
Sementara di tempat lain.
Cecilia yang masuk ke dalam ruangan nyaris saja terlambat, sesuai dengan apa yang sudah di tugaskan Dosen sebelumnya dia pun berjalan ke arah meja di sudut ruangan, meja yang selama ini ditempati Dosen saat memberikan materi perkuliahan. Gadis itu meletakkan tasnya dan tidak lupa laptop miliknya ke atas meja. Sejurus kemudian dia berbalik ke arah depan. Sementara Nita duduk ditempatnya, suara semakin berisik saja, mereka seakan tidak peduli pada Cecilia, mereka sibuk dengan urusannya masing masing, bercanda, ada pula yang menertawakannya. Segala macam topik yang sudah tidak bisa disebutkan satu persatu.
Ekhem!
Ekhem!
Cecilia berdehem sebanyak dua kali dengan menghadap ke arah teman temannya. Kembali terdengar riuh suara mereka yang tidak menyangka jika Cecilia lah yang di pilih oleh Dosen yang terkenal tegas itu.
"Guys ... kita mulai belajar?"
'Alah bacoot lo'
'Taaik lo Ce! Mana bisa lo, lo aja gak pernah masuk kuliah so mau ngajarin kita kita. Bener gak?'
'Yoi ... Bisa bisa berantakan nih nilai gue gara gara lo. Dah lo mending duduk deh,'
'Hooh ... Lagian masih ada kok orang yang lebih kompeten dibanding lo.'
Ucapan ucapan sarkas dari teman temannya membuat Nita tersentak, dia melemparkan bolpoin ke arah orang yang tengah mencibir sahabatnya, juga benda benda yang dia bawa pun tidak luput dia lempar ke arah siapa saja.
"Sialan lo ... Gak usah ikut ngomong." ujarnya pada hampir semua orang di ruangan itu.
Namun berbeda dengan sikap Cecilia, gadis yang selalu mengatakan kalau dia itu kuat dan pemberani maju dua langkah ke depan.
"Gue tahu kalian pasti kaget, sama gue juga kaget! Kalian gak percaya kan kalau gue mampu berada di depan kalian ini dan kasih materi dari Mr Harsa? Gue apalagi ... Gue gak percaya diri." ujarnya dengan kembali mundur dan bersandar pada meja di belakangnya lalu melipat kedua tangan di depan dada. "Tapi seseorang pernah bilang sama gue. Kalau kita gak bakal tahu jika belum pernah nyoba, so ... Gue bakal coba ngelakuin yang terbaik, gue gak bakal nyia nyiain kesempatan yang dikasih sama gue. Kasih gue kesempatan buat buktiin kalau gue bisa dan gue mampu. So that's fair!" terangnya dengan penuh percaya diri. "Gue gak minta kalian buat langsung percaya, tapi seenggaknya, kalian ngerti ini." terangnya lagi dengan menyalakan proyektor.
Layar lebar berwarna putih menyala di depan, tugas materi yang diberikan oleh Pak Arsa terpampang dengan jelas di dalam proyektor. Cecilia menjelaskannya secara gamblang, dengan sangat jelas seolah dia membaca seluruh materi. Hampir semua teman temannya tidak peduli padanya, hanya Nita yamg memperhatikannya dengan seksama. Ada pula yang hanya sekedar melihat saja, karena melihat teman-temannya yang tidak banyak memperhatikannya. Cecilia pun kembali mematikan layar proyeksi.
Dia menghadap ke arah mereka, lalu tersenyum, mulai menghela nafas sesaat sebelum kembali bicara dengan caranya sendiri, seolah yang dia bicarakan bukanlah materi perkuliahan, gaya bicaranya santai namun juga lugas, dia memacing teman temannya dengan pertanyaan, terlihat mengobrol biasa dan sesekali bercanda.
Menarik perhatian orang lain adalah keahliannya, satu persatu teman-temannya mulai memperhatikan dia, bicara seolah seorang profesional dengan menyenangkan sampai tak terasa semua materi telah dia sampaikan tanpa disadari oleh teman-temannya. Hanya Nita yang paham, terlebih dialah yang emmbantu Cecilia merangkum semua materi menjadi lebih singkat.
"Gimana seru kan? Temen gue tuh." Nita membanggakan dirinya sendiri.
"Eeh apaan?"
Cecilia terkekeh, kembali terduduk didepan laptop.
"Eh lu bego apa. Yang tadi itu materi lo tahu nggak? Enggak kan. Lo pada nggak sadar kalau lo semua udah pada bego."
"Bacott lo Nit! Lo sama Cecilia kan sebelas dua belas."
Nita terbeliak sempurna, "Eeh kagak percaya sama gue. Lo semua terhipnotis oleh Cecilia. Lo fikir sekali lagi deh, semua yang dia bilang itu materi. Lo periksa dong SKS lo! Lo semua salah kalau ngeraguin Si Cece dan bilang dia gak bisa."
Teman-temannya saling menatap satu sama lain, ada juga yang saling menyikut dan mempertanyakan kebenarannya. Apakah benar yang dibawakan Cecilia adalah materi perkuliahan.
"Bener gak?"
"Bener bego! Nih lihat?" seru salah satu temannya di belakang menunjukan benda pipih di tangannya.
Dia mencondongkan kepalanya dengan kaki yang dia topangkan satu sama lain. "Gimana masih belum percaya kalau gue bisa? Kalau lo masih sangsi sama gue, dan gue gak berhasil pada jadwal besok. Lo gue rekomedasikan buat gantiin gue. Gue bakal bilang ke Mr Harsa buat rekrut lo aja? Gimana ... Deal?"
Temannya itu melihatnya dengan tatapan menyalang ke arahnya lalu mendengus.
"Lo berani gak?" timpal Nita dengan penuh semangat.
"Serah lo deh Ce!" cicitnya dengan malas.
Cecilia kembali turun, lalu dia berjalan ke arah depan dan menyalakan kembali layar proyektor.
"Kalau kalian mau salin, silahkan salin, kalau males nyalin juga gak masalah buat gue, gue cuma ingin mastiin kalian ngerti dan kalian bisa jawab kalau pas Mr Harsa bisa mengisi jadwal." ungkapnya acuh, lalu kembali mematikannya.
"Woi ... Jangan dimatiin dong!"
Cecilia kembali terkekeh, "Lo mau nyalin? Bilang dong dari tadi."
Gadis itu telah berhasil di sesi pertama, padahal ini juga kali pertama dia mengisi jadwal dosen pula. Namun dia merasa dia sudah puas karena berhasil membuat teman temannya menurut padanya. Walaupun dengan caranya sendiri yang tentu saja lebih menyenangkan dibandingkan saat Mr Harsa hadir.
Mereka juga tidak ragu bertanya, tidak ada yang perlu di takutkan dan bisa sedikit belajar dengan santai.
"Nit ... Yang gue bawain bener kan SKS hari ini?" tanyanya dengan suara amat pelan. Dia hanya memastikan saja kalau apa yang disampaikan itu benar.
"Hooh ... Lo keren!" Nita mengacungkan dua ibu jari ke arahnya. "Siapa sih yang ngajarin lo? Yang bantuon lo bikin rangkuman ini? Keren abis pasti dia." Ujarnya lagi dengan mengingatkan Cecilia tentang siapa yang dia maksudkan.
Cecilia berdecak, dengan menyimpan bolpoin di atas meja. "Elah ... Iya iya ... Lo juga keren Nit! Gue gak bakal lupa, gue traktir lo nanti makan siang."
"Lo fikir gue gak ada duit? Gue punya duit bahkan sekarang gue juga nanggung hidup si Sila. Puas lo?"
Cecilia terkekeh dengan membereskan barang barang miliknya. "Ya gak apa apa! Itung itung lo beramal itu sih."
"Sialan lo!"
"Lo nanti bawa laptop gue ya kalau dah kelar disalin yang lain, gue mau ketemu orang!" ucap Cecilia yang sudah menyampirkan tas miliknya di bahu.
"Mau kemana lo? Tugas lo belum selesai ini, nanti lo dicariin Mr Harsa baru nyaho lo."
Cecilia terus melenggang keluar serta melambaikan tangan ke arahnya, tidak sedikitpun dia menggubris perkataan sahabatnya itu.
"Gak bakal lama dan ini penting!"
.
.
Wkwkwkk. ... Othor udah baca komen kalian tentang bang Tompi, Othor akan pilih 3 terbaik yaa gaes. Btw INGAT ini bukan give away yaa, yang ada syarat ini dan itu sampai ada batas dukungannya.
Othor mah maunya di dukung dengan iklas dari hati, Ini murni hanya keisengan othor aja. Nanti othor umumin komen terbaik.
Komentar Yang othor nilai secara pribadi mau itu jawaban nyeleneh sekalipun dan gak bisa di ganggu gugat. Soalnya sewa pengacara gak bakal cukup kalau di kasih 10rb. Jadi fikirkan lagi kalau mau gugat keputusan othor nanti. Kwkwkwk. Lope lope badag buat kalian Cecelover.