I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.122(Gak jelas!)



"Ya terus?"


Irsan menutup layar laptop setelah mematikkannya, kemudian dia mengangkat bokongnya dari kursi lalu berjalan mendekati gadisnya dengan kedua tangan yang dia masukkan kedalam saku celana.


"Maaf Cecilia. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu ... Rumah ini memang bukan untukmu. Rumah ini sudah jadi milik orang lain sebelum kau datang." ujarnya lalu mengacak pucuk kepala Cecilia lalu beranjak pergi. "Satu jam lagi kita akan kembali ke apartemen, bersiapnya." ujarnya lagi saat dia hendak naik ke atas.


Cecilia terhenyak, merasa kecewa dengan jawaban dari pria yang kerap berubah ubah.


"Ya memangnya aku mau kalaupun kau kasih rumah ini dan juga isinya, dan baju sialan ini! Dasar orang gagal move on," serunya dengan menatap tajam punggung Irsan yang terus melangkah tidak peduli.


"Ihhh ngeselin banget. Terus buat apa aku di ajak ke sini? Ditemenin enggak, di kelonin juga enggak, dasar tiang listrik, gak peka banget! Sorry ya gue masih mampu cari tempat. Ih kesel gue!"


Dengan menghentakkan kaki, Cecilia ikut naik ke atas, masuk ke dalam kamar yang sebelumnya dia tempati. Membuka pakaiannya dan melemparkannya begitu saja, "Gak sudi gue pake baju ini. Ini juga baju ada pemiliknya sebelum gue datang. Rumah ini sudah jadi milik orang lain sebelum kau datang." ledeknya sendiri menirukan ucapan Irsan tadi. "Ngeselin banget! Gak peka dan gak punya perasaan. God gini banget gue punya pacar!"


Cecilia terus mendumel merutuki Irsan, dia juga mengambil bathrobe dan mengenakannya. "Mendingan gue pake bathrobe daripada harus pake baju sialan itu, yang ada dia makin inget mantannya yang kabur gak tahu diri, gak bisa move on."


Setelah hampir setengah jam uring uringan tidak jelas, Cecilia kemudian kembali keluar dan mencari Bi Ira. Terlihat Bi Ira tengah membereskan barang barang yang dia masukkan ke dalam tas besar.


"Bi Ira?"


"Ya Neng?"


"Bi Ira mau kemana?"


"Bibi mau pulang ke rumah Ibu Neng ibunya Mas Irsan. Neng juga mau pulang kan? Tadi Mas Irsan udah bilang sama Bibi."


"Iya bi."


"Kau belum siap juga?"


Bi Ira menoleh pada majikannya, namun tidak dengan Cecilia yang hanya mendengus kasar dengan kedua tangan dia lipat di depan dada.


"Cecilia, kita bisa terlambat. Kau belum mandi?"


"Enak aja ... ya udahlah!"


"Lalu kenapa kau masih memakai jubah mandi, bukankah pakaianmu sudah aku siapkan?"


"Gak sudi aku pake baju yang udah ada pemiliknya! Mending aku pake bathrobe, tenang aja, nanti aku kembalikan." jawabnya dengan ketus, tanpa ingin melihat atau pun menoleh ke arah belakang di mana Irsan berdiri.


Irsan hanya menghela nafas, lalu mengangkat koper milik Bi Ira dan berjalan ke luar tanpa mengatakan apa apa. Cecilia memukul udara saking kesalnya,


"Neng ... Bibi udah di jemput, bibi pamit ya."


"Iya bi."


"Oh iya ... Jangan galak galak sama Mas Irsan, dia orang baik kok, cuma ya gitu ...!" ujarnya lagi lalu menyusul Irsan yang sudah lebih dulu keluar.


Irsan kembali masuk ke dalam, Cecilia memalingkan wajahnya dengan kesal.


"Kenapa hm? Kau ingin tinggal di sini dan tidak mau pulang?"


"Gak sudi."


"Kalau begitu, ayo kita pulang Cecilia."


Cecilia membalikkan tubuhnya dan menyambar tas miliknya, "Ya ayoo ...!"


Irsan mencekal lengannya,"Kau marah padaku?"


"Iya! Terus kalau aku marah kau mau apa?" ujarnya jujur, dia memang suka sekali terang terangan.


"Maafkan aku Cecilia, apa ucapanku membuatmu salah paham?"


"Salah paham? Hello Dokter yang baik budi pekerti, aku gak salah paham ya ... Ucapanmu emang bikin aku marah ... Kenapa kau mengajakku kemari hanya untuk pamer?"


"Aku tidak pamer Cecilia, aku mengajakmu kemari karena aku harus mengurus sesuatu di sini."


"Iya ... Mengurus perasaan yang masih tertinggal, gagal move on!" cibirnya.


"Cecilia! Aku ...!"


"Udahlah, kau juga gak bakal ngelakuin apa apa kalaupun aku marah." ujarnya menyela.


Irsan menghembuskan nafas kasar, cekalan tangan dilengan Cecilia pun beralih, dia mengenggam tangan Cecilia, "Rumah ini akan aku jual Cecilia ... Dan aku ke sini untuk mengurus semuanya, maaf jika membawamu kemari karena saat itu mendadak. Aku juga harus pergi ke rumah sakit. Maaf jika penjelasan dariku juga tidak kau mengerti. Aku memang tidak berniat memberikanmu rumah dan apapun yang ada di sini, sudah saatnya aku melangkah bukan? Aku sudah bertahan selama beberapa tahun, dan sudah saatnya aku move on."


Cecilia tersentak, menatap Irsan yang kini berubah manis lagi setelah membuatnya kesal karena kata katanya sendiri.


"Aku sudah memberikanmu apartemen, kenapa aku harus juga memberikanmu rumah Cecilia?" Irsan mengulas senyuman tipis.


Cecilia memukul dadanya keras, "Ihh ... Nyebelin banget! Maka nya kalau ngomong itu yang jelas, kau ini serba gak jelas. Semua orang pasti akan berfikir sama denganku kalau omonganmu begitu."


"Ya aku tahu! Maafkan aku ya." Irsan mengelus kepala Cecilia, lalu menariknya ke dalam pelukannya. "Maafkan ketidak jelasanku."


"Enak saja cuma minta maaf!" Cecilia mendorong kembali dadanya. "Cium aku!" ujarnya dengan lantang.


"Heh?"


"Iya ... Cium aku kalau kau mau minta maaf dengan benar!"


"Cecilia!"