
"Cari siapa ya?"
Kedua gadis itu tersentak kaget saat melihat pria berkaca mata hitam yang sejak tadi bicara dengan Irsan kini berdiri tegap didepan mereka.
"Kalian sedang mencari seseorang atau sesuatu?" tanya nya lagi.
"Aha ... Tidak, kami hanya melihat lihat. Iya kan Nit." sahut Cecilia dengan menyenggol Nita.
Nita mengerjap kaget, "Iy--iya pak ... Om eeeh. Kami lagi lihat lihat aja."
Terlihat dahi yang mengkerut denvan kedua mata memicing di balik kaca mata hitam yang dikenakannya, kedua tangan dia masukkan ke dalam saku celana.
"Oh ... ku kira kalian mencariku." Ujung bibirnya terangkat sedikit, dengan jari telunjuknya dia melorotkan kaca mata lalu mengedipkan satu mata ke arah mereka, setelah itu dia kembali berjalan keluar dari area golf menuju kafe.
"Eeeh apaan tuh! Apa dia lagi ngode sama kita." Nita menengok ke arah belakang mengikuti langkahnya.
"Ngode pala lo! Udah ah ayo kita ikuti dia. Gue rasa Irsan masih di sini." Cecilia mengayunkan kedua kakinya masuk kedalam area kafe.
Sementara Nita mengikutinya di belakang dan berharap bertemu lagi dengan pria yang mempesonanya itu.
"Ce ... jadi kita kesini mau ketemu Satya apa Irsan?"
"Satya ... tapi karena nihil dan malah ketemu Irsan ya udah kita lihat Irsan dulu. Gue pengen tahu apa yang dia lakukan di sini. Mencurigakan gak sih Nit?"
Nita mengerdik, "Gak tahu gue, fikiran gue ke distrack sama tuh hot Daddy."
Langkah Cecilia terhenti saat melihat seseorang berdiri dengan menatap nya tajam, kedua tangan masuk ke dalam saku, juga rahang tegas khas miliknya.
Nita yang hanya mengekor di belakang justru menabrak punggung Cecilia.
"Aw ... Ngapain sih lo berhenti tiba tiba." Namun sedetik kemudian wajahnya pucat pasi saat melihat Irsan di depannya. "Mampus lo Ce. Gue gak ikutan yaa." ujarnya lagi mengambil langkah seribu, dia berbalik arah dan bergegas pergi.
"Kau mau kemana?" ujar pria berjas hitam menghalau langkah kakinya.
Nita menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menoleh ke arah belakang. "Mampus."
***
Kedua gadis terduduk lesu dengan kepala tertunduk, di depannya dua pria dengan tatapan tajam yang tidak berhenti menatapnya.
Irsan menoleh ke arah temannya tanp mengatakan apa apa, lalu pria itu bangkit dan menarik tangan Nita dan membawanya pergi.
"Nit ...!"
"Ce ... Tolongin gue."
Irsan hanya mendengus pelan, "Carl tidak akan melakukan apa apa pada temanmu Cecilia."
Cecilia menoleh lagi ke arah pria tampan yang perlente itu, "Oh namanya Carl."
"Kenapa kau kemari Cecilia?"
"Aku ... Aku cu--cuma hangout biasa aja sama Nita, katanya ada tempat rekomended. Eeh ternyata di sini." jawabnya dengan terkekeh.
"Jangan bohong padaku! Kau pasti akan menemui Satya bukan?"
"Eeh ... Enggak kok! Mana mungkin."
"Eehh mana ada! Yang ada juga aku yang harusnya tanya kenapa kau ada di sini. Kau bilang tadi pagi akan ke rumah sakit. Tapi malah kemari. Mana dia mencurigakan banget lagi kayak intel."
"Dia?" Irsan menunjuk ke arah Carl yang duduk didepan Nita.
Cecilia mendengus kesal saat melihat Nita justru ketawa ketawa bersama pria bernama Carl itu, mereka tampak sudah akrab saja.
"Sialan tuh anak, gak bisa lihat yang bening!" gumam Cecilia.
"Dia temanku, namanya Carl. Dia baru datang dari luar negeri dan kami janjian bertemu di sini." Irsan ikut menoleh ke arah Carl yang tengah berkelakar bersama Nita. "Dasar buaya! Apa dia tidak pernah berubah."
Cecilia ikut mengangguk setuju, "Dia kereen bisa langsung akrab sama Nita walau baru bertemu, gak kayak kamu."
"Aku bertanya sedang apa kau di sini Cecilia? Jangan bicarakan hal yang tidak penting."
"Nita temanku ... dia itu pentung, bukannnya Carl itu juga temanmu. Aneh, masa gak perhatian sama temannya sendiri."
"Cecilia jawab saja pertanyaanku?"
"Oke oke ... Fine, aku memang merencanakan sesuatu sama Ines untuk ngerjain Satya, tapi keburu aku lihat kau tadi. Sementara Satya gak ada di sini."
"Satya memang tidak akan kemari lagi!"
"Emangnya kamu tahu? Kenapa ... Apa karena video itu viral. Tapi sekarang video itu hilang, sama sekali gak ada."
"Mungkin, aku tidak tahu."
"Kau pasti tahu sesuatu!"
"Tidak Cecilia. Aku tidak tahu apa yang terjadi, dan kenapa video itu hilang. Tapi aku juga tidak akan tinggal diam kalau Satya berani menemui Ines kembali. Jadi kau tidak usah repot repot dengan apa yang akan kau lakukan apapun itu, aku tetap tidak akan setuju Satya menemui Ines. Untuk apa? Sekalipun hanya meminta maaf."
Cecilia mendengus kesal, "Ya Ines pengen Satya datang meminta maaf, kalau perlu bertekuk lutut. Aku juga setuju itu. Dia brengsekk dan dia wajib meminta maaf."
"Tidak perlu. Untuk apa? Yang ada hanya akan memalukan saja. Dia tidak pantas menerima maaf Satya, bahkan melihat wajahnya lagi."
"Eeeh ...!" Cecilia mengernyit dengan penuturannya yang sediit membingungkan. Kenapa Satya tidak perlu meminta maaf, Ines juga tidak perlu menerima maafnya. Jadi biarkan gitu aja. Enak banget si Satya kalau gitu. Cecilia membatin. Tapi justru lebih menguatkan dugaannya kalau yang menghapus video viral di internet adalah dirinya. "Kau pasti yang menghapus video itu. Iya kan?"
Irsan mengulas senyuman tipis. "Kenapa kau sangat yakin aku yang melakukannya, aku hanya seorang dokter, apa yang aku maksud itu bukan seperti yang kau fikirkan." kilahnya dengan merogoh ponsel yang kini bergetar di dalam saku celananya.
"Kau pasti bohong!"
Irsan mengulas senyuman saat melihat layar ponsel yang menyala, lalu melirik ke arah Carl sekilas. Setelah itu dia kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.
"Aku tidak bohong Cecil ... Aku tidak melakukan apa apa."
"Ya bukan kau yamg melakukannya! Tapi kau nyuruh orang kan. Jujur aja kenapa sih! Nyebelin banget." Dengus Cecilia yang semakin terlihat kesal.
"Carl yamg melakukannya. Dia sangat profesional dalam hal ini. Aku hanya meminta sedikit bantuannya saja."
Cecilia kembali menoleh ke arah Carl, dia teringat Regi temannya yang juga sangat lihai dalam masalah IT.
Cecilia menggebrak meja. "Tapi bukannya itu malah menguntungkan Satya ya? Dia jadi bebas gitu aja dari masalah ini, dia gak oerlu minta maaf, dia juga gak perlu pusing mikirin video viral itu, dia juga bebas dari hukuman sosial karena videonya di hapus. Enak banget kan. Kayak gak punya dosa."
"Kata siapa aku melakukannya agar dia bisa lepas begitu saja? Aku justru menyelamatkan orang."
"Magsudmu apa. Siapa yang kau selamatkan."