
Mereka berdua akhirnya harus kembali pulang, sesuai rencana Irsan yang harus kembali ke rumah sakit. Menyudahi acara honey moon diluar ekspetasi Cecilia dan paling berbeda di antara yang lainnya. Lukisan yang akan menjadi kenangan tidak terlupa serta rumah masa kecil Cecilia yang penuh dengan kenangan buruk
Dua kenangan yang dimana salah satunya harus dilepaskan agar Cecilia kembali bisa hidup dengan normal. Mengatakan takut jika memang merasa takut, mengatakan sedih jika merasa sedih. Cukup lama Cecilia terdiam di dalam mobil, perjalanan pulang yang terasa lebih lama.
Sesekali irsan hanya menoleh sebentar lalu kembali menatap ruas jalan.
"Apa aku keterlaluan?" cicitnya.
Cecilia meggelengkan kepalanya, lalu menyandarkannya di lengan sang suami.
"Enggak ... Tapi semua yang kamu bilang itu bikin aku gak bisa ngomong apa apa, semua itu benar dan aku gak sadar aja. Ah ... Jadi Aku belajar banyak dari mas dokter."
Irsan tersenyum, "Jadi kau merasa lebh baik sekarang?"
"Ya iyalah Mas sayang, walaupun aku masih gak percaya aja kalau kamu bisa sedalam itu ngomong. Aku bahkan gak pernah nyangka kamu bisa ngelakuin hal semanis itu, jarang banget tahu yang mikir sejauh itu! Dan kamu wajib aku kasih hadiah!"
"Hadiah?"
"Hm ... Hadiah istimewa!"
Irsan menoleh, saat Cecilia berbalik dan memunggunginya. Sedetik kemudian kembali menghadapnya dengan tersenyum.
"Taraaaa!" ucapnya dengan menunjukan beberapa lembar foto.
Ckittt!
Pria itu menginjak pedal remnya dengan cepat saat melihat apa yang di pegang oleh sang istri dengan terus tertawa.
"Kau!"
"Astaga! Untung gak kejedot!" Cecelia memegangi seat belt miliknya.
"Ini kenang kenangan dari aku. Tadinya aku mau buang, tapi sayang. Ini lucu dan bikin gemas."
"Kenapa kau memiliki foto seperti itu?"
"Ini foto lama!" Gadis itu tidak berhenti tertawa gemas.
Irsan mendengus, kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Katakan padaku jika kamu siap pergi ke rumah itu, aku akan mengantarkanmu. Kalau perlu kita ajak ibumu!" ucapnya mengalihkan pembicaraan, jujur tidak ingin membahas foto lama itu.
Cecilia mengangguk kecil saja, tawanya juga sedikit menghilang. Sejujurnya dia sebenarnya tidak ingin kembali ke rumah itu lagi. Rumah dimana dinding dan atapnya menjadi saksi bisu saat dia menangis kesakitan, saat Cecilia kecil berteriak marah Namun tidak ada yang memahaminya.
"Iya sayang, bawel banget sih. Aku ngerti dan aku faham kenapa kamu ngelakuin itu kan? Kamu ingin kita seera punya anak kan?" Cecilia terkekeh lagi dengan mengibaskan lembaran foto itu tepat di wajahnya, sifatnya memang berubah ubah dengan cepat. Gampang tertawa dan mampu menutupi kesedihannya sendiri.
Irsan menoleh dengan tajam, dan Cecilia menutup mulutnya. "Buang foto itu!"
"Astaga ... Serem banget deh, ini kenang kenangan kita sayang, jangan di buang."
"Mana ada kenang kenangan macam itu! Kemarikan, akan aku bakar foto menjijikan itu!"
"Ih enak aja menjijikan, ini bukti kalau kamu itu...!"
"Cecilia! Hentikan, kau mulai membuatku marah!"
Masih dengan tertawa Cecilia mencubit pipi Irsan dengan gemas.
"Aku hanya bercanda." ujarnya lalu menyimpan foto foto itu ke dalam tas miliknya.
"Kita sedang bicara serius tapi kau terus bercanda!"
Cecilia terkekeh. "Maksudmu baik kan agar aku bisa hidup lebih baik dengan memaafkan diri aku sendiri di masa lalu, penderitaanku, teriakanku, dan keseihanku. Iyaa kan? Aku ngerti ... ngerti kok ... Mulai deh galak lagi,"
"Kalau kau mengerti tujuanku seperti itu kenapa malah terus bercanda?"
"Astaga ... Biar gak tegang aja sayang! Dari kemarim aku udah nangis nangisan, tapi nangis dan lega ya itu!"
Irsan hanya menoleh saja sebentar.
"Dih ... Aku yakin banget nih aku gak bakalan lulus di kelas kalau kamu jadi dosennya, gak seru ..." Cecilia ingat dulu sempat iri pada sahabatnya dan ingin Irsan ada di kampusnya, tapi sekarang tidak.
"Benarkah? Bukankah kau ingin sekali aku ada di kampus dan terlihat keren."
"Gak usah! Kamu udah keren kok! Beneran."
"Bukannya Zian yang menurutmu paling keren? Aku ingat betul bagaimana kau memuji pria bodoh itu." Dengusnya.
Cecilia terkekeh, "Maaf sayang, dulu ku fikir dia memang hebat, tapi sekarang kamu yang terbaik!"
Irsan tersenyum kearahnya dengan terus mengemudikan mobilnya. "Jadi aku sekarang adalah yang terbaik?"
"Tentu aja! Laki nya Nia itu mah gak ada apa apa dibandingkan denganmu!"