
Cecilia tercengang, begitu juga dengan Nita dan juga Sila. Namun dia berusaha tetap tenang dan tidak memperlihatkan rasa khawatir yang kini menderanya.
"Kenapa aku harus masuk penjara?" Cecilia melipat kedua tangan di dada, menutupi rasa cemas mengingat jika dia memiliki riwayat phobia terhadap polisi, "Ya ... Walaupun aku masuk penjara, suami tante gak akan balik hidup lagi kan?" sarkasnya kemudian.
Terdengar jahat memang ucapan yang keluar dari milutnya, terlebih Reno baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, tapi dia melakukannya karena memang tidak ada alasan yang bisa membuatnya masuk penjara.
"Kau fikir ini masih tentang hubunganmu dengan suamiku?" ujar Irene menohok, wanita itu melepaskan kaca mata hitam miliknya lalu berdecih, melirik Sila sekilas, kemudian kembali menatap Cecilia tajam. "Aku sudah tidak peduli dengan apa yang diberikan suamiku padamu, anggap saja itu sebagai bayaran atas tubuhmu, harga yang pantas untuk membeli harga diri dan hidupmu Cecilia. Menjijikan!"
Cecilia menelan saliva, dia tidak menyangka jika Irene yang dia tahu lemah lembut dan baik hati ternyata memiliki mulut yang tajam juga.
"Mungkin lebih tepatnya kenikmatan ya Tante Irene." cibirnya, sekalian saja menjatuhkan harga dirinya sendiri cukup membuat Irene dongkol.
"Dasar pelacurrr!"
"Nyonya ... Lebih baik kita pergi," bisik Jo, dia tidak ingin Irene maupun Cecilia semakin tidak bisa mengontrol diri, terlebih mereka sedang berada di pemakaman dan suasana berduka.
Irene menatapnya tajam, membuat Jo harus mundur dua langkah dan tidak mengatakan apa apa lagi.
"Ternyata lebih serem dari pada Reno!" cicit Nita ditelinga Cecilia.
"Gue juga bilang apa! Reno bukan apa apa, sekarang dia lebih berkuasa." sahut Cecilia.
"Percuma berkuasa, gak punya anak!" tambah Sila yang membuat keduanya menoleh.
Mereka bertiga memang bukan orang baik, tapi mereka juga bukan orang jahat, terlebih pada situasi maupun keadaan orang lain.
"Huss! Diem aja lo!" Nita menariknya ke belakang, "Kecil kecil mulut lo jahat amat Sil!"
"Oke tante ... Kalau gitu aku tunggu surat panggilannnya!" ujar Cecilia tidak gentar. Menurut pemahamannya selama ini, apa yang dia lakukan sebagai pekerjaannya hanya akan masuk ke dalam kasus pros titusi biasa, ancaman hukuman nya juga sangat ringan, wajib lapor atau hanya kurungan 1 tahun paling lama karena ada keuntungan dari pekerjaannya, mereka bukan pasangan selingkuh dan melibatkan perasaan, mereka terlibat penjualan dan pembelian jasa pros titusi saja.
Irene kembali berdecih, "Kau tunggu saja, mungkin kau tidak takut sekarang, tapi aku yakin kau akan menangis nanti."
Irene berbalik dan pergi meninggalkan mereka, dia berjalan menuju mobil dan masuk kedalamnya.
"Nyonya ... Kau yakin akan membawa kasus ini ke ranah hukum?" Tanya Jo saat mobil mereka melaju.
"Ya Jo ... Kau urus hal itu! Aku tidak terima dengan apa yang terjadi pada suamiku, harusnya dia tidak meninggal sebelum mempertanggung jawabkan semua perbuatannya padaku."
"Tapi nyonya ...!"
"Kau juga terlibat selama ini Jo, kau tahu semuanya dari awal ... Aku juga bisa menyeretmu. Jadi diam saja dan lakukan apa yang aku suruh."
Jo terdiam, itu memang benar. Dia tahu segalanya tentang hubungan Reno dan Cecilia dari awal sampai akhir. Juga tentang Sila, dia tahu. Dia juga tidak punya pilihan lain selain hanya diam saja.
"Aku akan melaporkannya atas tindakan penipuan, memalsukan data data Sila sampai dia masuk ke dalam rumahku, aku kehilangan sejumlah uang untuk hal itu karena mereka berdua menipuku, dia juga menyuruhnya berbohong. Benarkan Jo! Kau juga tahu itu?"
Tanpa di sangka, ternyata Irene mempersoalkan hal lain, yaitu Sila, Jo mengangguk pelan. Bukan masalah yang Cecilia duga. Dan kasus ini lebih berat.
***
Cecilia semakin terdiam, mencoba berfikir apa yang akan dia lakukan setelah bertemu Irene dan mengetahui dia sudah melaporkannya pada polisi.
"Ce ... Lo tenang aja! Kita cari jalan keluarnya bareng bareng."
"Thanks Nit. Gue gak nyangka ternyata Irene jahat juga, gue fikir dia lemah lembut dan gak berdaya. Padahal ternyata dia berbisa juga."
"Lo yakin gak tinggal di tempat gue aja? Apart punya lo bikin sial ..."
"Hm ... Gue juga niat mau jual unit gue aja Nit, semua yang di kasih Reno juga. Dan buat sementara gue tinggal di unit Irsan, tahu deh dia nyuruh gue kesana soalnya." Cecilia menyandarkan punggungnya, jujur baru kali ini dia merasa khawatir terhadap masalah masalah yang dia hadapi saat ini, terlebih tentang Irsan yang mungkin saja tidak normal itu.
"Rencana lo apaan Ce?"
"Gue belum bisa mikir Nit! Eh kita mampir ke tempat biasa dulu, Irsan gak punya minuman, bete gue gak bisa tidur nanti." ujarnya memejamkan mata.
Sebelum mereka kembali mengantarkan Cecilia ke apartemen, mereka benar benar mampir di toko minuman langganan mereka, membeli beberapa botol wine untuk Cecilia bawa ke apartemen milik Irsan.
Tak lama, mereka tiba di pelataran parkir apartemen. Cecilia turun, begitu juga keduanya yang ikut turun. Mereka sama sama naik ke lantai tiga.
"Cecilia?"
Cecilia mendongkak, melihat Ines yang hendak masuk lift yang hampir tertutup. Hingga dia menahan pintunya.
"Kak Ines?"
"Huuh untung saja kau tahan pintunya, dari mana?" Tanyanya sambil melihat ke arah Sila dan juga Nita juga barang yang dibawa keduanya. "Irsan udah hubungi kamu belum?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, "Belum kak ... Kenapa emang?"
"Lah ... Si Irsan kenapa sih! Bikin khawatir aja!"
"Kenapa Kak?"
"Aku ketemu dokter Aji tadi, dia bilang Irsan harus pergi ke luar kota mendadak. Aku kira dia bercanda." ujarnya dengan wajah resah.
"Emangnya ada apa kak?"
Ting
Pintu terbuka, semuanya keluar tanpa kecuali termasuk Ines. Mereka berjalan menuju unit milik Irsan.
"Makanya aku tanya kamu ... Aku fikir dia bakal bilang ke kamu, eh ternyata tidak!" ucap Ines ragu ragu, dia takut salah bicara. "Atau mungkin nanti setelah take off dia pasti hubungi kamu ya."
Cecilia mengangguk, lalu sekilas tersenyum. "Iya kak ...!"
Mereka semua masuk kedalam unit Irsan, dimana sang empunya tidak ada, atau bahkan tidak memberi kabar dia akan pergi hari itu juga.
"Ngeselin kan. Boro boro ngasih tahu gue!" desis Cecilia tepat di telinga Nita.
"Iya ... Tapi kan bukan cuma lo Ce ... Orang sepupunya aja gak di kasih tahu kok."
Cecilia mendengus dengan jawaban Nita, "Pacar sama sepupu lebih penting siapa. Gue tanya?"
"Ya sepupulah bego! Lo fikir lebih penting pacar ... Hello baru pacar lo bukan Istri apalagi ibu." Nita menoyor kepala Cecilia, lalu duduk di sofa.
"Sialan lo! Gue jadi bego gara gara semua masalah ini!"
.
Wkwkwk kacian Cece. Masalahnya makin banyak ya Ce, tapi tenang othor tahu lo kuat kan.