
"Kau sudah punya Istri?"
Tristan terdiam, dia hanya menatap Ines lalu menatap Cecilia dan juga Irsan.
"Ayo jawab! Ngapain planga plongo kayak gitu!" ucap Cecilia.
"Aku sudah punya calon istri." jawab Tristan jujur. "Aku akan segera menikahinya dalam waktu dekat ini."
Semua orang tersentak, tak terkecuali Ines dengan hati mencelos, Tristan menatapnya, lalu menatap Irsan dan juga Cecilia. Tak lama dia menghembuskan nafas.
Sepasang suami Istri itu saling menatap, lalu bersamaan menatap Ines yang terlihat berkaca kaca.
"Masih calon kan?" Cecilia mengeluarkan suaranya. "Tenang kak Ines, masih ada harapan. Calon boleh siapa saja, tapi pemenangnya belum ditentukan. Ayo semangat ... Aku akan bantu kak Ines." ucapnya lagi dengan penuh semangat.
Irsan berdecak, "Kau ini!"
Tristan mengulas senyuman tipis pada Ines, dan yang ditatap justru memalingkan wajahnya ke arah lain.
Wajah Ines jelas terlihat kecewa.
"Aku tidak peduli, kalau menikah ya menikah saja, dan aku tidak mau merebut si monyet itu dari calon istrinya. Untuk apa? Aku juga sudah punya pacar."
Pria berusia 30 tahun itu bangkit dari duduknya, "Sayang sekali, sepertinya aku sudah harus ke ruangan praktekku sendiri. Kopiku juga sudah dingin, senior ... Istri Senior," Tristan kembali menatap Ines. "Vannes ... Aku duluan!"
Tristan melangkah ke arah pintu, namun kembali menoleh ke arah belakang dan menaik turunkan alis ke arah Cecilia. Sementara Ines masih enggan menatapnya, dia bersikap tidak peduli pada Tristan yang kini membuka pintu dan keluar.
"Yaah ...! Kak Ines." cicit Cecilia menatap Tristan yang sudah menghilang di balik pintu. "Kak ...?"
"Biarkan saja, toh dia sekarang bukan siapa siapa aku!" cetusnya kesal.
Cecilia menyenggol lengan Irsan, dan kali ini Irsan sudah faham, dia menoleh pada Ines yang mencebikkan bibirnya.
"Ini sangat rumit!"
"Ya ..., kecuali kau bisa menggagalkan pernikahan Tristan dan calon istrinya!"
"Kau jangan gila!" dengus Irsan, "Aku tidak mungkin melakukan hal seperti itu!"
"Yaaah ... Gimana dong kak! Sepupumu ini gak bisa diajak kompromi, gak asik, padahal kan dia---"
"Aku mau pulang saja!"
"Eeh ... Jangan, kita kan mau nonton. Ya kan sayang?"
Ines menggelengkan kepalanya, "Aku tidak minat, kalian berdua saja."
"Coba ada Tristan, pasti kak Ines minat kan?" Cecilia terus menggoda wanita berusia 27 tahun itu, walaupun berulang kali dia menggelengkan kepalanya, namun membuat Cecilia semakin yakin jika Ines masih menghadapkan Tristan.
Ines melangkah keluar, disusul oleh Cecilia yang langsung melingkarkan tangan pada lengannya.
"Kak ... Coba ceritakan kisah cinta kak Ines dulu sama Tristan dong. Aku pengen denger."
Ines mendengus, "Aku tidak mau membicarakannya. Kau tanya dia saja!"
"Oke ... Siapa takut,"
Cecilia berbalik kearah berlawanan walaupun dia belum tahu dimana ruang prakteknya saat ini. Jangan coba coba memancing gadis super nekat itu jika tidak berani mengimbanginya.
Ines terkesiap, dengan cepat dia menarik tangan Cecilia agar kembali berjalan dan tidak menghiraukan ucapannya.
"Eeeh ... jangan Ce! Buat apa?"
"Kan tadi Kak Ines yang suruh aku tanya langsung sama Tristan." Cecilia terkekeh, pançingannya berhasil.
"Tidak usah lah, dia akan segera menikah! Aku tidak mau." Ines terus menarik Cecilia agar tidak pergi apalagi bertanya pada Tristan.
Cecilia terkekeh lagi, lalu menoleh ke arah belakang.
"Padahal udah lama ya gak ketemu sama Tristan, Kak Ines degdegan gak?"
Ines mengangguk, "Banget Ce ... aku seperti mimpi ketemu dia lagi di sini. Dan kamu bener, aku memang masih berharap sama Tristan."
Cecilia mengulas senyuman. "Dan Tristan udah mau nikah sekarang. Kak Ines pasti sedih, tapi kalau kak Ines masih mau usaha, aku mau bantu."
Ines menatap Cecilia dengan wajah yang serius.
"Caranya?"