mau. Bisa bisa rusuh juga kamu nanti sama kak Ines. Haduuhh ... Batin Cecilia.
Pijatan Cecilia berhasil membuat Irsan tenang, bahkan pria itu lupa berkas pasien yang harus dia tanda tangani di mejanya. Bahkan kedua matanya kini terpejam menikmati gerakan Cecilia di titik titik syaraf tegangnya.
"Sayang, jangan keenakan dong! Dulu tiap aku mijit, aku dapet uang tambahan." Cecilia tidak lagi malu mengatakannya.
"Kau bahkan bisa memberimu lebih dari apa yang kau dapatkan dulu!"
"Ya ... Aku tahu, tapi aku boleh kan minta satu aja kali ini?"
Irsan membuka matanya kembali, menarik pinggang sang istri dan mendudukkannya di pahanya. "Apapun yang kau minta!"
"Janji?"
Cecilia merengut dan memukul dada bidang suaminya. "Iih ... Aku belum ngomong kok udah tahu aja sih!"
"Bodoh! Aku suamimu ... Yang tahu segala apapun yang kau fikirkan, sekalipun aku tidak bisa seperti pria lain saat menunjukannya! Aku tahu isi kepalamu bahkan aku tahu isi hatimu."
"Uluh ... Uluh ... Makin makin deh kamu!" Cecilia melingkarkan kedua tangannya pada leher suaminya itu.
"Benarkan?"
Cecilia mengangguk, raut wajahnya kini berubah sendu. "Itu karena aku gak mau kejadian terulang kembali, aku udah kehilangan Nita. Sahabatku sendiri yang sampai hari ini aku gak tahu dimana dia. Waktu itu kejadiannya mirip mirip ... Hanya karena aku terang terangan bilang aku gak suka kalau dia berhubungan sama Carl. Dia marah sampai bilang gak mau peduli lagi sama aku, gitu pun sebaliknya! Jadi aku gak mau kamu terlalu keras sama kak Ines ... Aku gak mau dia marah dan hilang gitu aja kayak Nita."
Irsan menyempilan anak rambut di sela telinganya, lalu mengelus kepalanya. "Ya ... Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku akan menurut padamu. Jadi jangan sedih lagi ya. Seperti apa yang aku katakan, jika sudah waktunya mungkin Nita akan kembali. Kita doakan saja semoga dia baik baik saja."
Cecilia mengangguk, sampai detik ini masih terus berharap Nita kembali dan bicara semua padanya. Menjelaskan apa yang menjadi kesalahannya selama ini sampai membuatnya memutuskan pergi.
"Jangan sedih lagi. Kita akan terus mencari tahu dimana Nita berada."
Cecilia kembali mengangguk dengan menelengkupkan kepalanya di ceruk leher suaminya. Sementara Irsan mengelus punggungnya dengan lembut.
"Aku akan bicara pada Tristan dan kak Ines dulu ya."
Irsan mengangguk setuju. Menghapus jejak basah dimata Cecilia.
"Kenapa masih bawa kesedihan, bukankah sudah di buang semua di puncak!"
Cecilia mencubit pipi Irsan, "Ih ... Apaan garing banget!"
Irsan terkekeh, melupakan emosi sesaatnya tentang Tristan dan Ines. Dan membiarkan istrinya yang bicara lebih dulu. Gadis itu pun bangkit dan berlalu keluar setelah mendaratkan kecupan hangat di pipi Irsan.
Sementara Tristan yang kini bersiap siap untuk pulang, jadwal prakteknya sudah berakhir kini waktunya kembali pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Begitu juga Ines yang terlihat merapikan riasannya.
Tok
Tok
Tok
"Kalian gak lagi indehoy in the room kan?" ujarnya dengan membuka celah pintu dan mengintip sedikit.
"Astaga! Kau ini mengagetkan saja!" Ines berdecak.
Sementara Tristan menggelengkan kepalanya. "Tumben sekali ketok pintu!"
Cecilia baru berani membuka pintu lebar dan melangkah masuk ke dalam. Dengan bibir yang di kulum beserta menahan senyuman.
"Aku kesini hanya untuk minta maaf, sepertinya usahaku gagal dan gak bisa bantu kalian buat rahasia kita tadi, suamiku mungkin udah tahu apa yang terjadi walau gak gitu jelas. Jadi kalian harus siap siap ya! Apapun yang terjadi, kalian harus fight. Oke?"
Dua orang di depannya kembali tersentak, hal yang di takutkan Ines.
"Terutama lo!" Tunjuk Cecilia pada Tristan. "Jangan bikin aku kecewa, lo faham. Gue udah bantu lo dari awal, jadi buktiin kalau pria sejati! Jangan cuma bengong mirip orang bego kayak tadi. Nih gue udah kasih tahu ya, siapin diri lo kalau sewaktu waktu senior lo nanya tentang keseriusan lo sama sepupunya!"
"Ce ... astaga. Kamu malah bikin aku takut!" celetuk Ines yang memukulkan tas brandednya tepat di bokong Cecilia.
"Awww...!"
Tristan menghampiri Ines dan memeluknya dari belakang, raut wajahnya sudah berubah dari pada tadi. "Tenang saja! Aku siap kok kapan pun senior bicara tentang masa depanku!"
"Bagus. Jangan sampe malu maluin gue! Gue udah bela belain dari tadi!"