I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.173(Harus persiapkan diri)



...Seperti biasa di akhir bulan bab suka kena review sehari semalam, jadi sabar ya. Walaupun othor juga gak bisa sabar nunggu lolos review. Wkwkwk Kasih like, komen walaupun bkm sempat othor bales yaa cecelover. Vote jangan lupa hihihi biar othor senang dan gembira....


.


Berkali kali Ines berusaha membujuknya namun tidak juga berhasil, Cecilia tidak mau menerima bantuan siapapun terlebih dari sepupu dan juga asisten orang yang telah mengusirnya.


"Aku bisa mengatasinya sendiri," Cecilia yang menarik Nita dan juga koper ditangannya, dia masih sadar jika Nita terlalu banyak bicara.


Mereka berdua masuk kedalam taksi dan dengan cepat pula menyuruh supir untuk melaju pergi. Ines berdecak sambil menatap taksi yang terus menjauh,


"Bagaimana aku harus mengatakan hal ini pada Irsan," gumamnya pelan.


"Katakan saja yang sebenarnya, biar dia yang mengurus masalah ini." jawab Toni dengan enteng.


"Ini gara gara kau! Kenapa kau tidak mencegah Bibi untuk tidak mengatakan hal itu."


Tobi melengos pergi menuju mobilnya, "Ayo pulang, nyonya Embun pasti akan marah jika aku membantumu."


***


"Ce ... Lo kenapa gak ikut Ines balik ke apartemen?"


"Gue bisa balik kalau gue mau, tapi gue gak mau Nit!" Cecilia menyandarkan punggungnya.


"Tadi juga Ines bilang kalau Irsan gak tahu lo di usir, gak kebayang gimana reaksinya pas tahu."


Cecilia mengerdik, merasakan kepalanya yang berdenyut denyut. "Dia pasti nyariin gue."


"Jadi lo harus pergi jauh biar si Irsan kelabakan nyariin lo." Nita tertawa, lalu ikut bersandar seperti yang Cecilia lakukan.


"Gue kayaknya gak harus pergi! Kenapa gue harus pergi jauh? Gue Cecilia dan gue gak bakal kemana mana, gue bakal hadepin masalah ini Nit."


Nita menoleh, melihat sahabatnya yang bicara dengan kedua mata yang terpejam. "Mabok lo. Tadi lo bilang bakal pergi, sekarang enggak! Dasar emang tukang mabok dipercaya."


"Gue masih sadar bego! Dan gue gak bakal sembunyi apalagi melarikan diri, kalau toh Irsan nyariin gue, gue bakal hadepin dia." ujarnya dengan mengerjapkan kedua matanya, lalu menegaķkan tubuhnya ke depan. "Heh ... Lo fikir siapa lo! Kenapa lo bohong sama gue, kenapa lo nyembunyiin semua ini dari gue? Apa gue terlalu bego sampai lo bisa ngelakuin ini sama gue." serunya dengan lantang menunjuk seat.


Membuat Supir taksi terkaget dan segera menatap spion untuk melihat apa yang terjadi dibelakangnya.


Begitu juga dengan Nita, dia terbelalak menatapnya.


"Itu yang bakal gue lakuin sama Irsan! Gue bakal marahin dia kalau perlu gue ngamuk ngamuk." Cecilia terkekeh melohat sahabatnya yang masih melongo tidak percaya. "Dan buat tuh si gardu listrik ... Gue bejek bejek tuh orang, gue bikin dia nyesel karena ngerendahin gue. Gue juga bakal buktiin sama dia kalau gue ini nyaris sempurna."


Nita masih mengerjapkan mata, "Lo yakin?"


Cecilia mengangguk dengan keyakinan luar biasa, "Gue yakin! Sekarang gue tinggal ditempat lo dulu yaa."


Nita menghempaskan tubuhnya lagi. "Elah ... Gue fikir lo mau balik kesana. Bego lo!"


Cecilia terkekeh, melingkarkan tangan dilengan Nita dan juga menyandarkan kepala di bahu sahabatnya itu.


"Gue harus nyiapin diri gue sendiri dong, jangan sampe gue nangis di depan Irsan, ya kan Nit."


"Hm ... Lo benar! Kita balik ke rumah dan persiapin diri lo Ce, buktiin sama mereka kalau lo itu bisa."