I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.57(Jelas marah)



Cekalan tangan dilengan Cecilia mengendur dengan sendirinya, dia bergeser satu langkah ke depan. Tidak pernah menyangka jika gadis yang menghabiskan waktu semalaman dengannya kini jauh dari ekspetasinya.


"Benar! Aku bisa bermain main denganmu!" ucapnya tegas, dengan kedua manik menyorot tajam. "Terlebih setelah apa yang kita lakukan semalam. Apa aku juga harus membayarmu Cecilia?" ujarnya lagi menohok.


Cecilia mengerjapkan kedua matanya, lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Jawab aku Cecil! Apa semua itu tidak berarti bagimu? Apa karena pekerjaanmu memang seperti itu, sampai kau menganggap aku sama seperti pria yang kau tiduri itu?" lagi lagi menohok.


Cecilia jelas tidak faham dengan Irsan yang uring uringan, bukannya berterima kasih karena menyelamatkannya, bagaimana kalau ternyata ketahuan kekasihnya jika semalam mereka baru saja tidur bersama, terlebih Irsan melepaskan keperjakaannya. Mana dia tahu jika Ines adalah sepupunya.


"Hey ... Kenapa kau marah! Lagian kenapa bawa bawa kerjaan. Aku hanya bersikap profesional di depan wanitamu itu! Kau ingin aku mengatakan padanya kalau pacarnya semalam tidur denganku? Iya ... Kau ingin aku katakan itu?"


Astaga, dia pasti benar benar menganggap Ines itu kekasihku. Tapi tetap saja, ucapannya tadi benar benar keterlaluan. Menyamakan aku dengan pria lain, sampai dia hanya ingin bermain main denganku. Bodoh. Irsan membatin, namun entah kenapa dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan yang sebenarnya karena terlanjur kecewa pada kata kata yang diucapkan Cecilia.


"Terserah!" desisnya nyaris tidak terdengar.


Ting


Lift terbuka, Irsan berlalu pergi tanpa mengatakan apa apa lagi pada Cecilia, wajahnya tegas dengan rahang yang semakin keras karena kesal dibuatnya. Sementara Cecilia hanya melongo.


"Kan kebiasaan! Dia selalu berubah rubah! Dasar tiang listrik. Gak inget apa semalem dia manis banget natapin gue terus." gumamnya sambil terus melangkah dengan pandangan pada punggung Irsan yang semakin jauh dengan perasaan dongkol setengah mati. "Ngeselin banget! Padahal gue kurang baik apa coba sama dia, gue nyari aman gini buat dia juga,"


Cecilia masuk kedalam mobilnya dengan kesal, keluar dari basement lebih dulu dari pada mobil yang di kendarai oleh Irsan, pria itu sengaja membiarkannya pergi lebih dulu.


Cecilia terus mendumel sepanjang perjalanan, menyesal karena tindakannya sendiri. "Harusnya gue langsung bilang aja biar mereka putus dan Irsan jadi miliki gue seutuhnya. Atau gue bikin mereka putus aja sekalian. Biar tahu rasa dia,"


Mobil masuk ke pelataran parkir di kampus, Gadis !berusia 20 tahun itu menghela nafas sebelum akhirnya turun dari mobil.


"Ce!"


Panggil Nita yang berlari setengah mati saat tahu Cecilia datang. Membuat sahabatnya itu tersentak kaget.


"Apaan sih lo heboh banget!"


"Lo gak apa apa kan? Lo gak di apa apa in kan semalem." ucapnya dengan panik lalu menelisik setiap bagian tubuh Cecilia.


Cecilia menepis kedua tangan Nita yang sibuk di wajahnya, "Apaan sih!"


"Lo emang gila dan gue setuju kalau dia udah pasti kesel sama lo! Tapi gue juga gak pengen lo kenapa kenapa Ce. Lo sahabat gue satu satunya."


Cecilia berdecak, lalu mengayunkan kedua kakinya, begitu juga dengan Nita yang menyamai langkahnya. "Satu satunya yang bakal nemenin lo di neraka maksudnya."


"Ya bukan itu kali! Itu mah lo aja Ce, gak usah bawa bawa gue. Orang gue ngomong serius juga lo malah bercanda, lo mau ke neraka beneran lo!"


"Ya lo duluan aja sana!" jawab Cecilia yang terus melangkah ke kelasnya.


Diruangan kelas itu belum terlalu banyak mahasiswa yang masuk, jadi Nita lebih leluasa ikut masuk dan duduk di samping sahabatnya itu walaupun sebagian dari mereka melirik ke arahnya.


"Lo gak ada kelas lain?" ucap Cecilia merogoh ponselnya didalam tas miliknya.


Cecilia mendengus kesal tanpa berkata kata lagi.


"Si tiang listrik ngeselin tahu!"


"Kenapa?"


"Lo tahu ... Kemana dia bawa gue semalem?"


"Kemana lagi kalau bukan ngamar! Iya kan?" sahut Nita yang menebak dengan asal.


"Ah ... Lo gak asik! Jangan langsung ke situ dong. Mikir dulu kek, otak lu otak ngangkang mulu."


"Ya udah sih tinggal jawab aja lo ribet segala maen tebak tebakan. Males mikir gue." Nita menarik sedikit rambut Cecilia.


"Ya tebakan lo bener, tapi gak seru! Pura pura mikir dulu kek."


"Serius lo!" sentaknya dengan kedua mata yang hampir melompat saking kagetnya.


Cecilia hanya mengangguk kecil dengan sedikit menggigit bibir bagian bawahnya dengan ingatan yang menerawang pada kejadian semalam.


"So?"


"And then ... Pagi ini kita ketemu dong, lebih tepatnya gue nyamperin dia ke unitnya, dan lo tahu apa?"


"Kagak ... Lo kan kagak cerita, mana gue tahu."


Cecilia berdecih, "Dia sama ceweknya njirr!"


"Lah!!"


"Dan ya udah gitu! Kenapa dia malah marah marah! Padahal gue udah nolongin dia coba, gue gak mau dong keciduk tidur sama dia oleh ceweknya, jadi gue bilang aja gue dateng cuma nganterin pesenan dia doang,"


Cecilia dengan lancar menceritakan semuanya pada Nita sahabatnya, sampai Nita terperangah mendengarnya.


"Cewenya yang semalem ikut ke klub itu bukan si?"


Cecilia mengangguk,


"Ya berarti lo yang bego! Dia aja ditinggalin di klub, dan lebih milih lo itu artinya apa?"


Cecilia mengernyit tanda tidak paham, "Gini Ce! Lo udah mati matian bikin dia ngakuin kalau dia punya perasaan kan sama lo?" Cecilia mengangguk pasti, "Dan saat dia udah ngakuin bahkan ngamar sama lo lo anggap dia sama kayak daddy daddy lo yang lain? Fix lo bego pake banget!" ujar Nita dengan emosi,


"Ya jelas dia marah! Dia itu beda apalagi ting ting kayak lo bilang tadi" terangnya lagi sambil terkekeh, membuat teman teman yang berada disana terperangah mendengarnya


"Sialan lo, gak sekalian lo bilang rektor sana!"