
"What?"
Sejenak Cecilia terdiam, senyum tipis Irsan kembali membayang, pelukannya yang hangat serta kata kata manis yang akhir akhir ini dia dengar,
'Gimana kalau seandainya aku berkhianat?'
Irsan mengelus pucuk rambutnya dengan lembut.
'Percaya padamu adalah keputusanku. Tapi memastikan keputusanku benar atau tidak adalah keputusanmu. Jadi semua tergantung padamu Cecilia.'
Percakapan mereka tempo hari kembali terulang di dalam kepala Cecilia, gadis itu berdiri membelakangi Reno dengan mengepalkan tangan.
Ini gak akan lama Ce ... Lo cuma harus bertahan. Irsan gak akan tahu. Cecilia membatin dengan menghela nafas berat, lalu kembali menghadap ke arah Reno.
"Sepertinya kau sangat berat mengambil keputusan Honey? Apa pria miskin itu sangat spesial untukmu, memberikan apa yang kau butuhkan?" Reno membelai rambutnya lembut,
Ingin sekali Cecilia menepis tangan itu, namun dia menahan dirinya sendiri. "Enggak ... Bukan gitu Dad, aku ngerasa gak enak sama tante Irene. Dia udah baik banget, dan aku justru nipu dia habis habisan."
"Kau tenang saja honey, tanpa ada kamu pun rumah tangga kami memang sudah berantakan, aku bertahan karena merasa kasihan padanya, penyakitan dan tidak punya anak, tapi semakin lama semakin aku sesali. Aku terjebak, siapa yang akan menjalankan semua kerajaan bisnisku ini kalau aku tidak memiliki anak." terang Reno, membuat bulu kuduk Cecilia berdiri.
Selama ini dia seolah takut pada Irene, bahkan terlihat menerimanya apa adanya, tapi ternyata itu hanya topeng.
"Jadi ...?" Reno membelai pundaknya dengan lembut. "Kau yang akan memberiku seorang anak honey."
Cecilia kembali terbelalak sempurna, Anak ... What, tambah gila nih aki aki.
"Ja---jadi Daddy akan nikahin aku?"
Tanpa disangka Reno tertawa sampai terbahak, membuat Cecilia menatapnya heran juga.
"Jangan menuntun lebih lagi honey, tidak kah cukup selama ini aku mengurusmu? Jujur saja, aku tidak berniat menikah lagi, usiaku juga sudah tua. Aku hanya perlu seseorang yang memberiku kesenangan dan juga anak. Kalau aku ingin, aku sudah melakukannya sejak aku muda honey."
Cecilia menghela nafas, syukurlah, lagian gue mana mau nikah sama dia. Dan untuk punya anak darinya....
"Ayolah ... Kau hanya membuang waktu dengan berfikir selama ini Honey." sentaknya yang membuat Cecilia yang tengah membatin itu kaget.
"Daddy buru buru amat! Aku hanya mengira Daddy minta aku nikah juga, kalau cuma bersenang senang sih aku mau dong Daddy." sahut Cecilia.
"Kalau begitu, peluk aku!" Reno merentangkan tangan, berharap gadis cantik itu memeluknya.
Namun Cecilia hanya diam berdiri saja, dia juga menundukkan kepalanya sebentar. "Daddy aja yang peluk aku sini."
"Aahh ... honey. Kau selalu bisa membuatku berga irah, kita pergi ke satu tempat hem!" ujarnya berhambur memeluk Cecilia, bahkan dia meremass bokong sintal miliknya hingga Cecilia sontak berjingkat.
"Daddy nakal deh," Ujarnya dengan berusaha mendorong tubuh Reno, namun dia juga membusungkan dadanya agar semakin membuat Reno bergai rah, Reno semakin merekatkan kedua tangannya di pinggang kecilnya. Membuat tubuh Cecilia mencondong ke belakang.
"Daddy gak mau kan melakukannya di sini! CCTV nyala lho Dad." bisik Cecilia yang membuat Reno tertawa.
"Kau tenang saja, aku akan menyuruh seseorang mematikannya."
Cecilia mengulum senyuman, "Tapi aku gak mau ngelakuinnya di sini, aku mau di tempat lain. Daddy tega, kita baru ketemu hari ini malah maen di kantor."
Reno kembali menciumm pipi Cecilia dengan gemas, has ratnya yang dia cari di luar rumah itu semakin meningkat saja.
"Baiklah ... Kita ke tempat lain."
Keduanya keluar dari ruangan Cecilia, gadis itu bergelayut manja pada lengan Reno.
"Daddy ... Apa Daddy gak takut kalau ada orang iseng yang nyebarin rekaman CCTV di ruangan Daddy?"
"Mana mungkin. Tidak akan ada orang yang berani!"
"Benarkah. Satupun ... tapi untuk berjaga jaga bukannya Daddy harus menghapus rekaman itu, aku gak mau ya rekaman yang ada aku nya kesebar."
"Baiklah ... Aku akan menyuruh seseorang mengamankannya." ujar Reno dengan menghubungi seseorang.
Keduanya berjalan ke arah lift, namun tiba tiba Cecilia memegangi perutnya yang sakit. "Daddy aku harus ke toilet."
"Kau sakit?"
"Memangnya kau tahu dimana toilet disini berada?"
Cecilia mengangguk lagi dengan menunjuk ke arah lain "Disana?"
"Bukan ... tapi di sana," Reno menunjuk arah lain.
"Oh Ok."
***
Sementara itu Irsan yang baru saja kembali ke apartemen melihat Nita dan juga Sila yang membawa banyak barang barang milik Cecilia, dia mengernyit karena tidak menemukan Cecilia bersama mereka.
"Mana teman kalian? Bukannya seharusnya dia istirahat di kamar karena mabuk semalam?"
Nita yang menghentikan langkahnya menyorotinya, "Istirahat apa nya? Dia baik baik aja kok, dia juga ke kampus. Tapi sekarang ada masalah besar, di usir."
"Apa. Diusir? Siapa yang mengusirnya. Apa pria itu?"
Nita sontak terhenyak, kenapa pria tinggi nan kaku didepannya tahu. Dia pun menoleh pada Sila yang saat ini menatapnya dengan menganggukkan kepala.
"Cepat katakan dimana dia?"
"Kita gak tahu Om, dia gak bilang mau kemana? Dia cuma bilang mau urus sesuatu dulu." tukas Sila.
Nita membelalak menatap keduanya bergantian, "Apa jangan jangan dia nekad menemui Reno?"
"Reno?"
"Ya ... Reno." Jawab Nita lagi, "Tapi mana mungkin, baru tadi pagi dia minta bantuan buat gantiin dia. Dia gak mungkin berani ketemu sama Irene kalau gitu." ujarnya lagi berfikir lebih keras.
"Kantor! Pasti dia ke kantor Reno!" Nita menjawab pertanyaannya sendiri,
"Kemungkinan besar dia emang kesana kak, dia bilang gak akan tinggal diam karena Reno mengambil semuanya gitu aja."
Irsan yang terhenyak pun merogoh ponselnya untuk menghubungi Cecilia.
"Percuma om, ponselnya juga di ambil. Dia pake ponsel aku."
Irsan semakin terbeliak, "Kirimkan alamat kantornya padaku. Aku akan kesana."
Tak lama Irsan kembali keluar dan menaiki mobilnya untuk menuju ke alamat yang Nita berikan padanya, dia benar benar khawatir pada Cecilia yang dia tahu sendiri seberapa besar keberanian dan kenekatan wanitanya itu, dia juga tidak bisa membiarkannya begitu saja walau pun Cecilia sama sekali belum berniat melepaskan Reno.
Mobil yang di kendarai Irsan berhenti tepat di kantor Reno, tanpa berfikir panjang dia melompat turun dan segera masuk ke dalam. Seorang securty menghampirinya.
"Ada yang bisa dibantu tuan?"
"Reno ... Apa Reno ada?"
"Ada tuan, tapi beliau sedang ada tamu."
Itu pasti Cecilia.
"Aku harus menemuinya!" ujarnya dengan kembali berjalan,
Namun baru saja melangkah beberapa langkah, lift terbuka dan Cecilia yang tengah bergelayut manja itu pada Reno keluar dari lift.
"Kau lama sekali ke toiletnya tadi honey!"
"Maaf Daddy ... Aku nyasar tadi!" Cecilia terkekeh, memasukan tisu ke dalam tas miliknya.
Irsan melihatnya, langakhnya terhenti begitu saja, menatap keduanya dengan tajam terlebih pada Cecilia. Gadis itu tersentak kaget saat melihat Irsan. Seketika dia melepaskan tangan dari lengan Reno
"Apa yang kau lakukan Cecilia?"
.
Nah kan kecyduk langsung wkwkwk .... Bandel sih lo Ce.