
...Yah kan ... Semalem kena review sistem, biasa akhir bulan, dan dipastikan gak akan adegan ninu ninu... Wokwok....
.......
.
Irsan terperanjat mendengarnya, kedua mata tajamnya mengikuti gerak tubuh Cecilia dengan muka datarnya berlari lalu tertawa. Membuat gaun putih yang dikenakannya melambai lambai tertiup oleh angin, gadis itu tertawa kearahnya dengan riang, membuat Irsan terpana oleh tawa dan senyumnya yang mampu mengalahkan indahnya laut. Menghanyutkan.
"Astaga!" sedetik kemudian Irsan sadar, bukan hanya keluarga dan teman temannya saja yang mengancam, gadis pujaan hatinya pun ikut mengancam dirinya.
Irsan berlari menyusul, dengan cepat dia mencekal lengannya hingga tubuh Cecilia terhentak menghadap kearahnya sekaligus kaget.
"Kita tidak sedang main main Cecilia!"
"Emang. Kau fikir aku bercanda?"
"Cecilia, apa kau juga tidak mengerti apa yang aku inginkan? Kau sama dengan yang lain."
Cecilia menepis tangan Irsan dengan keras, dia langsung melipatkan tangannya sendiri didepan dada. "Katakan apa yang kau inginkan?"
"Cecilia ... berapa kali harus aku katakan kalau aku akan memberikan yang terbaik untukmu termasuk itu pernikahan kita."
"Ya ... Terus? Kamu fikir ini bukan yang terbaik? Kamu memang tidak sekeren Zian dalam bertindak, dan aku menyukaimu bukan karena itu! Apa bedanya sekarang atau nanti, toh aku tidak menuntut pernikahan yang terbaik, asal denganmu intinya. Aku benar benar bersyukur saat ibumu akhirnya menerimaku, aku tidak pernah berfikir kalau ibumu justru memberiku banyak sekali perhatian bahkan menyiapkan semua ini!" terang Cecilia panjang lebar, "Sekarang kita mengecewakannya, apa kau fikir ini hal mudah baginya? Ingat Irsan tadinya Ibumu tidak menyukaiku sama sekali, bahkan berusaha membuat kita berpisah ... Tapi sekarang kau lihat? Dia bahkan menangis karena hal itu." sambungnya lagi. "Aku tidak mau buang buang waktu, kalau kau masih ingin menikah denganku, ayo menikah sekarang!"
Irsan mengatupkan bibir saat mendengar semua yang di ungkapkan Cecilia, gadis yang dulu dia anggap manusia tidak layak nyatanya peka terhadap orang lain, terlebih pada ibunya yang saat ini saja menyukainya dan menginginkannya jadi menantu. Sedangkan Irsan. Ah sudahlah, semua orang tahu bagaimana pria dingin satu ini. Yang tidak mau peduli orang lain.
Cecilia masih menatapnya dengan pupil hitam yang dia lebarkan, terdiam dan menunggu jawaban Irsan.
"Kau yakin?"
"Hm ... Aku gak pernah seyakin hari ini."
"Kalau begitu ayo menikah!" Irsan menarik pergelangan tangan Cecilia dan membawanya masuk.
"Tadinya aku ingin membuatmu bangga memiliki aku, aku ingin memberikan pernikahan yang tidak akan kau lupakan seumur hidupmu."
"Ini udah cukup bagiku, yang penting kau orangnya!" cicit Cecilia.
Zian dan Agnia yang tengah mengobrol bersama Embun menoleh ke arahnya secara bersamaan.
"Ce?" cicit Agnia menatap sahabatnya.
Keduanya berdiri diam, Irsan menatap sang Ibu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Ayo bilang!" bisik Cecilia saat pria yang terus menggengam tangannya itu masih terdiam.
Tak lama Irsan mengeluarkan suara dengan nada yang paling rendah. "Mana jas pengantin milikku!"
Semua berteriak kegirangan, bahkan Agnia berhambur memeluk Cecilia, apalagi Embun yang lupa jika lututnya sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya.
Zian mengulas senyuman, menepuk bahunya beberapa kali memberi semangat.
"Akhirnya drama pernikahan sepanjang sejarah berakhir, kau hebat dokter!"
Irsan berdecak dengan menyikut lengan Zian, "Maksudku calon istrimu yang hebat!" tukas Zian dengan tertawa.
"Ayo cepat Pastur, cepat nikahkan mereka sekarang juga, aku takut dia berubah fikiran. Setelah ini selesai aku akan operasi hidung!" kelakar Carl yang berjalan masuk bersama seorang Imam.
Tanpa tamu undangan, pesta meriah, apalagi wedding song yang membuat suasana syahdu, mereka mengucap janji suci dan hanya di hadiri oleh orang orang terdekatnya saja, dua teman Irsan dan satu teman Agnia, juga ibu mereka.
"Ayo cepat, lakukan sekarang!" Cicit Carl tidak sabar, agar dia bisa tenang setelah ini.
Pastur yang dijemput kembali dari gereja maju ke depan, Zian dengan cepat memberikan jas yang dikenakannya pada Irsan.
Irsan menoleh pada Cecilia, "Ini yang kau mau? Pernikahan ala kadarnya seperti orang bodoh yang sering kau ceritakan?"
Zian memukul bahunya, entah dia sudah tahu atau belum jika yang di maksud adalah dirinya.
"Yang paling penting adalah setelahnya, ayo jangan membicarakan orang lain!"
Irsan mengenakan jas milik Zian, sementara Cecilia terkekeh menatap ibunya yang berdiri tersenyum ke arahnya.
"Maka tibalah saatnya untuk meresmikan perkawinan saudara. Saya persilahkan saudara masing-masing menjawab pertanyaan saya."
Keduanya berjalan maju setelah mendengar sang imam yang sudah siap dengan kitab ditangannya.
"Saudara Irsan maukah saudara menikah dengan ……." Imam tersebut melirik pada Carl yang lupa memberikan berkas berkas padanya. "Maaf ... Saya ulangi."
Carl menepuk jidatnya sendiri karena kebodohannya, dia segera memberikan secarik kertas padanya lalu kembali mundur, tatapan Irsan membuatnya takut, dia segera meminta maaf dengan menangkup kedua tangannya. "Maaf ... Aku terlalu bersemangat sampai lupa!"
"Saudara Irsan maukah saudara menikah dengan Veronica Cecilia yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"
" Ya, saya mau."
"Saudara Veronica Cecilia, maukah saudara menikah dengan Irsan Mahendra yang hadir di sini dan mencintainya dengan setia seumur hidup baik dalam suka maupun dalam duka?"
Sebelum menjawab pertanyaan Imam, Cecilia menatap Irsan dengan tersenyum. "Ya, saya mau.”
Carl memberikan kotak berwarna merah pada Imam, dan imam membukanya dan menyuruh Irsan juga Cecilia mengambil cincinnya.
Cecilia segera memakailannya pada jari Irsan namun Imam menggelengkan kepalanya. "Tunggu aku selesaikan upacara pemberkatan ini Nona."
"Dasar Si Cece ... Gak sabaran banget!" gumam Agnia.
Cecilia mengangguk dengan menahan tawa, sementara Irsan cukup datar saja.
"Cincin ini bulat, tanpa awal dan tanpa akhir Seperti cinta kasih. Atas dasar itu, cincin ini menyatakan bagi saudara berdua, untuk meniru cinta kasih dalam kehidupan rumah tangga yaitu dengan mengasihi pasangan tanpa awal, juga tanpa akhir."
Setelah Imam selesai bicara, keduanya tampak masih terdiam, entah mereka menunggu karena takut salah kembali ataukah shock karena pernikahan tiba tiba ini.
"Dokter." bisik Carl.
"Ce...?"
Keduanya akhinya saling menatap, pernikahan ala kadarnya ternyata mampu membuat keduanya salah tingkah juga.
Akhirnya dua cincin tersemat di jari masing masing, setelah itu mereka kembali mematung menunggu imam bicara.
"Saya sah kan kalian menjadi suami Istri."
Semua orang yang hadir saat itu bersorak gembira, sementara kedua mempelai saling menatap.
"Ayo cium! Tunggu apa lagi!" teriak Carl yang semakin gemas melihat keduanya. "Kelamaan sendiri sampai tidak tahu bagaimana upacara pernikahan!"
Irsan menoleh ke arahnya dengan melebarkan kedua matanya. "Diam kau!"
Carl dan Zian tertawa melihat tingkah Irsan yang menggemaskan, dia bak pria polos yang tidak mengenal dunia apapun.
"Ayo ... kalian sudah resmi, melakukannya di sini pun tidak apa, iyakan ... Hip hip horeee!"
.
.
.Pernikahan macam apa ini? Wkwkwkw ....terlalu.