
"Jangan jangan dia hombring lagi Ce!" celetuk Nita yang langsung menyuap nasi soto yang berada di depannya tanpa basa basi, dia bahkan tidak bertanya milik siapa soto yang di santapnya lahap itu.
Cecilia melongo di buatnya, gadis itu menatap gerakan Nita yang tengah menyendok soto ke dalam mukut namun fikirannya di tempat lain. "Hah?"
"Ya ... Kali aja! Buktinya dia gak nyentuh nyentuh lo, apa coba namanya kalau dia gak normal ... Selama ini mana ada yang bisa nahan sama lo, denger suara lo aja bisa saange. Ya kan?" Nita menggeser mangkuk yang masih sisa setengahnya itu kepada Sila, "Makan lo ... Gak usah dengerin omongan orang gede!"
Sila mengangguk, lalu menyantap soto yang diberikan Nita, diam diam dia mendengarkan pembicaraan keduanya walau ada hal hal yang tidak dia mengerti.
"Jadi Ce. Mungpung belum jauh banget. Lo harus pastiin, jangan sampe lo dapet zonk ... Mana kagak ada Daddy lagi kan lo! Gak mungkin juga lo balik sama Reno setelah kepergok istrinya." lanjut Nita, mengambil tissu dan mengelap mulutnya.
"Ya kali gue nyusulin ke alam kubur!"
"Hah? Serius lo?"
Cecilia mengangguk, "Tadi pagi, abis ini kita ke makam."
"Kita? Magsud lo kita?" Nita menunjuk dirinya sendiri, Cecilia dam juga Sila. "Kita bertiga. Buat apaaan?"
Cecilia menghela nafas, "Tadi lo bilang apa? Gimana kalau Irsan hombring kan?"
"Iya ... Kan bisa aja! Eeh Ce ... Kita gak usah deh ke makam Reno, buat apa? Emang doa doa kita bakal nyampe ke dia? Gue yakin, dia gak bakal mau nerima doa kita, apalagi dari lo." gidiknya.
"Sembarangan lo kalau ngomong!" tukas Cecilia yang kini terus memikirkan ucapan sahabatnya itu tentang Irsan. "Nit ... Kalau bener gimana? Tapi kan dulu juga pernah ege! Malah gue lihat gede lagi."
"Ya mana gue tahu! Buktinya sekarang ... Lo fikir deh sendiri, lo juga harus tes deh kali kali, gue kasih tahu yaa ... Rugi lo nanti kalau lo udah cinta mati, eeh dia gak punya nafsu sama lo, lo mau apa coba? Buat apa. Buat ganjel pintu lo?" cerocos Nita, selain tukang kompor dia juga malah membuat sahabatnya khawatir. "Serius lo mau ke makam Reno? Takuut gue ah."
Dua topik pembahasan jadi satu, Cecilia termangu dengan fikiran memikirkan Irsan, namun mengangguk pula memberi jawaban akan pertanyaan Nita soal pergi ke makam Reno.
Sementara Sila yang hanya mendengarkan dibuatnya pusing, dia mengernyit menatap keduanya bergantian.
"Kak ... Lo gak di makan. Buat gue ya!" Sila menyerah, lebih baik mengisi perut dari pada menelaah setiap perkataan keduanya yang bercampur aduk
Cecilia kembali mengangguk lagi, selera makannya hilang begitu saja. Padahal soto Maknyus itu kesukaannya.
Akhirnya, hanya Sila yang kenyang, kedua sahabat itu hanya mengobrol tiada henti, kejadian kejadian yang dialami Cecilia, dan rumah milik Irsan untuk Alisa pun tidak luput dia ceritakan.
Nita mengangguk anggukan kepala, "Fixs ... Lo harus ngetes dia kalau gitu! Menurut gue, menrut gue nih ya! Ulangnya. "Kalau dia belom bener bener move on dari tuh orang, kenapa? Gue kasih tahu sama lo. Dia jual rumah, artinya dia mencoba move on, tapi tuh orang masih ada di hatinya, kenapa? Dia gak bisa nyentuh lo sedikit pun, satu karena dia gak bisa dan dua fixs karena dia gak normal." Bak seorang penasihat handal, Nita ungkap hasil pengamatan yang dia tangkap dari cerita Cecilia.
"Ih lo mah malah bikin gue parno!"
"Ya makanya ... Gue bukan nakut nakutin lo! Tapi lo harus mastiin, gue ada ide." Nita mencondongkan tubuhnya mendekat hendak berbisik, namun dia menoleh terlebih dahulu pada Sila. "Entar deh ... Ada bocil soalnya."
"Ih lo gitu sih kak sama gue! Gini gini gue ngerti lah kak, gue juga bisa kali bantu lo berdua kakak kakak ku yang cantik!" Sila terkekeh, lalu melingkarkan tangan pada lengan Nita.
"Ya udah ... lo punya ide apa?"
"Lo siap siap aja!"
***
Cecilia memikirkan semua yang dikatakan Nita, dia bersandar pada seat mobil yang di kendarai Nita menuju pemakaman Reno, sementara Sila berada di seat belakang dan bermain ponsel yang baru saja di kembalikan Cecilia.
"Ce ...!"
"Hm ...!"
"Udah sih ... Ngapaian lo mikirin itu terus. Udah lo tenang aja, ikuti kata kata gue dan kita lihat hasilnya nanti."
"Tapi Nit ... Gue gak yakin!"
"Elah ... udah ilang nyali lo? Udah berubah sekarang? Mana Cecilia yang pemberani itu." ledek Nita dengan terus melajukan mobilnya.
"Ehh bocil ... Kebiasaan lo nguping, maen game ya maen game aja, ngapain lo sambil nguping!" sentak Nita menatapnya dari kaca spion dalam.
Tanpa mengalihkan pandangannya pada layar ponsel dimana game bercocok tanam sedang seru serunya, Sila mendengus pelan, "Ya abisnya kedengaran kak!"
Cecilia merogoh ponsel miliknya, pesan singkat dari Irsan pun dia baca. Hanya sederet pesan yang benar benar singkat.
'Pulanglah ke apart lebih dulu. 0000021.'
Cecilia mendengus saat membacanya, "Singkat banget, gak ada basa basinya, No say honey, or babe!"
Nita terkekeh, "Lo sih salah pilih orang buat dijadiin jodoh lo!"
"Anjim lo ah! Ayo buruan ... Makin sore makin sepi tuh kuburan, gue takut nanti." sahut Cecilia yang memang sudah berniat datang hanya untuk penghormatan terakhir pada pria yang sudah memberikan semua kemewahan yang sekarang di milikinya.
Mobil pun berhenti di area pemakaman, walau hari sudah menjelang sore hari, pemakaman itu cukup ramai oleh orang orang yang masih mengunjungi makam Reno, pria itu memang memiliki banyak relasi bisnis yang luas.
"Lo yakin udah gak ada Istrinya di sana?" Nita mematikan mesin mobil, membuka kaca mobil dan melongo keluar.
"Kayaknya dia udah pergi! Kalau ada ... Tuh orang orang makin banyak dimakam Reno,"
"Kenapa?"
"Orang istrinya yang lebih berkuasa di perusahaan dari pada dia!"
"Serius. Kira kira dia bakal ngelakuin apa sama lo Ce?"
"Enggak ... cuma nampar gue sekali!" Cecilia terkekeh, lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Dasar bego! Ditampar aja ketawa lo!" Nita menyusul keluar.
Begitu juga dengan Sila, ketiganya berjalan ke makam Reno yang dipenuhi banyak bunga bunga segar. Orang orang yang berlalu pergi hanya meliriknya sekilas, ada juga yang mengangguk saat melihat ketiganya berjalan semakin dekat.
"Lo gak bawa bunga Ce?"
"Gak perlu! Udah banyak ini." tukasnya acuh.
"Terus lo mau ngapain kesini."
"Gue cuma mau bilang makasih dan selamat tinggal doang! Gue gak sempet ketemu dia waktu dia di rumah sakit, gue juga mau minta maaf, mungkin gue yang bikin dia serangan jantung."
Ketiganya berdiri di depan nisan bertuliskan nama Reno. Dengan kepala tertunduk, mereka berdoa dengan keyakinan masing masing.
Bunga bunga segar menumpuk hingga ke samping makam, wanginya pun masih menyeruak,
"Berani sekali kau datang kemari!"
Cecilia menoleh, begitu juga dengan Nita dan Sila. Irene berdiri dibelakangnya, masih memakai kaca mata hitam juga berpakaian hitam, disampingnya ada Jo sang asisten pribadi.
"Tante ...!" Lirih Sila saat melihat Irene, merasa bersalah karena dia lari dari rumahnya.
"Tidak tahu malu! Pergilah dari sini." Tegasnya lagi, "Dan tunggu surat panggilan kepolisian!"
Nita dan Sila saling menoleh, Cecilia hanya terdiam mematung dan menatapnya.
"Atas dasar apa tante melaporkanku. Aku akan kembalikan semua yang Reno diberikan!"
"Cih. Bersiap siaplah masuk bui!"