I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.90(Bukan sekedar nafsu)



"Lain kali biarkan aku yang memulainya."


Cecilia mendelik sinis, dengan menggerutu pelan, "Sampai jamuran aku nungguin kamu bergerak, ngeselin."


Irsan mengulas senyuman. Ibu jari menyapu bibirnya lembut, "Kenapa di otakmu hanya hal hal mesum seperti itu Cecilia?"


Cecilia membuka mulutnya sedikit, menjulurkan lidah menjilat ibu jari Irsan hingga pria itu tersengat sesuatu. Entah kenapa desiran di dalam tubuhnya semakin menyeruak.


"Otakku emang mesum, apalagi ada rasa." jawab Cecilia dengan jujur. "Kau tahu itu ... Aku tidak suka basa basi."


Irsan merekatkan tangan disela lehernya dan menariknya pelan, lalu menyambar bibir Cecilia yang manis dengan wangi cherry. Menyusupkan benda tanpa tulang ke dalam rongga indera pengecap itu. Mereka akhirnya saling membelit, pagutan yang benar benar lembut dan membuat keduanya terbuai.


Cecilia mencondongkan tubuhnya agar bisa merubah posisinya lebih nyaman, lalu dia naik dengan kedua kaki terbuka menghadap ke arah Irsan. Irssn menariknya agar dia kembali terduduk hingga benda menegang miliknya beradu dengan pusat inti milik Cecilia.


Kedua pasang mata terpejam, saat ciuuman semakin dalam dan lebih dalam lagi. Gadis itu melenguh disela pagutan lembut kedua benda basah. Dia bahkan mengarahkan tangan Irsan agar menyentuh benda bulat yang semakin membusung hebat.


Irsan tampak ragu menyentuhnya, namun lagi lagi dia kalah dalam permainannya sendiri. Ucapan yang tidak lagi bermakna yang selalu di umbarnya dimana dia tidak ingin ada kontak fisik. Semuanya berubah, bak zat adiktif yang memabukkan dan membuat candu.


Tangan Irsan mulai bergerak lembut, meremass dua benda seukuran tangan milik Cecilia. Sampai membuat gadis itu semakin menggelinjang.


Eeeughmmmm


Suara decakan demi decakan bagai harmoni yang semakin membuat keduanya tidak terkendali. Cecilia membuka satu persatu kancing kemeja yang dikenakan Irsan. Menyentuh dada yang bidang serta tonjolan kecil berwarna hitam yang membuat has rat Irsan kian membungbung tinggi.


Gigitan kecil tak terelakkan lagi, Irsan benar benar dibuatnya gila saat Cecilia menggerakkan tubuhnya dengan perlahan, membuat benda menegang miliknya semakin menggeliat hebat didalam celana.


Tangan Irsan menyusup masuk kedalam sela t-shirt membuka kaitan kain penutup benda bulat dan melepaskannya begitu saja.


Eeuggh


Keduanya kembali melenguh, terlebih Cecilia saat kedua tangan kekar bermain main di dada miliknya, menyentuh daerah sensitif dan bahkan memilin tonjolan berwarna pink yang membuatnya kehilangan kendali diri. Gadis itu menarik kepala Irsan, membenamkannya ke dalam dadanya.


Ssshh


Suara merdu khas bercintta berkali kali keluar dari bibir Cecilia, apalagi saat Irsan mencecap benda bulat dengan rakus, serta tangan satunya bermain naik turun dan meremasss benda bulat satunya lagi.


Irsan bahkan sudah mulai menggeram pelan, dia menyandarkan pungungnya agar lebih leluasa lagi untuk Cecilia bergerak lembut diatas tubuhnya. Hanya pakaian bagian bawah yang belum terlucuti, namun rasanya kedua benda tegang miliknya sudah tidak lagi bisa menahan.


Irsan akhirnya bangkit, membawa Cecilia dipangkuannya dengan kembali memagutnya lembut, kedua tangannya merekat di bokong sintal miliknya, berjalan mengikuti kemana kakinya melangkah. Sampai akhirnya mendudukkannya di meja makan.


"Ayo ke kamar aja." pinta Cecilia dengan suara lirih, mengigit lembut bibir Irsan menuntun lebih.


Tidak ada jawaban dari mulut Irsan, otaknya tengah berfikir keras apa dia harus melakukannya lagi atau berhenti sampai di situ saja, namun gerakan tangannya serta cecapan nya tidak juga mau berhenti.


Cecilia membuka pelan ikat pinggang yang melingkar, kemudian menurunkan resleting celana yang dikenakan Irsan. Memperlihatkan benda keras yang semakin menonjol dibalik kain penutupnya.


Irsan menggelengkan kepalanya pelan, menahan tangan Cecilia yang hendak melorotkan kain terakhir ditubuhnya.


"Kenapa. Bukankah kau pacarku? Apa kau gak serius dengan perasaanmu."


Sesungguhnya Cecilia tengah merasa malu, hanya Irsan yang menolaknya dan memilih berhenti saat has rat bercintta nya melambung tinggi, persis seperti dirinya yang hanya mengundang has rat pria pria kesepian tanpa menuntaskannya.


"Bukan seperti itu Cecilia. Perasaanku padamu bukan sekedar nafsuu atau hanya ingin bermain ranjang belaka. Kau mengerti. Hem?" jawab Irsan yang kini merapikan rambut Cecilia. Merapikan kemeja yang dikenakan Cecilia dan mengancingkannya.


"Cinta tanpa nafsu apa jadinya kalau gitu?" tanya Cecilia dengan kedua alis mengernyit, dia benar benar tidak paham ada pria yang berfikir seperti Irsan.


"Kalau cinta itu menjaga Cecilia ... Bukan merusak, apalagi menghancurkan. Nafsu itu manusiawi, tapi kalau perasaanmu benar benar tulus kau bisa mengendalikan nya. Ah ... Bukan kau saja, tapi kita yang harus bisa mengendalikannya. Oke." Terang Irsan mengelus lembut kedua pipi Cecilia.


Mana ada orang yang berfikiran sama kayak kamu di zaman sekarang kecuali para ahli ibadah atau ustad ustad, kalau gue ya nafsu duluan, cinta sih cinta. Tapi yang dosa itu justru lebih nikmat kan. Aaah sial ... mau heran tapi ini beneran ada. Batin Cecilia ikut menyangkal. Namun dia juga tidak bisa melakukan apa apa.


"Aku benar benar ingin menjagamu, jadi kita tidak bisa melakukannya lebih dari ini. Kau paham Cecilia?"


"Kau pasti jijik padaku. Iya kan?"


Irsan menggelengkan kepalanya, "Kalau aku jijik aku mungkin sudah menjauh dari mu sejak dulu, bahkan aku akan pindah tempat tinggal agar tidak lagi bertemu denganmu, tidak akan menarikmu keluar dari klub saat kau melakukan hal sialan itu." Irsan mendengus pada akhirnya saat ingat tarian Cecilia yang di tonton banyak pria. "Aku juga tidak akan mencampuri urusanmu jika aku tidak peduli denganmu."


"Heh ... Kenapa kata katamu manis banget! Gak usah manis bisa kan?"


Irsan memeluknya, "Kau tidak percaya?"


Cecilia menggelengkan kepalanya, "Kau itu tiang listrik, gimana bisa ngimongin hal semanis itu."


Irsan tergelak, pertama kalinya Cecilia melihat tawa renyahnya. Membuatnya tertegun tidak percaya terlebih apa yang di ucapkannya.


"Kau benar benar tidak percaya apalagi aku. Tapi apa yang aku katakan itu benar benar, itu yang aku rasakan Cecilia. Aku bisa jujur sekarang."


Wajah serta tatapan Irsan berbinar, apalagi senyuman yang saat ini lebih sering dia lihat dari sebelumnya. Satu hal yang baru Cecilia pelajari seumur hidupnya saat ini. Cinta itu ada. Bukan soal uang apalagi nafsu belaka.


Ya ampun lama lama gue makin cinta sama nih orang.


***


Pagi pagi sekali Ines sudah berada di depan pintu unit milik Cecilia, wanita berusia 27 tahun itu


Ines menangis tersedu saat dia melihat video Satya yang menjadi viral, Cecilia yang menghancurkan semua kaca mobil dan juga Irsan disalah satu akun di sosial media miliknya.


"Benar benar brengsekk ... Dia menipuku! Dia benar benar sialan!! Dasar kurang ajar, penipu." rutuk nya dengan terus mengertuk pintu.


Pintu terbuka, Cecilia yang baru saja terbangun itu sontak kaget.


"Kak Ines?"


"Tolong bantu aku Cecilia."