I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab. 241(Seratus kali)



Cecilia tentu saja terperangah, mengerjapkan kedua mata cantiknya lalu tersenyum saat mendengar ucapan Irsan. Pria itu kini terus memperlihatkan sifatnya yang sebenarnya, tidak hanya pemarah, pendiam dan penyayang namun juga jago soal ranjang. Entah dari mana dia belajar, atau hanya berpura pura bodoh saja Cecilia tidak tahu. Yang jelas, Irsan melakukan apa yang ingin dia lakukan karena Cecilia sudah resmi jadi istrinya.


Pria berusia 40 tahun itu bangkit, kembali mengkungkung tubuh polos Cecilia tanpa keraguan, kembali memancing hasratt dengan tangan bergerilya kemana mana, kecupan kecupan hangat mendarat disembarang tempat, dan sesekali mencecap meninggalkan tanda kemerahan yang sudah pasti terlihat jelas sebab berada di atas kulit putih bening milik sang istri.


Cecilia hanya melenguuh, kali ini dirinya tidak ingin menjadi sosok alpha seperti sebelumnya, saking terbuai dan terlena oleh gejolak yang kian menyeruak hebat, dan membuat sifat dominannya kalah. Desir demi desir silih memadu saat tangan Irsan menyentuh pusat inti miliknya yang hangat.


Gadis itu mendesahh lembut tepat ditelinga Irsan, mengecupnya sekilas dengan desahh yang semakin jelas. Membuat gairahh Irsan melonjak sekaligus. Tubuh polos dibawah kungkungannya meliuk liuk bergelinjangan, saat gerakan tangannya semakin terarah, tidak pelan dan tidak pula cepat. Ritme yang silih berganti sesuai gerak tubuh dan hasratt terpanggil yang kian mebahana, meronta bahkan tubuh Cecilia semakin membusung keatas


Suara khas bercinta kembali terdengar, memenuhi seisi ruangan yang kian bertalu talu merdu saat gerakan tangan Irsan semakin cepat lalu berhenti, rasa nikmatt menggantung begitu saja dan membuatnya mencelos, deru nafas serta dada yang naik turun sedikit kecewa namun kembali tersentak dengan tiba tiba saat Irsan menyelusupkan lidahnya ke bawah sana, mencecapnya lembut tanpa rasa jijik sedikitpun.


Eeeughh!


Gadis itu kembali mendesaah parau, saat tubuh indahnya semakin tersengat karena ulah pria yang membungkuk dengan menenggelamkan kepala membuainya dengan lembut di bawah sana.


Tidak dapat dihitung lagi seberapa banyak lenguhan keluar dari bibirnya, semakin membuat Irsan bergerak semaunya tanpa kendali.


"Wait on this one." gumamnya bangkit dengan dua lutut bertumpu, membuka kaki jenjang nan indah miliknya.


Dengan gerakan slow motion, Irsan kembali melesakkan senjata masuk kedalam sarungnya, menyentak kuat dengan ketegangan penuh. Cecilia sampai memejamkan mata saat Irsan kembali mengajaknya menari di angkasa, tidak banyak kata yang mampu melukiskan perasaannya kali ini, bahkan rasanya seorang pujangga pun hanya akan membisu kelu.


Aarrgghh!


Geraman tajam keluar dari mulut Irsan, saat senjata miliknya tenggelam didalam sana dengan sesuatu yang menjepitnya hangat.


Eeughhh!


Cecilia menggigit bibir tipisnya kala Irsan memompa lebih cepat, saking cepatnya hingga tubuhnya ikut berguncang hebat. Bak penunggang yang handal di lapangan pacu kuda, Irsan mengerahkan seluruh daya dan membawa Cecilia menuju puncaknya.


Aaahhhhhhhhhh!


Lenguhan panjang terdengar lirih, membersamai geraman yang tidak dapat tertahan lagi saat keduanya tiba dipuncak kenikmattan lagi ... Dan lagi.


"Aahhhh ... Kau belajar dari mana sayang? Katanya gak pernah ngelakuinnya." suara serak Cecilia terdengar saat keduanya saling merasai berbagai denyutan hebat di bawah sana.


Irsan masih memaju mundurkan tubuhnya pelan pelan, bibit bibit kehidupan menyembur hingga tetes terakhir, dan berakhir dengan melemahnya urat urat yang sedari tegang hingga ambruk tak berdaya.


"Itu alami dan mengalir begitu saja." sahutnya dengan pelan, kedua mata terpejam dengan dada bidang yang turun naik mengoptimalkan oksigen yang keluar masuk dengan cepat.


"Dan enak!" Imbuh Cecilia disertai gelakan tawanya.


"Dasar kau ìni!"


Bibir Irsan tersenyum, kala Cecilia menoleh dan menatap mata ke arahnya, mengecup ujung hidungnya dengan lembut. Gadis itu menggeser tubuh ke arahnya, mengelus dada bidang tanpa bulu dengan otot ototnya.


"Kamu hebat! Aku mengaku kalah padamu."


Irsan terkekeh, dengan mendekap tubuh polos sang istri, menjadikan lengannya sebagai bantalan kepalanya. "Siapa yang mengadakan pertandingan? Tidak ada yang kalah atau memang, kita sama sama pemenangnya."


"Sayangnya aku...." Cecilia melingkarkan tangan pada tegapnya tubuh Irsan. "Apa sekarang aku harusnya bilang makasih? Atau kamu belum puas?" tanyanya konyol.


Irsan kembali tergelak, mengelus punggung polos sang Istri dengan lembut. "Kita bisa melakukannya kapan saja, sekarang istirahatlah, aku tidak mau kau kelelahan."


"Maksudmu aku kurang kuat?" Cecilia membulatkan kedua mata dengan bibir melengkung, menggigit kecil tonjolan di dada Irsan, membuat Irsan tersentak kaget lalu tertawa.


"Gak cuma sekali, sepuluh, dua puluh, seratus kali pun aku bisa." Cecilia tertawa dengan menggelitiki pinggang Irsan.


Begitu juga Irsan yang tertawa geli langsung menangkup tangan Cecilia yang terus bergerak kesana kemari di tubuhnya dia mendekapnya erat dengan sedikit menindihnya agar Cecilia tidak bisa bergerak.


"Kau akan kewalahan sayang!"


"Enggak!"


"Iya ... Aku pastikan itu!" kelakar Irsan dengan terus tertawa bahagia.


Kebahagiaan tiada tara yang datang bertubi tubi menggantikan air mata dan kepedihan yang melukai hati selama bertahun tahun hidupnya. Tuhan mah adil, tidak hanya memberi sedih namun juga beserta senangnya, tangis beserta tawa, pedih beserta bahagia.


Kekosongan hati Irsan selama bertahun tahun kini terisi, mengimbangi hidupnya yang datar menjadi berliku, marah kesal, tawa, dan bahagia kini dirasakannya.


"Aku lapar!" cicit Cecilia saat tawa keduanya berakhir dengan saling memeluk tubuh yang masih polos tersembunyi di dalam selimut.


"Baik Nyonya Irsan Mahendra, aku siap jadi koki terbaik untukmu." Irsan bangkit dengan menarik selimut, membuat tubuh polos Cecilia terekspos nyata.


"Heh!" Cecilia kembali menariknya. "Kamu kan bisa lari aja langsung ke kamar mandi, iihh ..."


"Tidak bisa ... Kamu yang gunakan bantal itu."


"Gak mau!"


"Cecilia ...."


"Aku kan udah lihat semua, kenapa kamu masih malu malu begitu, tadi aja perkasa kok." kelakar Cecilia dengan tertawa gemas melihat tingkah Irsan.


Irsan mendengus melepaskan selimut yang membungkus tubuh polos berototnya lalu melenggang masuk ke dalam kamar mandi.


Tapi justru Cecilia yang kini malu sendiri melihatnya, dia terkekeh dengan menutupi wajahnya dengan selimut.


Namun Irsan nyatanya justru kembali dan menarik selimut dimana Cecilia terbenam dibawahnya dan memggendongnya dengan sekali tarikan.


"Heh ... Mau kemana?"


"Ayo mandi bersama!"


"Aaahhh ... Gak mau, aku mau tidur!"


"Bukankah tadi kau bilang lapar?" Irsan menutup pintu kamar mandi dengan tungkai kakinya


"Iya ... Aku mau makan dulu!"


.


.


.


Wkwkwk kaburrrrr lagiii aaaah....