I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.292(Lupa jadi Dokter)



Cecilia terus saja menyeka pipinya yang terus basah, da beberapa kali Irsan harus menghentikan mobil yang dikendarainya agar bisa memberi Cecilia waktu. Namun tidaklah membuat Cecilia merasa lebih baik, dia justru semakin tertekan dan kembali tidak sadarkan diri.


Beruntung kepala Cecilia bersandar di sandaran seat mobil, dengna seat belt yang melingkarinya dengan aman.


"Sayang ...!" Ujar Irsan yang mengguncangkan bahu serta menepuk nepuk pipinya kembali.


Melihat sang istri yang kembali tidak sadarkan diri, Irsan pu dengan cepat melonggarkan pakaian yang dikenakannya, membuka jendela mobil agar udara yang masuk lebih segar lagi.


Dan tanpa berfikir panjang, Irsan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia membawanya ke sebuah klinik terdekat di pesisir kota xx tersebut. daerah yang kondisinya jauh bila dibandingkan dengan Rumah sakit miliknya yang besar dan bertaraf nasional. Tapi kondisi itu sangatlah tidak penting sekarang, kesehatan Cecilia lah yang utama.


Mobil Irsan kini berhenti, pria tinggi itu keluar dengan tergesa gesa dan berteriak pada suster agar membantunya. Tak lama kemudian beberapa suster datang membuka pintu hingga Irsan dapat membawa sang istri dengan mudah.


"Mana ruangan UDG?"


"Lurus didepan lalu belok kiri!" tukas seorang suster yang mengikuti langkahnya di belakang.


Irsan pun melangkah dengan cepat sampai beberapa suster terlihat mendorong blankar untuk dapat digunakan.


"Silahkan anda tunggu di luar, dokter akan segera melakukan pemeriksaan." ucap salah seorang Suster saat beberapa temannya mendorong blankar dimana Cecilia terbaring.


Dengan cepat Irsan menahan pintu agar tidak tertutup dan segera merangsek masuk. "Saya suaminya dan saya seorang Dokter."


Suster pun terkejut dan tidak dapat mengatakan apa apa saat pria itu ikut masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Periksa saturasi pernafasannya! Dan siapkan pemeriksaan tilt table test secara menyeluruh!" ujarnya lagi dengan tidak sabar.


Tilt table test sendiri dilakukan untuk memeriksa penyebab Cecilia tiba tiba jatuh pingsan bahkan terjadi dua kali dalam kurun waktu berdekatan.


"Maaf?" Seorang wanita berjubah putih keluar dari sebuah pintu dan menghampirinya. "Tilt table test?" ucapnya lagi dengan melihat kearah Cecilia yang masih tidak sadarkan diri. "Maaf ... Tapi di sini hanya klinik kecil saja. Coba saya lihat!" ujarnya dengan berjalan menghampiri Cecilia.


Dokter itu memeriksa denyut nadi dipergelengan tangan, dia juga memeriksa saturasi pernapasan lalu menempelkan stetoskop miliknya.


"Tekanan darah terlalu rendah, nafas cenderung pendek dan ...!"


"Aku tahu. Oleh sebab itu lakukan yang aku katakan tadi!" sentak Irsan dengan kesal.


Terdengar helaan nafas dari sang Dokter yang memeriksa Cecilia, dia menoleh ke arah Irsan dengan membuka stetoskopnya yang terpasang di lubang telinganya. "Kita tunggu pasien sadar, setelah itu aku akan melakukan test pemeriksaan." ujarnya dengan datar, lalu menuliskan riwayat yang menjadi tugasnya lalu menyerahkannya pada seorang suster.


"Oke ... Tunggu sampai dia sadar ya!" ujarnya dengan kembali masuk ke bilik yang lain yang ada di sana juga.


"Sial ..!" ujar Irsan kesal, dia tidak pernah dipandang sebelah mata sebelumnya, bahkan sangat dihormati dan di segani. "Dasar kam---"


"Sayang ...?"


Tiba tiba suara lirih terdengar, Irsan segera menghampirinya dan memeriksa denyut nadinya kembali.


"Apa yang kau rasakan. Sesak ... pusing, mual?" ujar Irsan yang menegakkan kepalanya sedikit keatas agar Cecilia.lebih leluasa.


Cecilia menggelengkan kepalanya. "Kenapa aku di sini? Kenapa gak pulang aja, aku ingin pulang dan tidur."


Kali ini Irsan yang menggelengkan kepalanya lirih, "Kita tidak akan pulang sebelum aku tahu kondisimu. Kau dua kali pingsan dan membuatku khawatir."


"Kamu kan Dokter, kenapa panik lihat orang pingsan." jawabnya dengan lirih.


Irsan mengulas senyuman tipis, dan memastikan dengut nadi Cecilia kembali normal.


"Sayang, akan berbeda jika orang itu adalah kau! Aku akan sangat panik bahkan bisa lupa kalau aku adalah seorang dokter."


Cecilia mengangguk kecil. "Maaf ya!"


"Kenapa minta maaf, sudah seharusnya ... aku suamimu Cecilia, dan kau terlalu banyak fikiran," ujarnya dengan menjumput ujung hidung mancungnya.


Dokter kembali masuk dan tersenyum saat melihat Cecilia sudah sadar dengan Irsan yang terus menggenggam tangannya.


"Hah?"


Dokter kembali tersenyum menatap Cecilia yang tampak bingung. "Aku hanya ingin memastikan saja sebelum memeriksamu lebih lanjut." ucapnya lagi.


Cecilia yang bingung menoleh pada Irsan, pria itu lebih teliti darinya bahkan untuk urusan bulanan dan mereka baru saja kembali honey moon.


"Apa istriku hamil?" seloroh Irsan yang langsung menebak secara asal saja.


"Hah?"


Lagi lagi Cecilia tidak dapat bereaksi dengan cepat saat mendengarnya. Tidak bisa dia bayangkan sebelumnya jika tiba tiba saja hamil.


"Sayang ... Kita baru pulang honey moon tadi pagi. Kenapa bisa hamil dengan cepat?" gumam Cecilia dengan wajah bingung dan tidak dapat berfikir.


Antara keguncangan yang dia rasakan karena Nita dan sekarang. Ada hal yang tidak juga membuatnya berfikir dengan baik.


"Segera test darah atau test urine saja!" celetuk Irsan yang kini faham kenapa dokter wanita itu tidak langsung memeriksanya tadi melainkan hanya menunggu sadarkan diri saja.


Dokter wanita itu mengangguk dengan tersenyum.


"Tentu saja, aku akan melakukan hal terbaik yang aku bisa. Dan sepertinya dugaanku benar." ucapnya dengan memanggil suster untuk membantunya mengambil sample darah Cecilia dan memeriksanya lebih akurat lagi.


Cecilia masih mengerjapkan kedua matanya yang terlihat sangat bengkak saat ini. Diantara kalut dan rasa bersalahnya terhadap Nita, dia juga tidak bisa membayangkan jika dugaan dua dokter itu benar.


"Sayang ... Gimana ini?"


"Tidak gimana gimana sayang, cukup perhatikan kesehatanmu lebih dari apapun sekarang. Kau faham?"


"Tapi kalau aku ... Gak hamil?"


Irsan menggenggam tangannya. "Its oke ... Tidak perlu di fikirkan."


Cecilia mengangguk lega setelah mendengarnya. Dan bisa sedikit tersenyum walau benang benang di fikirannya kini semakin kusut saja.


Tidak lama kemudian suster kembali dengan membawa hasil laboratorium, dia memberikan secarik kertas itu pada Irsan.


"Maaf Dok ... Dokter jaga sedang berada di poli lain, dan ini hasilnya, dan dokter tidak keberatan jika melihat hasilnya sendiri?" ujar suster itu dengan ragu, pasalnya dia tidak pernah melakukan hal itu. Tapi apa boleh buat karena dokter jaga akan sibuk wara wiri dan secara kebetulan ada Irsan yang notabene adalah seorang Dokter.


Irsan menatapnya tajam, sungguh struktural klinik yang buruk di matanya. Bagaimana mungkin pihak rumah sakit memberikan hasil pemeriksaan tanpa menjelaskan apa apa.


"Sepertinya aku harus bantu mereka, ini daerah terpencil dan beda jauh sekali dengan pelayanannya!" ujarnya dengan mengambil secarik kertas dari tangan suster.


Irsan memperhatikan satu persatu hasil yang tertera di kertas putih itu, bagaimana pun dia hanya dokter spesialis bedah dan bukan spesialis obgyn.


"Sayang. Gimana hasilnya? Apa kali ini aku bener bener hamil?"


"Entahlah ... Beri aku waktu!.Aku masih harus memeriksanya dengan akurat?" ujarnya tanpa sadar terus memperhatikan kolom kolom pemeriksaan dengan teliti.


Dia pun meletakkan kertas itu di pangkuan Cecilia, "Aku mungkin harus bertanya pada dokter Siska, pengalamanku buruk soal kehamilan."


Namun Cecilia tiba tiba tersentak dan langsung mengambil kertas hasil pemeriksaan dirinya dengan pandangan yang membola.


"Sayang! Kamu lupa kalau kamu itu Dokter? Bener bener ya ini manusia!"


.


.


Nah lho apaan tuh ... Wkwkw