I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.174(Hanya kamu)



Hari semakin larut, dua gadis setengah mabuk itu masuk kedalam pintu apartemen milik Nita. Sila yang berdiri di depan mereka pun tersentak kaget saat melihat kedua orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya itu berjalan sempoyongan dan juga saling terkikik.


"Astaga!"


"Apa lo. Minggir," Nita menyenggol tubuh Sila dengan lengannya hingga gadis kecil itu menggeser tubuhnya ke samping.


"Nit ... Galak amat lo sama dia, siapa duh aku lupa." Cecilia melepaskan kedua sepatu lalu melemparkannya sembarangan. "Inget Nit, nasib dia sama kayak kita!" Terkekeh lalu menepuk nepuk kedua pipi Sila. "Ahk ... Iya. Lo Sila kan? Anak manis."


"Justru itu! Tiap lihat dia, gue inget masa lalu kita. Gue kan jadi benci, dia enak ... Ada kita yang nampung dan bantuin, lah kita dulu. Hampir mati Ce." seloroh Nita yang menghempaskan koper Cecilia. "Udah sana tidur! Besok lo sekolah." titahnya kemudian pada Sila. "Telat lagi awas lo. Gue balikkin sama si Irene tahu rasa lo!"


"Kebangetan sih kalian gak ajak ajak gue. Mana gue ditinggal mulu, dimarahin pula." sungut Sila berlalu masuk ke dalam kamar.


Kedua sahabat yang kini duduk di sofa tergelak melihatnya, "Apa dia kata?"


Nita mengerdikkan kedua bahunya ke atas, "Tahu ... Gak denger gue!"


"Lah terus lo ketawa?"


"Ya gue ngetawain lo bego." Cecilia menoyor kepala Nita.


Keduanya kembali tertawa. Cecilia segera membuka pakaiannya, melemparkannya lalu keluar menuju balkon apartemen, menghirup udara malam dengan kedua tangan yang dia rentangkan. Berusaha mengurangi rasa sesak didada yang sekuat tenaga dia tahan sejak tadi.


Bruk!


Nita melemparkan bantalan sofa ke arahnya. "Masuk angin lo entar."


"Bentaran doang!" jawab Cecilia dengan terkekeh lalu mengambil bantal sofa dan menghempaskan tubuhnya di kursi.


Tak lama suara ketukan di pintu terdengar sangat keras, bahkan terus mengetuk dengan kencang. Membuat keduanya saling menatap dengan heran.


"Hantu?"


Nita menoleh ke arah pintu sambil berdecak, "Mana ada hantu disini, yang ada hantu takut sama gue, mana berani mereka ganggu gue."


"Hm ... Kelakuanmu mirip!"


Nita yang berjalan ke arah pintu pun kembali menoleh, "Sialan lo!"


Sementara Cecilia tergelak dengan menutup wajahnya menggunakan bantal sofa.


Derit pintu terdengar sangat keras bahkan membuat Nita hampir terhuyung ke belakang saat pintu terbuka lebar karena seseorang mendorongnya dengan cepat.


"Mana Cecilia?"


Nita yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya pun mengerjapkan kedua mata saat melihat siapa yang berdiri didepannya.


"Mana dia?"


"Tuh!" tunjuknya pada Cecilia yang berada di balkon, tengah berdiam dan tidak tahu siapa yang datang mencarinya. Dia masih menyusupkan kepala pada bantalan sofa. "Eit ... Jangan coba coba gangguin dia! Atau gue tonjok nih."


Nita terdorong ke samping, tenaganya jelas bukan tandingannya dibandingkan pria yang menyusul Cecilia setelah mendapat telepon dari sepupunya itu.


Irsan berjalan semakin masuk dan mencari keberadaan Cecilia, dan segera menuju balkon saat melihatnya. Pria itu menghampiri Cecilia, dia berjongkok dengan bertumpu pada satu lututnya dan juga merengkuh kedua bahu Cecilia agar bisa melihat wajahnya.


"Cecilia. Maafkan aku!"


Cecilia yang tengah di dera sakit kepala akibat alkohol itu terkekeh, "Minta maaf. Untuk apa minta maaf?"


"Maafkan aku Cecilia ... Ayo kita kembali pulang."


Cecilia menepis tangan Irsan dibahunya dengan kasar. "Siapa kau menyuruhku kembali, dengar ya ... Aku gak akan kembali ke sana, tidak!" kepalanya terus menggeleng dengan kedua manik hitam yang masih menyipit.


"Maafkan ibuku. Maafkan aku. Aku ...."


"Dasar brengsekk! Emangnya siapa dia berani bikin aku sakit hati begini, apa karena aku menyukai uang dan kemewahan sampai dia menyembunyikan semua jati dirinya. Brengsekk!"


"Kau mabuk Cecilia!"


"Ya ... Terus urusanmu apa? Bilang sama Irsan, aku benci sama dia. Aku gak akan maafin dia. Bilang sana padanya."


"Ini aku Irsan!"


Cecilia baru membuka matanya, lalu kembali terkekeh, "Bagus ... Berarti kau dengar semua perkataanku. Sekarang pergilah, pergi pada ibumu yang menyebalkan itu. Pergi sana ... Kau takut aku ambil harta dan uangmu kan. Padahal aku gak peduli sama sekali. Aku gak peduli apa kau orang kaya atau bukan, aku juga gak peduli apa yang kau miliki. Tapi kenapa kau tidak bisa jujur semuanya padaku. Hah?"


"Cecilia ... Kau salah!"


"Salah? Ya aku salah, aku salah karena aku cinta sama orang yang gak bisa percaya 100 persen sama aku. Aku salah karena telah berusaha melepaskan semua masa laluku demi seseorang yang gak bisa percaya sepenuhnya padaku. Aku salah ... Karena terus berfikir kalau kau sepenuh hati cinta sama aku, aku juga salah karena menganggapmu sama sepertiku. Dan semua itu nyatanya salah," Cecilia menatapnya tajam, dengan nafas naik turun menahan amarah yang tiba tiba saja memuncak. "Aku salah karena selalu menganggapmu sebagai seorang dokter biasa, Kau tahu ... dan aku udah gak peduli hal itu lagi."


Kedua matanya tiba tiba menghangat, saat bulir bening turun tanpa bisa dia tahan lagi. "Aku belajar lebih baik dari aku yang dulu, tapi semua sia sia saat kamu gak percaya sepenuhnya."


"Cec---"


"Kau fikir aku akan senang saat tahu semuanya? Kau salah ... Hanya padamu aku jadi gak peduli hal seperti itu." sela Cecilia dengan terus menangis. "Apa kau takut aku menghabiskan uangmu? Atau kau takut aku merampas semuanya?"


"Bukan begitu Cecilia."


"Sudahlah ... Lagi pula ibumu juga tidak menyukaiku, jadi lebih baik kau menurut saja pada ibumu, biarkan aku yang gak baik ini sendiri."


Irsan memegang kedua tangannya dengan erat. "Beri aku kesempatan menjelaskan semuanya!"


"Jelaskan apa? Toh hubungan kita gak akan berhasil kalau salah satunya gak jujur sepenuh hati. Aku cukup tahu diri siapa diriku. Jadi tolong, pergilah."


"Aku memang pemilik rumah sakit, aku juga pemilik apartemen yang kita tempati, selain coffe shop yang kau tahu. Aku memang gak suka membicarakan hal hal seperti itu, untuk apa? Aku ingin dilihat sebagai Irsan yang hanya seorang dokter saja, bagiku semua harta itu tidaklah penting Cecilia. Karena aku ingin seseorang yang bisa bertahan disampingku walau aku tidak memiliki apa apa. Walau aku bukan siapa siapa. Aku melihat semua itu ada dalam dirimu Cecilia, kamu ... Hanya kamu yang melihatku sebagai seorang dokter saja, sampai aku tidak memiliki kesempatan mengatakannya langsung padamu mengenai jati diriku, aku hanya ingin hidup sebagai seorang Dokter Cecilia."


Cecilia termangu mendengarnya, sosok Irsan yang sifatnya sangatlah datar itu mampu mengungkapkan semua yang dia rasakan terhadapnya, genggaman tangannya semakin erat, dengan menatap gadis yang terua menangis itu dengan sendu.


"Hanya kamu yang mampu bertahan disampingku, mengerti keadaan dan kekuranganku. Dan aku berusaha untuk tidak membuatmu kecewa seperti ini. Aku akan melakukan apapun demi hubungan kita. Seperti mu yang berusaha belajar lebih baik. Jangan pernah kecewa Cecilia. Karena aku yakin kehadiranmu sebagai penyempurna hidupku. Maafkan aku karena terlambat mengatakannya, tapi sumpah demi apapun. Semua yang kau fikirkan itu salah, aku sepenuhnya percaya padamu, hatiku juga sepenuhnya untukmu. I love You Cecilia."