
"Aku gak ada maksud membanding bandingkanmu dengan orang lain. Aku juga...."
"Aku mengerti Cecilia! Sudahlah, lebih baik kita memikirkan hal yang lain yang lebih penting lagi daripada masalah itu." tukas Irsan yang tidak ingin memperpanjang masalah.
Masalah dengan Ibunya saja sudah cukup rumit, dia tidak ingin mengurus masalah yang menurutnya tidaklah penting, terlebih dia merasa tidak mengenal siapa yang dibicarakan kekasihnya itu.
Lihat saja apa yang bakal aku lakukan setelah tahu kalau Ibu ternyata ada maunya, ku fikir Ibu sedang belajar menerimaku dengan bersikap baik padaku sejak tadi. Ternyata aku salah kalau sikap baikmu itu karena benar benar tulus. Dasar .... Cecilia membatin kembali, merasa kecewa atas perlakuan ibunya dan dia benar benar tidak menyangka.
"Terus apa yang akan kau lakukan sekarang? Apa kau benar benar akan ke perusahaanmu, lalu praktekmu?"
"Mungkin aku akan mulai praktek di sore dan malam hari, pagi aku akan berada di kantor." jawab Irsan yang melajukan mobil menuju basement apartemen.
"Itu pasti capek! Kau juga akan kehilangan waktu sama aku."
"Tidak masalah bagiku, aku melakukannya agar kita tetap bersama. kau akan tetap di sisiku. Hm."
Cecilia menyandarkan kepalanya di bahu Irsan, "Sweet banget sih pacar aku, tapi aku gak bisa diam aja disaat kau kerepotan dan terus berjuang demi kita."
"Apa maksudmu?"
Cecilia keluar dari mobil, lalu dia mengeluarkan beberapa paperbag yang berisi tas dan juga pakaian yang di belikan Embun untuknya. "Aku akan membantumu."
"Bagaimana caranya?"
Cecilia menutup pintu belakang, lalu menunggu Irsan yang berjalan ke arahnya.
"Baru akan aku fikirkan caranya nanti." ujarnya dengan tersenyum.
Mereka berdua pun mengayunkan kedua kaki menuju lift, dengan barang barang yang kini dibawa oleh Irsan, sementara Cecilia berjalan melenggang saja.
"Heh. Sini lo!"
"Nit ... Ngapain lo di sini." Cecilia terkaget saat melihat sahabatnya yang berdiri didepan pintu lift.
"Lo fikir gue ngapain kesini? Lo bikin gue nunggu selama 2 jam tanpa kabar, gue kelaperan karena sengaja gak pesen makanan dulu dan malah nungguin lo! Sialan lo emang." sentaknya dengan marah.
Cecilia melirik ke arah Irsan yang hanya berdiri mematung menatap Nita, sementara Nita pun menatapnya dengan ketus.
"Sorry Nit ... Gue tadi pergi dadakan dan lupa sama lo!"
"Kebangetan lo sampe lupa sama gue."
Irsan menghela nafas, rasanya tidak begitu penting dia berada di sana dan mengurusi masalah persahabatan.
"Aku naik duluan!"
Cecilia mengangguk, "Hm ...!"
Irsan kembali melangkahkan kedua kakinya dan menghilang di balik pintu lift, sementara Cecilia menarik tangan Nita dan membawanya ke arah basement dan menuju mobil Nita.
"Apa lo! Ngusir gue."
"Lo kenapa sih aneh banget, heran gue."
"Ya lo kenapa!"
"Gue kan udah say Sorry sama lo, kalau udah selesai gue bakal nemuin lo nanti."
Nita menatapnya dengan menelisik pada sahabatnya itu yang membawa barang barang belanjaan ditangannya.
"Shoping gak ajak ajak gue lo!"
"Eh ini dikasih sama Ibu."
"Ibu. Ibu lo?"
"Ibu Embun Nit! Tapi gue mau balikin nih barang, enak aja dia mau nyogok gue dengan barang ginian!"
Nita mendengus dengan melipat kedua tangan di dadanya, "Alah terima aja sih! Lo juga seneng kan dikasih, apalagi itu tuhh!" tunjuknya pada salah satu paper bag dengan merek ternama. "Gak mungkin itu barang KW kan."
"Lo mau lihat pake mata lo sendiri kalau gue bakal balikin nih barang? Gue gak suka di giniin, gue kira dia udah nyoba nerima gue dengan tulus. Tapi nyatanya malah ada udang dibalik bakwan."
"Lah ... Gue belum cerita sama lo ya, kalau gue tadi tuh gak niat sama sekali pergi apalagi ninggalin lo! Tapi tiba tiba Ibunya Irsan ngajak gue makan siang bareng, dia nerima gue juga hubungan gue sama anaknya, juga masa lalu gue. Tapi nyatanya itu dia lakukan agar anaknya balik ke perusahaan." terang Cecilia menceritakan semuanya pada Nita.
Kedua manik Nita membola, "Tunggu! Apa Irsan emang bener bener di suruh ke perusahaan?"
Cecilia mengangguk, "Huum!" menyandarkan punggungnya tepat di mobil milik Nita.
"Dan Irsan biarin lo pergi sama Ibunya itu?"
"Awalnya nolak, tapi ibunya ngeyakinin dia kalau gak akan ngelakuin apa apa sama gue."
"Apa di sana juga ada Carl?"
"Carl?"
Nita mengangguk, "Heeh Om Carl?"
"Om Carl? Sejak kapan lo panggil dia Om!"
"Sebenernya .... Carl sempet tanya tanya gue tentang lo dan hubungan lo sama tuh tiang listrik!"
Cecilia tersentak kaget, "Buat apa?"
Nita mengerdik, mengingat beberapa hari yang lalu Carl menemuinya di apartemen hanya untuk mengajaknya makan siang.
"Om gak salah ngajakin aku makan siang?" tanya Nita kala itu.
"Tidak! Memangnya aku salah mengajak seorang gadis cantik untuk makan siang?" jawabnya dengan tersenyum.
"Tapi aku baru aja makan kok Om. Jadi makasih atas tawarannya." Nita menolaknya dengan halus karena dia memang sudah makan siang.
"Kalau begitu kau temani aku saja ... Kita minum kopi atau sejenisnya. Please?" ajaknya kala itu.
Dan disanalah Carl bertanya banyak hal mengenai Cecilia, pertanyaannya jelas tidak secara terang terangan, tapi justru dengan cara memancingnya.
"Mampus!"
"Apanya yang mampus?"
Nita berjalan mondar mandir, "Gue fikir ini ada hubungannya sama Carl, secara dia tanya tanya banyak hal tentang lo sama gue, dia juga bilang kalau hubungan lo sama Irsan gak disetujui karena latar belakang lo."
"Carl?"
"Huummm! Gue fikir gitu, secara dia bilang kalau Embun mau misahin lo dan Irsan gimana pun caranya. Tapi berbanding kebalik sama ucapan lo tadi. Aaah sial ... Kenapa gue malah kesini, gue pasti lo libatin nih!" desis Nita.
Cecilia memicingkan kedua mata ke arah Nita, "Seberapa deket lo sama Carl?"
"Enggak kok! Biasa aja, emang dia baik dan tampan, tapi mainannya banyak!"
Cecilia berdecak, lalu mengayunkan kedua langkah kakinya, "Gue harus nemuin dia!"
"Ce ... Tunggu gue! Lo jangan gegabah nemuin dia! Bisa mampus nih gue,"
"Kenapa? Lo kan gak ada hubungan sama dia. Ati ati lo ... Lo masih ke iket kontrak sama tuh Dosen, kalau ketauan lo asa maen di belakangnya. Mampus lo!"
Nita menghentikan langkahnya sesaat lalu kembali mengejarmya dengan ikut masuk kedalam lift.
"Sumpah ... Gue gak ada hubungan sama Om Carl!"
"Ya udah ... pokoknya gue bakal nemuin dia buat nanya semuanya. Dia nih pasti otaknya, dia bakal dengan mudah dapet informasi apapun,"
"Tapi lo jangan bilang dari gue ya! Please ....!"
Cecilia yang bersandar didinding lift pun menoleh ke arah sahabatnya itu.
"Kenapa?"
Nita terdiam.
"Kenapa gue tanya? Jangan bilang lo ngarep sama tuh Om Om juga?"