I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.297(Gagal membujuk)



Nita terdiam, menggigit sedikit bibir bagian dalamnya. Mengingat apa yang dikatakan Dirga mengenai rahasia kematian Serly, membuatnya sakit karena tidak dianggap sebagai orang terdekat padahal dia fikir tidak ada rahasia diantara mereka berdua untuk apapun itu, bahkan mereka saling berbagi dalam hal sekecil apapun.


Dan kejadian itu hanya pemicu belaka, juga pernikahan Cecilia dan Irsan yang tidak dia hadiri. Semua hal hal kecil memicu kemarahan di saat dirinya terpuruk sendiri, dan kemarahan itu yang membuatnya pergi sejauh mungkin tanpa lagi ingin peduli. Akan perasaannya yang tidak mendapat dukungan, padahal dia rela melakukan apapun demi Cecilia. Sifat Cecilia yang terlampau egois atau bahkan dirinya yang sesungguhnya egois.


Gue gak mau peduli lagi apa yang akan terjadi sama lo kalau lo maksaain diri buat ngerjar si brengsekk Carl.


Ucapan kemarahan Cecilia saat itu kini kembali terngiang ngiang, tepat di hari itu dimana Dirga mengatakan semuanya padanya, mengatakan sesuatu yang sudah terjadi jauh sebelumnya.


Tapi semua itu hanya pemicu, Nita larut dalam masalahnya seorang diri, terpuruk dalam keadaan dengan kondisi yang tidak ingin dia bagi dengan siapapun termasuk Cecilia. Dan kehamilan yang tidak dia inginkan membuat hidupnya bertambah kacau. Dia tidak ingin melibatkan Cecilia, apalagi menyeretnya dalam masalah yang dia cari sendiri.


"Nita ... Aku mohon! Ijinkan Cecilia bertemu denganmu dan memperbaiki lagi persahabatan kalian." ujar Irsan lagi dengan serius.


Namun Nita masih berdiam diri saja, fikirannya melanglang buana kemana mana.


"Anggaplah semua kesalahan Cecilia, tapi kau juga harus tahu jika dia tidak benar benar bersalah, dia juga ingin bertemu denganmu untuk meminta maaf."


Entah apa yang difikirkan Nita saat Irsan membujuknya dengan cara yang berbeda. Nita kini berbalik menghadap ke arahnya dengan tatapan sendu.


Gue juga mau peluk Cecilia, gue mau bilang kalau gue gak sanggup ngelewatin semua ini sendirian, tapi gue gak mau ganggu lo yang udah bahagia, bahagia karena lo dicintai begitu besarnya sama Dokter Irsan. Gue gak mau bikin lo susah Ce. Gue kangen sama lo. Batin Nita.


"Maaf Dokter. Aku mungkin bakal bikin dokter kecewa karena keputusanku udah bulat. Lebih baik aku dan Cecilia hidup masing masing seperti ini, aku udah seneng sekalipun gak ketemu dia lagi."


Irsan menghela nafas, dia tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan Nita lagi. Tapi melihat tatapan dan raut wajahnya yang sendu, besar kemungkinan jika Nita juga menderita.


"Apa yang bisa aku lakukan agar kau berubah fikiran Nita?"


Nita menggelengkan kepalanya, "Enggak ada, cukup Dokter pergi aja dari sini dan tolong hargai pilihan aku!"


Dengan berat hati dan rasa kecewa, akhirnya Irsan memutuskan untuk pergi dan kembali pulang tanpa mendapatkan hasil. Dan saat berjalan keluar, terlihat Toni berdiri membelakanginya.


Lambat laun pria itu berbalik dan mengangguk kecil saat melihat Irsan, bagaimanapun juga hubungannya dengan keluarga Irsan masih baik.


"Maaf Mas ... Aku tidak bisa membantu banyak soal ini, aku sudah sering membujuknya namun Nita tetap pada pendiriannya. Berilah dia waktu sampai dirinya siap, mungkin dengan sendirinya dia akan menyelesaikan kesalah fahaman antara wanita yang tidak kita mengerti!" terangnya.


Lagi lagi Irsan menghela nafas, apa yang dikatakan Toni memang benar. Hanya waktu yang bisa bicara. Terlebih masalah mereka hanya kesalah fahaman belaka.


"Kabari aku kalau bituh sesuatu, aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi aku rasa dia juga menderita!"


Toni mengangguk, mengulurkan tangan ke arah Irsan tanpa ingin menjelaskan apa apa terlebih penderitaan Nita selama ini.


"Mas tenang saja, aku akan selalu menjaga Nita!"


Irsan menjabat tangan Toni seraya mengangguk. Tidak lama kemudian Irsan pergi dari tempat itu. Sementara Toni langsung masuk ke dalam rumah yang selama ini mereka tempati.


Dua jam kemudian dia sudah sampai di gedung apartemen, mendapati Cecilia tengah tertidur di sofa. Melihatnya saja sudah merasa kasian, apalagi tahu jika dia menemukan Nita namun tetap tidak berhasil membawanya.


"Sayang ... Baru pulang?" Cecilia mengerjapkan kedua mata saat melihat suaminya duduk didepannya.


"Hm ... Baru saja pulang, bagaimana harimu?"


"Bosan di rumah terus! Aku ingin keluar jalan jalan."


Irsan menggelengkan kepalanya seraya mengelus perut sang istri yang masih rata, "Kau harus banyak istirahat!"


"Istirahat mulu! Capek. Aku cuti kuliah dan gak ada kegiatan! Bosan tahu, gimana kalau kita liburan aja?"


Irsan kembali menggelengkan kepalanya, "Masih belum bisa, ingat kehamilanmu yang masih rentan. Aku gak mau ambil resiko apapun."


Cecilia mendengus kesal, lalu menatap langit langit ruangan. Melihatnya seperti itu membuat Irsan tidak tega, tapi juga tidak mungkin mengatakan jika dia baru saja menemui Nita.


"Kau rindu ibu? Besok kita kerumah ibu."


Cecilia menggelengkan kepalanya, lalu menyandarkan kepala dibahu Irsan. Dan Irsanpun merengkuh pundaknya dengan lembut.


"Apa Nita baik baik aja?" lirihnya pelan membuat Irsan tersentak.


"Tentu saja, Toni mengatakan kalau Nita baik baik aja!"


Cecilia kini mengangguk, "Kita akan segera menemukannya. Aku sudah janji padamu bukan?" tambahnya lagi.


Namun kini Cecilia tidak lagi bersuara, dia sudah lebih dulu tertidur begitu saja. Mungkin kehamilannya yang membuatnya lebih mudah lelah dan mengantuk.


"Maafkan aku sayang, tapi aku terus berusaha membuat semua keinginanmu tercapai termasuk soal Nita." gumam Irsan dengan mengelus pundak Cecilia.


Sampai keesokan hari, Irsan bangun lebih pagi namun Cecilia sudah tidak ada dikamar. Pria itu segera bangkit dan mencarinya. Tapi tidak menemukannya berada di dalam apartemen.


Irsan berusaha menghubungi ponselnya, namun tidak juga diangkatnya. Dengan cepat dia mencarinya keluar. Cecilia tidak ditemukan di kawasan apertemen, bersamaan dengan notifikasi masuk ke dalam ponselnya.


"Shittt!" gumamnya saat mengetahui Cecilia mengirimkan sebuah pesan jika dia hendak pergi ke tempat Nita.


Irsan segera menyusulnya, dia pergi ke basement apartemen dan hal yang dia lakukan adalah mencari mobil milik Cecilia, dan mobil itu sekarang tidak ada.


"Astaga ... Dia selalu melakukan hal yang diluar nalar, bagaimana bisa dia menyetir dalam keadaan hamil di usia rentan!"