I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.47(Berubah fikiran)



Cecilia dan Nita keluar dari tempat karoke dengan terus tertawa, dua jam cukup melelahkan dan membuat fikiran Cecilia kembali senang, melupakan semua ucapan Irsan yang membuat moodnya anjlok seketika.


"Difikir fikir ngapain juga gue cape cape mikirin dia ya tadi! Anjim banget." ujarnya dengan merangkul bahu Nita.


"Iya ... Lo sih bego! Ngapain lo ter provokasi kata kata dia! Buang waktu tahu gak."


"Heh ... Yang punya ide ini siapa coba? Siapa? Lo kan, jadi lo yang bego. Gue mah pinter."


Nita tertawa, begitu juga dengannya. Merasa bodoh dengan semua yang di ucapkan oleh orang yang tidak mengenalnya dengan baik, dan seharusnya dia bersikap sama. Tidak peduli apa yang orang katakan, sekali lagi. Orang lain tidak tahu apa apa mengenai hidupnya.


"Kita balik aja deh! Pusing gue lama lama di sini." tukas Nita saat keduanya menunggu lift yang masih belum terbuka.


"Enak aja! Kita ke klub malam ini. Kita udah lama gak nongkrong bareng kan." Ujarnya lagi lagi menarik bahu Nita yang dia rangkul.


"Gue hari ini mau ketemu klien baru."


"Hah serius lo? Dapet dari mana? Kencan online lagi lo ya?" ucapnya dengan suara keras, sampai sampai semua orang yang berdiri disampingnya menoleh.


"Gila lo Ce. Pelan amat suara lo. Gak sekalian aja lo teriak biar semua orang denger." sindir Nita dengan kedua mata terbeliak ke arahnya.


"Sorry ... Gue keceplosan saking senengnya, lo kan udah lama off, jadi gue seneng Nit." jawabnya dengan menyenggol bokong Nita dengan bokongnya sendiri.


Nita hanya berdecak, memang dia sudah lama tidak aktif dalam pekerjaannya menjadi Sugar Baby. Selain trauma, dia juga takut kalau pria dewasa yang ditemuinya di situs sugar itu sama dengan pria yang terakhir bersamanya.


Lift terbuka, keduanya masih dengan terus berceloteh ria. Tidak peduli semua orang yang ikut masuk bersama mereka di lift itu mendengarkan obrolan mereka.


Menjadi sugar baby tidak hanya mendapat kemewahan belaka, harta yang mudah dicari, kesenangan, bahkan semua fasilitas diberikan dengan mudah, walau kasih sayang yang didapat juga belum tentu tulus, ditambah resiko lainnya yang harus mereka dapatkan.


Nita termasuk tidak beruntung, bertemu dengan sugar Daddy terakhir yang hanya akan bergai rah saat menyiksanya, memborgolnya saat melakukan adegan ranjang dan bahkan mencekokinya dengan minuman keras hingga pingsan, sulit untuk keluar dari lingkaran setan itu, banyak kebutuhan hidup yang harus dia fikirkan. Beruntung pria kejam itu meninggal karena terus mengkomsumsi obat kuat dan membuat Nita terlepas dari segala siksaan, namun juga harus menghadapi trauma berat selama beberapa bulan.


"Tapi lo ingat Nit, lo lihat gerak geriknya dulu, jangan mau disosor kalau dia belum ngeluarin duit, atau keliatan tuh kalau dia kasar dari awal. Kata katanya lo bisa nilai sendiri kan." pungkas Cecilia yang tiba tiba kembali ingat kata kata sarkas dari Irsan.


"Iya gue ngerti Ce, apa perlu lo yang tes duluan?"


Obrolan unfaedah mereka di tempat umum membuat orang di dalam lift menoleh ke arah mereka, dan keduanya membungkam saat menyadari mereka jadi bahan perhatian semua orang.


"Lo sih!" sikut Nita.


"Lo yang mulai! Gue cuma nambahin teori." timpal Cecilia kembali menyikut sahabatnya itu.


Lift terbuka, mereka kembali ke lantai satu di mana coffee shop milik Irsan berada, namun mereka tidak berjalan melewati tempat itu lagi, melainkan berjalan memutar ke arah sebaliknya.


Ogah banget balik lagi walaupun cuma lewat doang.


"Cecilia!"


Cecilia refleks menoleh setelah mendengar suaranya di panggil dari arah belakang, begitu juga Nita yang ikut menolehkan kepala.


"Dimas? Ngapain lo?" ujar Cecilia saat melihat pria kurus kerempeng itu berlari ke arahnya.


"Cecilia! Gue nyariin lo dari tadi." ujarnya dengan nafas terengah engah, kedua tangannya bertenger di pinggang kurusnya.


"Lo suruh masuk, besok jam delapan, satu shif sama gue. Lo patner gue juga besok."


Cecilia ternganga, tentu saja terhenyak saat mendengarnya, begitu juga Nita disebelahnya yang melongo atau bahkan kasian karena Dimas kesulitan bernafas dengan cekungan tulang lehernya.


"Kata siapa? Gue gak keterima kerja Dim, ngapain gue kesana lagi. Udah jelas jelas Manager bilang gue gak di terima kerja." sahutnya, dia juga tidak mungkin menceritakan pada Dimas kalau bukan manager yang menolaknya melainkan pemiliknya langsung.


"Justru itu. Ini Bos yang minta! Katanya lo diterima. Besok. Jam 8." ujar Dimas yang masih mencoba mengatur nafasnya sendiri.


Cecilia tidak hanya terbeliak, dia juga tersentak kaget dan melirik Nita yang tidak kalah kaget dengannya.


"Bos? Irsan?"


"Iya ... Dia yang suruh!"


"Ogah ... Gue gak mau nelen ludah gue sendiri, gue udah gak mau kerja disana. Gue mau nyari kerjaan ditempat lain Dim." kilah Cecilia, tentu saja dia menolaknya. Untuk apa lagi, dia sudah memutuskan hubungannya dengan Irsan, hubungan yang bahkan belum sama sekali belum terjalin.


"Ce ... Lo ambil aja! Lo bisa buktiin sama dia kalau omongan dia salah besar." bisik Nita ditelinganya.


"Buat apa Nit? Cuma buang waktu doang! Ogah, mending gue santai santai sampai bisa ketemu Reno lagi."


"Justru itu, mungpung lo sama Reno gak ketemu, lo pergunain kesempatan ini. Gue pengen lihat Si Irsan yang ngejar lo. Gak penasaran lo?"


"Enggak buat apa?"


"Ayolah Cecilia, potensi lo bagus tahu! Kerja bareng lo juga menyenangkan." rayu Dimas agar Cecilia menerima nya.


"Enggak Dim kayaknya, makasih ya. Bilangin sama bos lo itu, gue gak minat! Kalau mau dia aja yang samperin gue, jangan nyuruh lo."


"Hah?" Dimas terkesiap dengan jawaban Cecilia, dia sangat berani menyuruh bosnya yang datang langsung. Itu tidak mungkin terjadi fikirnya.


Dimas terdiam beberapa saat, menatap dua gadis didepannya bergantian.


"Malah bengong lo!" desis Nita yang melihatnya tidak tega.


"Mana mungkin kan bos nyamperin lo. Ngadi ngadi nih orang!" Celetuk Nita lagi, dia tidak mungkin membuat Dimas berfikir yang tidak tidak sedangkan Cecilia yang mendengus.


"Udah lo bilang gitu aja sama bos lo itu! Gue berubah fikiran buat kerja di sana, gue udah punya tempat kerja yang jauh lebih keren dari tempatnya, gajinya juga lebih gede. Bilang juga makasih sama dia." ucapnya berbalik, sedetik kemudian dia kembali berbalik, "Eeh jangan bilang makasih deh! Dia gak kasih apa apa sama gue." ujarnya lagi meralat.


Dimas masih melongo saat kedua gadis berlalu pergi, entah apa yang harus dia katakan pada bosnya tentang Cecilia yang justru kini menolak bekerja. Pria kurus itu kembali ke Coffee shop dan masuk kedalam ruangan manager.p


Andre yang juga penasaran kenapa bosnya bisa berubah fikiran pun menatapnya tidak sabar.


"Gimana? Kau menemukannya tidak! Dia pasti datang besok kan?"


.


Lah si tiang listrik kenapa sih! Ngadi ngadi aja lo. Mulai nyetrum yaa. Wkwkwk. Tahan Ce, jangan mau disetrum. Biarin dulu aja sampe tuh tiang listrik jamuran.wkwk


Makasih readers buat semua dukungan kalian. The best pokoknya. 3 bab hari ini cukup yaa. Lanjut besok.