
...Tuh kan bab 94 gak ada komen samsek. Wkwkwk. Ayolah komen dong iihhh....
Cecilia keluar dari unit milik Ines dengan segala pertanyaan yang kian menumpuk di dalam kepalanya, terlebih jika Irsan yang lempeng seperti jalan tol dan tidak banyak bicara itu diam diam tapi suka menyelidiki.
"Gimana kalau selama ini dia menyelidiki gue, hidup gue, aktifitas gue, keseharian gue ... oh my god. Bisa mampus gue." gumam Cecilia yang terus menepuk nepuk jidatnya sendiri sambil terus berjalan. "Mana dia gak bakalan ngomong lagi, ahhhh!"
Dia terus berjalan menuju unitnya sendiri dengan terus bergumam tentang Irsan ini dan itu, mulai khawatir membuatnya marah lagi disaat kondisi hubungan mereka makin dekat.
"Cecilia."
Cecilia tersentak kaget saat melihat Dirga berdiri di depan unitnya, dua orang berpakaian rapi tanpa seragam namun memperlihatkan jika mereka adalah anggota kepolisian berdiri di belakang Dirga.
"Dirga?"
"How are you Ce?" Dirga memeluk Cecilia erat, "Maafin gue yaa, gue banyak salah sama lo selama ini."
Cecilia pun melingkarkan tangan dan menepuk nepuk punggungnya, "It's ok Dir ... Gue udah maafin lo kok. Gue harap yang terbaik buat lo, lo udah keluar dan bakalan rehab kan."
"Hm ... Berkat lo dan dokter Irsan."
Cecilia terkekeh dengan terus menepuk punggung Dirga, bagaimanapun juga mereka pernah saling mencintai satu sama lain, hubungan yang terjalin cukup lama, bukan hanya kesedihan yang dia dapatkan tapi juga secuil kebahagian juga dia dapatkan dari Dirga. Terlebih hanya Dirga yang tahu masa masa sulit Cecilia saat melepaskan diri dari barang haram itu.
Pelukan terurai dengan sendirinya, Cecilia menepuk kembali bahu Dirga. "Semangat ya ... Gue masih akan selalu bantu lo kalau lo butuh."
"Duit?" Dirga terkekeh.
Begitu juga dengan Cecilia, dia tertawa mencubit lengannya "Duit mulu lo! Tapi nanti gue bakal tanya duitnya dipake apa. Itu juga kalau gue punya duit yaa."
"Canda gue Ce ... Gue tahu lo baik, tapi gue juga tahu diri. Lo masih masih ngelakuin ini aja gue bener bener beruntung, padahal gue ampir bikin lo celaka."
"Bagus lah kalau lo tahu diri juga Dir." Cecilia kembali terkekeh. "Masuk?"
Dirga melirik kedua pria dibelakangnya yang hanya diam seperti patung itu, lalu kembali menatap Cecilia, "Gak Ce ... Gue cuma mau pamit sama lo dan cuma bilang makasih, pengawal gue udah gak sabar." ujarnya dengan kedua alis naik turun.
"Lo baik baik di sana Dir, apa gue perlu hubungi keluarga lo agar mereka tahu keadaan lo dan datang kesini nengokin lo?"
"Gak perku Ce, lo tahu gimana keluarga gue. Cuma Regi yang udah gue kasih tahu. Ya walaupun dia sibuk dan gak tahu kapan dia datang." Dirga kembali memeluk Cecilia, kali ini lebih erat dari sebelumnya, kedua matanya berkaca kaca penuh penyesalan.
"Gue harap lo gak berubah Ce ... Lo masih baik sama gue walau hubungan kita udah berakhir."
"Pasti Dir ... Gue gak bakal berubah! Tapi lo harus berubah, maafin gue karena gue yang bikin lo kayak gini pada awalnya."
Ekhem
Suara deheman keras dari arah belakang mengagetkan keduanya, terlebih Cecilia yang menangkap sosok dengan tatapan tajam dengan rahang mengeras. Seketika dia melepaskan diri dari Dirga, membenahi pakaiannya sendiri serta rambutnya dengan kikuk.
Irsan hanya menatapnya tajam, tanpa kata kata keluar dari mulutnya, namun kemarahan jelas terlihat dari wajahnya.
"Dokter Irsan?" Sapa kedua anggota polisi tanpa seragam polisi itu.
Irsan hanya mengangguk kecil saja, dia kembali menatap Cecilia bak seorang pemburu yang sejak awal sudah memindai mangsanya.
"Kau sudah datang?" tanya Dirga yang tidak tahu jika hubungan Cecilia dan Irsan semakin jauh. "Aku ucapkan terima kasih atas semuanya, ya walaupun aku heran kau yang melaporkanku tapi kau juga mencabut laporannya. Tapi, sekali lagi terima kasih dok."
"Hm ... aku melakukan ini karena ada gadis bodoh yang memintaku melakukannya!" jawabnya tanpa mengalihkan pandangan dari Cecilia.
Dirga menoleh ke arah Cecilia yang kikuk, kembali lagi beralih pada Irsan. "Kalau begitu aku pergi. Ce ... Gue pergi!" ujarnya dengan menepuk pundak Cecilia.
Irsan tidak mengatakan apa apa, namun matanya saat ini mengunci tangan Dirga yang berada di pundak Cecilia. Mengikuti gerakannya sampai Cecilia sadar dan menepiskannya pelan.
**
Setelah kepergian Dirga, Cecilia masuk kedalam unit lebih dulu disusul oleh Irsan yang menutup pintunya keras.
"Dimana Carl?" tanyanya, Irsan hanya diam tidak menjawab, "Apa dia tinggal di sini juga?" tanya Cecilia lagi. Tidak ada jawaban lagi.
Cecilia mengambil air putih dan menenggaknya sampai tandas, mencium aroma aroma kemarahan dari pria yang hanya berdiri menatapnya tajam.
"Kenapa kau masih berani memeluk pria lain?"
"Hah?" Cecilia menoleh ke arah belakang, "Memangnya kenapa? Orang cuma pelukan biasa kok."
"Bagiku tidak!"
"Astaga ... Itu cuma pelukan biasa, pelukan seorang teman, pelukan perpisahan. Kamu juga pasti gitu sama temanmu."
"Tidak! Aku tidak pernah melakukannya dengan temanku."
Cecilia berdecak, lalu melangkah mendekati Irsan. "Walaupun teman?"
"Ya ... Walaupun teman, apalagi seorang pria dan wanita."
"Walaupun pelukan hanya untuk menenangkan?"
"Ya!"
"Kalau temanmu akan pergi dan berpamitan?"
"Tidak Cecilia! Untuk apa aku melakukannya." jawab Irsan dengan mendengus. "Aku tidak pernah sekalipun."
"Kau memang tiang listrik!" Cecilia kembali membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju lemari es, mengambil wine dan membawanya ke meja makan yang hanya ada dua kursi itu.
Gadis bertindik di hidungnya itu menuang wine ke dalam gelas, namun Irsan merebutnya tepat disaat Cecilia hendak menenggaknya.
"Kau ini kenapa?"
"Memangnya kenapa? Aku cuma akan minum sedikit aja." sahut Cecilia yang terus berusaha merebut gelas wine dari tangan Irsan.
"Tidak usah minum bisa kan? Air putuh saja, itu lebih bagus untuk kesehatanmu."
"Aku tidak suka dilarang larang! Apalagi soal minum, aku akan berhenti kalau aku ingin berhenti." sahut Cecilia dengan tatapan menyalang ke arah Irsan. "Kembalikan gelasku. Kau ini kenapa, datang marah dan meributkan hal sepele, pelukan itu gak ada artinya buatku, kau pikir rasanya sama kayak aku meluk kamu. Itu beda tahu." ujarnya lagi dengan kesal, lalu berjalan menjauhi Irsan, dia duduk di sofa dan menenggak wine miliknya. "Lagian aku gak akan minum satu botol, segini doang." mengangkat gelasnya.
Irsan menghela nafas panjang, kemarahannya kali ini seolah tidak berguna lagi untuk Cecilia. Dan perihal pelukan biasa yang menurutnya tidak itu pun sudah terpatahkan oleh Cecilia yang mulai kesal. Irsan kemudian menghampirinya lagi.
"Apa. Mau marah lagi? Marah aja terus sampai bosan. Aku kasih tahu ya, bagiku Dirga itu udah kayak temen biasa, udah gak ada rasa, cinta? Gak ada ... Tapi aku juga gak benci sama dia. Jadi pel---"
Ucapannya terhenti karena Irsan mengecup bibirnya, hanya kecupan saja namun mampu membuat Cecilia terhenyak.
"Apa apaan orang lagi ngomong?"
.
Nah lo siapa yang bisa lawan di Cece. Tiang listrik aja jadi melehoy sekarang. Wkwkw. Masih mau bang bikin Cece ngamuk sama ketidak jelasan abang doksan Wkwk.
Semalem kena review guys, 2 bab malah. Huuuu kesel deh. Othor masih akan kasih 3 bab yaa. Semoga lancar. Tapi jangan lupa like dan komen yang banyak, gift, sama rate bintang lima sekalian. Oke Cecelover.