I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.159(Aku minta maaf)



Kini justru Cecilia yang terlihat shock dan kaget, bagaimana Irsan tahu hal itu tapi bersikap seolah tidak tahu apa apa, dia juga bersikeras mengatakan kalau Alisa pergi demi pria lain yang lebih kaya dari nya.


Gadis itu masih terhenyak hingga hanya bisa terdiam menatap pria jangkung yang kini perlahan meraih pergelangan tangannya.


Pria itu mengelus pergelangan tangan Cecilia yang masih terlihat memerah. Lalu membawanya kembali berjalan.


"Kita bicara di ruanganku." ujarnya dengan suara yang lebih lembut.


Cecilia hanya bisa mengikutinya bak seekor anak itik, berjalan dibelakang dengan tangan yang masih Irsan genggam, kali ini cekalan tangannya tidaklah sekuat tadi. Hingga Cecilia terus berfikir apa yang akan Irsan lakukan setelah ini.


Keduanya masuk ke dalam ruangan praktek, Irsan menguncinya karena tidak ingin ada gangguan selama dia bicara dengan Cecilia.


"Kenapa di kunci segala!" Cecilia menatapnya waspada.


"Aku hanya tidak ingin siapa pun masuk ke sini dan mengganggu!"


"Memangnya kau mau apa?"


Irsan tersenyum, jelas dia tahu jika gadisnya itu bersikap waspada terhadapnya.


"Kemarilah!" Lirih Irsan dengan kedua tangan yang dia rentangkan kearah Cecili, dengan menatap sendu.


Cecilia masih mengernyit dengan sikap Irsan yang tiba tiba itu, dia hanya berdiri mematung dengan kedua manik terus menyelidik.


Dengan sekali tarikan saja, Irsan menarik pundaknya hingga gadis berusia 20 tahun itu menabrak dadanya yang bidang.


"Kenapa. Hm... Aku hanya ingin memelukmu dan aku minta maaf Cecilia. Harusnya aku tidak terlambat, harusnya aku bisa mencegah ibuku bertemu denganmu, karena aku yakin itu akan terjadi lagi."


"Lagi? Berarti bener, calon istrimu pergi karena ibumu? Bukan karena pria yang lebih kaya dari mu?" Cecilia mendorong dadanya dengan kedua tangan, hingga menengadahkan wajah ke arahnya.


Irsan mengangguk, "Itu benar! Tapi aku tidak bisa menyalahkan ibuku karena nyatanya Alisa lebih memilih uang dari pada aku."


"Ya ... Mungkin tawarannya menggiurkan,"


"Kau sendiri kenapa tidak mau? Ibuku pasti akan memberikan uang yang banyak."


"Iya juga ya!" Cecilia terkekeh, "Duitnya aku ambil, tapi nanti aku bagi dua sama kamu. Gimana? Lumayan kan buat modal usaha." kekehnya lagi.


"Kau ini!" Irsan kembali menariknya, memeluknya erat begitu juga dengan Cecilia yang melingkarkan kedua tangan di pinggangnya.


"Ya habisnya, kenapa masih tanya alasannya apa? Kalau masalah duit mah gampang kalau aku mau, ngapain aku ambil uang ibumu, terus ninggalin kamu, sementara aku tahu uangmu terbatas, kalau bukan cinta apa namanya?"


Irsan terkekeh, mengekus punggungnya berkali kali.


"Gini gini juga aku tahu!" tukasnya lagi, "Tahu setelah kenal dan deket sama kamu."


Irsan terkekeh lagi, Cecilia mengurai pelukannya,


"Tawa tawa mulu deh!" katanya lagi pada Irsan dengan tatapan menyalang.


"Kamu lucu! Baru kali ini aku melihat seorang Cecilia yang memilih cinta dari pada harta." cibirnya.


"Iihh ... Kau ini, harusnya bersukur karena aku gak tergoda tawaran ibumu, mana dia sekarang nyalahin aku lagi."


"Tidak perlu khawatirkan hal itu, aku sendiri yamg memeriksanya dan dia baik baik saja."


"Iyakah?"


"Hm ... Jadi tidak perlu memikirkan hal yang tidak tidak, aku memang bersukur karena bertemu denganmu. Yang tidak peduli dengan uangku."


Cecilia terkekeh, "Itu hanya karena aku kasian aja!"


"Jadi begitu?" Irsan menggelitik pinggang Cecilia, hingga gadis itu terpingkal pinggal.


Kedua tangan itu kini saling menggenggam hangat, dengan kedua mata yang juga saling menatap.


"Ada untungnya juga aku ketemu ibumu dan bikin dia shock!" celetuk Cecilia. "Setelah ini, aku yakin kita bakal semakin dekat." Ujarnya lagi dengan merekatkan tangan dalam genggaman tangan kekar Irsan.


"Hm ..., kau fikir kita tidak dekat selama ini? Kita bahkan sudah melakukannya 3 kali."


"Mana ada tiga kali!" Cecilia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kenapa dia lebih tahu dari pada gue, gue aja lupa ngelakuinnya berapa kali.


"Hm 3 kali dibulan yang sama!"


Glek!


Cecilia menelan saliva, Irsan sedetail itu mengingatnya, dan membuat Cecilia semakin menelan saliva.


Gue udah lama gak cek kesuburan gue selama sama dia. Kenapa juga gue bisa lupa ya, se mainstream itu emang dia tuh. Gimana gue gak makin klepek klepek coba. Bodo amat deh kalau dia gak sekaya Reno, atau siapapun itu. Yang pasti dia gak kere kere amat kayak si Dirga. Udah kere gak mau usaha juga. Eh ... Napa gue malah inget dia. Cecilia meraup wajahnya saat sadar dia terus membatin seorang diri.


"Oh gitu ya!" ujarnya dengan kekehan terpaksa, saat batinnya sendiri berkecambuk.


"Hm ..." Irsan melirik jam tangan di pergelangan tangannya, "Aku harus melihat kondisi ibu, kau tunggu di sini dan jangan kemana mana lagi. Ok! Kalau perlu kau kunci pintu dan jangan biarkan siapapun masuk. Termasuk dokter Aji, jangan ladeni dia. Aku tidak mau kau mencari masalah lagi!"


"Ya ... Ya ... Baiklah tuan Dokter!"


Irsan melangkah ke arah pintu namun dia kembali menoleh untuk memastikan ucapannya kali ini di dengar. "Kau mengerti Cecilia?"


"Iya sayang ... Iya! Takut banget sih aku bikin masalah."


"Bukan begitu, aku hanya tidak ing---"


"Ya udah ... Udah sana pergi!" Cecilia mendorong Irsan hingga keluar dari ruangan.


"Tunggu!"


"Apalagi? Bukankah kamu harus lihat ibumu. Nanti aku lagi yang di salahin." Dengus Cecilia dengan tangan berada di handle pintu dan siap untuk mendorong namun Irsan masih menahannya agar tidak tertutup.


Cup!


Cecilia terkesiap saat Irsan yang lempeng bak tiang listrik itu mengecup pipinya lembut lalu beranjak pergi dengan senyuman yang dia ulas. Membuat Cecilia mengerjapkan mata dengan mengedarkannya ke kiri dan ke kanan karena takut ada yamg melihatnya.


"Apaan tuh tadi! Bisa bisanya dia bikin gue salting. Mana nyiumnya pas pergi lagi. Coba tadi. Kan gue bisa langsung sosor."


Sementara Irsan berjalan ke arah ruangan vvip yang kini di tempati oleh ibunya. Tampak Ines yang duduk di depan ruangan dan langsung berdiri menyambutnya saat melihatnya.


"Kenapa kau di sini?"


"Bibi marah marah, dia bersikeras ingin kembali ke singapura dan tidak ingin di rawat di sini." tukasnya menjelaskan. "Aku gak bisa bujuk dia. Kau saja yang masuk dan bicara dengannya. Dia sedih karena kamu mendiamkannya sejak bertemu tadi."


Irsan menghela nafas, dia berjalan masuk ke dalam ruangan. Kedua matanya menatap Embun yang kini tengah menatap jendela besar yang tertutup tirai putih.


Irsan lagi lagi menghela nafas, dia menghampirinya dan duduk di sofa. "Bagaimana kondisimu bu?"


Embun terkesiap dengan langsung menoleh ke arahnya.


"Buruk! Rumah sakit ini hanya mengingatkanku pada ayahmu, padamu juga yang lebih memilih tempat ini dari pada ibu, dan pada gadis yang kurang ajar itu!"


.


Har ... Si gardu listrik kunaon nya. Wkwkwk,


cie cie Cece ... Gak makin klepek klepek gimana tuh tiang listrik dah mulai melehoy sama lo. Gass lah. Haha