
Hari yang ditunggu Cecilia pun tiba, walaupun tempat tujuannya tidaklah jauh, waktu yang ditempuh pun hanya satu jam saja.
"Gak seru banget, udah mah deket ... Gak asik pula tempatnya!" dengusnya saat memasukkan barang bawaannya ke dalam tas.
Jelas Irsan tidak mendengarnya, dia hanya fokus pada ponsel yang tengah di otak atiknya saja, menyamakan jadwal prakteknya dan juga jadwal Tristan yang masih dalam penyesuaian pihak Rumah sakit.
Cecilia terus menggerutu, liburan yang biasa orang orang sebut Honey Moon tidaklah sesuai dengan ekspetasinya. Artiannya juga berbeda dengan Irsan, pria itu hanya menyebutnya pindah tempat bercinta saja.
"Tidak perlu membawa banyak barang sayang, kau mau ganti pakaian berapa kali?!" ujar Irsan kala melihat koper tengah dijejal.
"Mana ada ganti sekali, baju pantai, bikini, baju ganti, dress malam. Kan harus sesuai sayang, kau juga ... Warnanya baju kita udah di samaain, jadi kita couple an nanti."
Irsan tersenyum, dia meletakkan ponsel di atas nakas lalu bangkit dari duduknya. Menghampiri Cecilia yang tengah menjejalkan barang ke dalam koper miliknya lalu memeluknya dari belakang.
"Sayang, kita tidak akan ke pantai, kita juga tidak akan ke pesta malam atau klub."
"Eeeh ...!" Cecilia menolehkan kepalanya. "Terus? Ngapain kesana?"
Irsan mengecup pipinya lembut, lalu mendekat pada telinganya. "Kita hanya akan menghabiskan waktu di kamar hotel saja, jadi cukup bawa baju tidur saja!"
Cecilia berdecak, namun tidak lama mengulum bibirnya. "Bener bener cuma pindah tempat tidur doang."
"Memangnya kau mau apa? Jalan jalan, shoping? Hal seperti itu bisa di lakukan di sini, kenapa harus jauh jauh pergi kesana?" ujarnya dengan semakin merekatkan kedua tangan di pinggang sang Istri.
"Kau bilang apa? Jauh ... Jauh itu kalau ke luar negeri bilang aja biar gampang kalau ada panggilan dari rumah sakit. Iya kan?" selidiknya dengan memicingkan kedua mata ke arahnya.
"Ya ... Itu juga!"
Cecilia berdecak, melepaskan kedua tangan Irsan dari pinggangnya. Dia kembali membuka koper dan mengeluarkan sebagian pakaian yang sudah ditatanya dengan rapi dan mengembalikannya ke dalam lemari pakaian.
"Selalu deh, gak bisa sekali aja yang difikirin aku aja? Jangan yang lain." gumamnya.
"Maaf ... Seperti itulah resiko menjadi istri dari seorang dokter, kau harus siapkan mentalmu agar selalu mengerti."
"Ya aku ngerti ... Malah ngerti banget, ayo pergi! Nanti keburu gak jadi dan kau berubah fikiran." ucapnya dengan kembali merapikan riasan di wajahnya.
Irsan mengangguk, dia keluar lebih dulu dari pada Cecilia yang merias wajahnya sedemikian rupa. Gadis itu terkekeh saat melihat ponsel milik Irsan yang masih tergeletak di atas nakas. Lalu mengambilnya.
Setelah mengotak ngatiknya sebentar, dia pun menyimpannya kembali ke tempat asalnya yaitu di atas nakas.
Tak berselang lama, Irsan kembali masuk, mengambil ponsel miliknya lalu memasukkannya kedalam saku celana.
"Ayo pergi!" ujarnya dengan mengambil koper dari tangan Cecilia dan membawanya keluar. "Tidak ada yang ketinggalan?" Tanyanya lagi.
"Sebenernya sih aku pengen bawa baju lagi, tapi ya udahlah ... Aku bisa beli disana nanti." tukasnya dengan melingkarkan tangan pada lengan suaminya yang hanya bisa mengangguk lirih.
Keduanya keluar dari unit apartemen dan berjalan bersampingan menuju lift. Keduanya berpapasan dengan Ines yang juga hendak masuk ke dalam lift.
"Kak Ines!" Cecilia melambaikan tangan,
Ines masuk kedalam lift dan tersenyum. "Kalian jadi juga pergi honey moon."
Irsan mengangguk, namun tidak dengan Cecilia, "Bukan honey moon kak. Kita cuma liburan setitik aja, kalau honey moon gak gini dong." ucapnya dengan menunjukan setelan celana jeans dan kaos oblong yang di pakainya. Tidak lupa sneaker berwarna putih.
Ines terkekeh, mendelik ke arah Irsan yang tampak datar saja saat Cecilia menyindirnya.
"Yee ... Sepupumu juga kali wei!" Cecilia terkekeh dengan ikut mendelik ke arah Irsan.
"Jangan bermain kode kode! Kalian fikir aku mengerti dengan kode senggol senggolan kalian?"
"Gak juga! Siapa yang kode kode." Tukas Ines menyangkal. "Kau ini yang tidak mengerti, sudah tahu aku baru saja merasa bahagia tapi kau merusaknya, membuatnya sibuk dengan menggantikan jadwal praktekmu! Dasar tidak peka!"
"Tidak ada alasan untuk itu, lagi pula kau baru berkencan, belum menikah dan tidak juga mengganggu. Dia single, jadi memiliki banyak waktu untuk berdedikasi di rumah sakit!"
"Cie ... Mau ke rumah sakit ya?" tanya Cecilia yang melihat Ines semakin berseri seri itu.
Ines mengangguk dengan mengulas senyuman lebar, sementara Irsan mendengus pelan.
"Apa sih ... Iri ya, kali ini kau gak usah ikut campur ya! Apalagi membuat kencanku berantakan!" tukas Ines dengan tajam.
Cecilia terkekeh dengan menaik turunkan kedua alisnya, "Tenang kak ... Aku jamin gak akan lagi gagal,"
Ting
Pintu lift terbuka, ketiganya keluar dari kotak besi itu. Cecilia mundur beberapa langkah dan mendekati Ines.
"Kak Ines bisa kencan sepuasnya di Rumah sakit hari ini! Aku pastikan gak akan ada yang bakal ada yang ganggu." bisiknya terkekeh.
"Bagaimana ceritanya tidak ada yang mengganggu, pasien mau bagaimana? Kan harus di pantau."
"Iya pasien doang kan, sat set sat set udah, maksudku dia itu, gak bakalan deh ganggu kak Ines sama Dokter Tristan." ucapnya terkekeh. "Tapi awas lho ya, jangan sampai Suster suster lihat kak Ines lagi ciumaan! Bahaya...." kelakarnya lagi, mengingat sebagaimana dia melihat hal tersebut saat di tempat karaoke.
"Iihh ... Kau ini! Aku kan jadi malu!" Ines mencubit kedua pipi Cecilia dengan gemas. Dia merasa tersindir oleh ucapannya.
Irsan menoleh pada dua wanita yang terus berbisik bisik di belakangnya,
"Sayang, ayo!"
Ines terkekeh, baru kali ini dia mendengar Irsan memanggil panggilan sayang pada Cecilia dan terasa sedikit kaku, "Suamimu bisa juga mengatakan hal semanis itu!"
Irsan membulatkan kedua matanya pada sepupu satu satunya tersebut. "Kau fikir aku tidak bisa. Tentu saja aku bisa karena aku ini normal!"
"Kalau Normal, harusnya kau ajak Istrimu honey moon ke Paris, Prancis atau ke Barcelona sekalian. Bukan cuma ke Puncak! Kau ini tidak normal!" sela Ines.
"Heh ... Mulutmu!"
Cecilia terkekeh, senangnya ada orang yang mendukungnya penuh seperti Ines, yang mengerti sepenuh hatinya, kepalanya terangguk angguk kecil sebagai tanda jika dia setuju apa yang di ucapkan Ines.
"Dengar ya, semua wanita itu ingin sesuatu hal yang spesial untuk hari pernikahannya, kalau hanya ke Puncak saja, aku juga bisa mengajaknya kapan pun dia mau. Dasar tidak peka!" ujar Ines lagi.
Irsan menatap ke arah Cecilia yang terus terkekeh dengan anggukan kepalanya, lalu dia berdecak pelan.
"Apa benar? Kau juga ingin kita ke Paris, Prancis atau Barselona?"
.
.
Hai Cecelover ... Kangen gak ... Kangen gak... Pasti kangen lah yaa. Hihihi ... Makasih ya selalu sabar nungguin mereka.