I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.247(Jangan dekati dia)



"Kau!"


Kedua mata Irsan terbelalak sempurna pada saat melihat siapa yang bicara, Carl yang sengaja menghampiri dan menyuruhnya masuk ke dalam kamar dengan cepat itu terlambat, Irsan sudah lebih dulu menyadarinya. Pria berusia 40 tahun itu menarik bahu Carl dan membalikkannya, merangsek kerah kemeja Carl dan menghimpit lehernya.


Bugh!


Satu pukulan tepat mengenai rahang Carl.


"Irsan apa yang kau lakukan?"


"Diam kau. Ganti pakaianmu!" ucapnya marah pada gadis yang terbalut kain tipis yang kini terkesiap saat sadar siapa dan apa reaksi tamu yang datang menemui Carl.


"Kau brengsekk Carl, dia sepupuku ... sudah seperti adikmu sendiri!" ujar Irsan yang semakin merangsek lehernya.


Carl berdecak seraya mengusap rahangnya yang sakit karena pukulan Irsan. Tapi juga terkekeh karena ucapan sahabatnya itu.


"Tenanglah ... aku bisa jelaskan," Carl menyentuh bahu pria yang tengah marah itu.


"Carl ... Tidak usah jelaskan apa apa, aku sudah dewasa dan berhak melakukan apa saja!" sela Ines.


"Jangan membuatku semakin marah Vannesa!" sentaknya dengan sorot mata semakin tajam tertuju pada sepupunya itu, dia juga tidak melepaskan cengkraman pada leher temannya, dan ketika dia sudah menyebutkan namanya dengan lengkap, sudah pasti dia sangat marah.


Entah apa yang sudah mereka perbuat di rumah ini, semua sudah bisa menebaknya dengan mudah. Bahkan Irsan saja tidak perlu mendengar penjelasan ataupun keterangan apa apa lagi.


Cecilia yang terdiam entah harus berbuat apa itu melangkah dan menarik tangan adik sepupu dari suaminya itu.


"Ayo kak ...!" ujarnya dengan membawanya masuk kedalam kamar.


Ines mengikutinya dengan menghentakkan kedua kaki dan mendengus kesal.


"Harusnya dia gak lakukin hal ini! Gue sudah sangat dewasa Ce! Usiaku 27 tahun." Ines menghempaskan bokongnya di tepi ranjang, bicara dengan bahasa yang tidak formal tanpa sadar.


Cecilia mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan kamar, ranjang yang masih terlihat rapi dan tidak ada barang barang yang berantakan sebagai ciri khas percintaan. Dia bisa menduga jika permainan belum terjadi, atau baru saja akan terjadi.


Gadis itu mengulas senyuman, sedikit lega juga. "Kak ... Lo tahu kan siapa Carl?"


Ines mengangguk, "Gue tahu ... Bahkan gue kenal sama halnya Irsan yang kenal dia, terus salahnya dimana?"


"Yang lo lakuin bukan cinta kak, Carl itu brengsekk, dia gak akan cukup sama lo doang."


Ines terdiam, itu memang benar, tapi tidak juga menjadi masalah besar, sifat seseorang bisa berubah kapan saja, fikirnya.


"Lo tahu kan kenapa Irsan marah? Lo pasti ngerti kak ..." ujar Cecilia lagi yang mengusap bahunya lembut. "Sekrang lo mending ganti baju, gak akan beres kalau lo cuma ngikutin nafsuu doang, gue yakin ada pria baik baik yang suka sama lo, dan Irsan gak akan marah kayak gini, dia aja udah tahu gimana endingnya, lo yang akan nyesel nanti kak, percaa sama gue."


"Tapi lo gak bisa kan ngejudge orang gitu aja, gimana kalau Cal berubah demi gue? Kayak lo?"


Cecilia terdiam, hanya bibirnya saja yang melengkung


" LO fikir semudah itu berubah?"


***


Irsan tanpa henti nya terus menatap adik sepupunya itu, tatapan tajam bak pedang yang siap menghunus tajam, bak ombak ganas yang siap menghadang kapal perahu di lautan. Menghujam dengan rahang yang bergemelatuk keras.


"Dengar Irsan ... Kami belum melakukan apa apa." terang Carl yang meringis kesakitan, wajah tanpan rupawan miliknya kini legam. "Aku bah----"


"Diamlah brengsekk ... Kau fikir aku akan memdengar ocehan tidak berguna dari mulut sampahmu itu?" umpat Irsan .


"Kalau kita gak kesini ya udah pasti kejadian!" timpal Cecilia yang menyulut api yang sudah berkobar semakin membara.


Ines menoleh ke arahnya dengan tatapan mengiba, berharap menyudahi semuanya dengan cepat, hasratt nya saja tidak tersalurkan justru malah membuat semua orang emosi.


Tujuan Cecilia pun terlupakan begitu saja, nyatanya memng tidak mudah menemukan Nita dan menyelesaikan masalah lain, selalu saja ada halanagn yang membuat usahanya lagi lagi gagal.


Irsan menatap Cecilia sang istri, sungguh, kali ini dua berterima kasih padanya, jika bukan karena Cecilia yang bersikeras membuat Carl keluar dari rumah degan ide konyolnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


Sebagai mana dia tahu, Ines sudah dewasa, sudah bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, sama halnya dengan dirinya. Tapi bukan berarti bisa melakukan segala macamnya tanpa berfikir ulang, terlebih melakukan one night stand.


Irsan bangkit dari duduknya, dengan kedua tangan yang dia masukan ke dalam saku celana,


"Ayo pulang Ines!" ajaknya pada satu satunya adik sepupunya itu.


Ines mengangguk lirih, bak seorang anak kecil yang ketahuan dan tidak lagi mampu melawan. Dia bangkit dan menatap kearah Carl sebentar lalu beralih pada Irsan yang juga menatapnya,


"Jangan pernah percaya pada ucapan pria yang membawamu ke kamar di hari pertama kencan!" tegasnya memperingatkan.


Carl berdecak lembut, diselingi dengan ringisan kesakitan dari hidung yang lagi lagi terluka oleh orang yang sama. Tatapannya kini tertuju pada Ines yaang melangkah keluar dengan langkah gontai,


"Kamu emang brengsekk! Hidupmu soal selagkangann mulu." cibir Cecilia yang langsung pergi menyusul Ines yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.


"Mulutnya itu!" desah Carl menggelengkan kepalanya setelah mendengar cibiran Cecilia


"Dia memang benar, otakkmu perlu di ganti, kapan kau berubah hah? Apa kau ingin hidup seperti ini terus menerus Carl? Kau tidak akan tua dan mati? Berapa banyak lagi wanita yang akan kau permainkan, apa kau tidak tahu resikonya?" sentak Irsan lagi. "Atau kau baru akan berhenti setelah kau berpenyakit?"


Carl terkekeh, dengan santai dia bangkit dari duduknya, dan menepuk bahu Irsan,


"Jangan khawatir Dokter Irsan, aku akan bertobat jika sudah tidak ada lagi yang mau denganku!"


Irsan menepiskan tangan Carl dengan kasar. "Jangan dekati Ines lagi atau kubuat kau menyesal! Tukasnya lantas melengos pergi.


Carl menggelengkan kepalanya, dengan terus menatap semua orang yang pergi meninggalkan rumahnya yang sepi dan kosong.


"Kau tenang saja Irsan, jika bukan Ines yang datang sendiri padaku, aku juga tidak tertarik padanya. Aku akan berhenti jika Laras yang datang padaku. Dan sekarang aku butuh pelampiasan!!!


.


.


Wkwkwk ... gimana kaget? Enggak dong yaa ... Lagi lagi emang jalan Cece ketemu Nita itu gak gampang ya guys ... Kenapa? OThor sesuaikan allur sama yang di sebelah, menurut kalian waktunya sama gak? versi mereka berbeda waktu ya ... di sini Carl dan Nita emang belum terlalu dekat. Aaah othor spoilerrr nih, Nah jadi siapa bapanya si kecebong?? Wkwkwk ...