
Cecilia menggelengkan kepalanya, percuma mengatakan masalah yang tengah dia hadapi bersama Nita pada Irsan. Ini bukan hal berat yang mengharuskan Irsan ikut campur, terlebih Irsan sudah banyak membantu masalah masalah di hidupnya.
Dia hanya ingin memeluk seseorang, mengadu tanpa mengatakan apa apa. Begitu pula dengan Irsan yang mendekapnya erat, cukup diam tanpa bertanya. Bukan tidak peduli, melainkan memberinya waktu. Terlebih kondisi Ibunya, Irsan berfikir Cecilia menangis hanya gara gara perbincangan dengan Ibunya saja.
"Ibumu pasti sembuh, kita akan berusaha sebaik mungkin merawatnya. Hm."
Cecilia mengangguk saja, masalah Nita mungkin menurut orang lain adalah hal sepele, kesalah fahaman antara sahabat yang biasa terjadi. Tapi baginya, ini masalah besar.
Tidak ingin mengganggu Ibu Cecilia, Irsan membawa gadisnya itu keluar. Mereka berjalan melewati taman yang berada di samping rumah sakit,
"Duduklah di sini, siapa tahu perasaanmu akan jauh lebih baik."
Cecilia mendaratkan bokongnya, entah kemana Cecilia yang kuat dan tidak peduli masalah apapun dihidupnya. Nyatanya kini dia lebih cengeng.
Tapi lambat laun Cecilia juga kesal, alih alih bertanya Irsan hanya duduk disampingnya tanpa mengatakan apapun lagi,
"Kamu gak nanya aku kenapa?" pada akhirnya minta diperhatikan.
Irsan menggelengkan kepalanya, "Selain ibu dan Nita yang kau fikir dekat dengan Carl, kau punya masalah apa lagi! Aku bisa tahu walau tidak banyak bertanya."
"Masa iya?"
"Hm ... Kenapa aku harus bertanya kalau aku sudah tahu?"
Cecilia membuang wajahnya kearah lain, "Ya ... Aku tahu!"
"Apapun masalahmu dengan Nita, kau sendiri yang bisa menyelesaikannya, kau yang tahu sebaik dan seburuk apa sahabatmu itu. Walau aku juga tidak terlalu peduli kalau soal itu!" terangnya, "Karena menurutku itu urusan wanita dan tidak etis kalau aku ikut campur....!" terangnya lagi. "Tapi Zian sudah mengatakan kalau Carl pergi dengan orang lain ke bali, bukan dengan Nita."
"Ya aku juga tahu itu." jawabnya dengan lirih.
Keduanya kembali diam, Cecilia masih memikirkan Nita, bagaimana caranya agar hubungannya kembali membaik.
Drett
Drett
Ponsel Irsan berbunyi, Cecilia melirik sebentar ke arahnya. "Posisi di rumah sakit juga masih aja di hubungi.
"Bukan dari rumah sakit!" Irsan yang merogoh ponsel dan tahu betul nada dering yang dipasang untuk panggilan rumah sakit dan panggilan saat ini berbeda. Pria itu bangkit dan menempelkan ponsel miliknya ditelinga.
"Apa?"
" ...."
"Jangan bercanda, ibuku ada dirumah!"
"...."
"Aku tidak percaya padamu lagi brengsekk!" Irsan menutup sambungan telepon secara sepihak, mana mungkin ibunya pergi begitu saja.
Cecilia ikut bangkit dan bertanya dengan tidak sabar, "Siapa? Siapa yang telfon barusan?"
"Carl!"
"Hah?"
"Carl bilang Ibuku pergi!"
"Kau serius. Kemana?"
"Entahlah!" Carl dengan cepat menghubungi nomor kontak Ines guna mencari kebenaran yang dikatakan oleh Carl.
'Kenapa?'
'Kau masih di rumah ibukan?'
Cecilia mendengar pertanyaannya, "Ines udah pulang kok! Aku ketemu dia pas di apartemen."
'Hm .... Pacarmu benar!" suara Ines membenarkan informasi yang diucapkan Cecilia.
Sampai Irsan kembali menutup sambungan telepon secara sepihak setelah dia benar benar yakij kalau Ines tidak lagi berada di rumahnya.
Dia kembali mendial salah satu nomor diponselnya, namun tidak ada yang menjawabnya saat itu. Dia kembali menelepon suster yang selama ini menjaga Sang ibu.
Panggilannya diabaikan begitu saja, membuat Irsan kemakin kesal dan melangkahkan kaki.
"Mau kemana?"
"Aku akan memastikan sesuatu dulu."
"Aku ikut!" Cecilia bergegas menyusuli langkahnya yang panjang, dia sedikit berlari agar tidak ketinggalan lebih jauh lagi.
Irsan berjalan menuju pelataran parkir khusus dokter, membuka pintu dan langsung masuk kedalam, begitu juga Cecilia yang tidak mungkin akan menunggu Irsan membuka pintu untuknya.
"Kita ke rumah ibu dulu untuk memastikan!" Irsan melajukan mobilnya dengan cepat.
"Mastiin apa? Ibumu kenapa?"
"Aku tidak tahu Cecilia! Diamlah dulu agar aku bisa berfikir." sentak Irsan dengan suara sedikit pelan.
"Maaf ... Aku tidak bermaksud membentakmu!" ralatnya lagi setelah sadar.
"Gak apa apa!"
Cecilia kini terdiam, melihat Irsan yang serius dengan wajah khawatirnya, akan tetapi tidak pula tahu dengan jelas apa yang terjadi dengan Embun dan juga apa yang dikatakan oleh Carl.
Mobil yang dilajukan Irsan melesat dengan cepat, dia bahkan menekan klakson berkali kali saat mobil maupun kendaraan lain menghalangi jalurnya. Cecilia semakin mengatupkan bibir tidak ingin bersuara, bak seorang anak kecil yang hanya bisa diam saja.
Akhirnya mereka tiba di rumah dengan pagar tinggi menjulang berwarna hitam. Irsan bahkan langsung turun dari mobil dan merangsek masuk, membuat security yang tengah diam itu tersentak saat melihatnya.
"Mas?"
"Mana Ibu?" tanyanya namun tidak juga menunggu jawaban karena dia langsung berlalu masuk kedalam rumah.
"Non ada apa?" tanya security yang terheran pada Cecilia.
"Gak tahu pak!" jawab Cecilia yang dengan cepat menyusulnya masuk. "Gimana?"
Irsan menggelengkan kepalanya, setelah menyisir ruangan dilantai 1 rumahnya dan tidak menemukan sang Ibu.
Security masuk dengan tergopoh gopoh dan langsung berhenti saat Irsan berjalan keluar.
"Kemana semua orang di rumah ini?"
"Siap ... Tidak tahu Mas!" jawab Security.
"Kau dibayar untuk menjaga rumah ini termasuk orang yang tinggal di dalamnya, bagaimana bisa kau tidak tahu!"
"Iya ... Bapak kan jaga didepan! Masa iya gak tahu kemana Ibu pergi sih!" tambah Cecilia.
Security itu diam tak banyak bicara, entah apa yang bisa dia katakan.
"Nyonya besar tidak bilang apa apa Mas."
Irsan berdecak kesal, "Suster?"
"Dua hari lalu izin pulang kampung Mas, katanya mungpung kembali ke indonesia. Jadi sekalian pulang." jawabnya lagi.
"Astaga ... Jangan bilang yang dikatakan Carl itu benar!" Irsan memijit keningnya yang berdenyut tiba tiba.
"Apa yang dia katakan? Bilang sama aku." Cecilia ikut kesal dibuatnya.
"Kita harus ke bali sekarang juga!" Irsan melangkah kan kakinya keluar dari rumah.
"Hah?"
Sementara ditempat lain.
Carl terus menerus berdecak kesal, didepannya kini ada seseorang wanita yamg terus mengoceh. Ponsel yang baru saja terputus pun dia simpan diatas meja.
"Bagaimana?"
"Apa Tante fikir Irsan semudah itu percaya terlebih padaku? Aku membuatnya marah dan marah lagi." tukas Carl yang menggelengkan kepalanya.
"Tapi kita sudah dipertengahan jalan! Kau tidak bisa berhenti begitu saja."
"Iya ... Dan akan semakin marah Irsan padaku."
"Tidak akan!"
"Tante bisa jamin itu? Ingat terakhir yang aku katakan saat pergi kerumah orang tuanya tanpa sepengetahuannya? Kenapa Tante tidak berubah juga malah semakin menjadi."
Embun terkekeh, "Aku terlalu gemas melihat mereka sampai aku melakukan hal ini."
"Gila!" Cicit Carl, dengan menenggak jus jeruk miliknya.
"Ayo hubungi dia sekali lagi! Aku yakin ini akan berhasil."
.
.
Apasih mak gardu ... Wkwkwk, Othor gak bisa bikin tenang apa yaa ... bikin masalah mulu. Wkwkwk