
Wajah berbinar terlihat dari Cecilia dengan kedua mata yang menyisir ke segala arah saat mereka tiba di sebuah taman hiburan. Tempat yang menjadi pilihan pertama dan juga keinginan pertama dari gadis berusia 20 tahun itu.
"Gimana menurutmu?"
"Kita berkencan atau jalan jalan mengajak anak anak TK outing class?" tukas Irsan dengan kedua tangan yang penuh dengan bawaan, menatap beberapa sekelompok anak anak berseragam sama yang tengah bernyanyi bersama seorang pemandu yang berteriak teriak.
"Ish ... Aku gak tahu tempat ini sekarang penuh!" sahutnya dengan mencebikkan bibir. "Dulu tempat ini sepi banget. Kita cari tempat lain aja kalau kamu gak suka." ujarnya lagi berbalik arah.
Irsan dengan cepat mencekalnya. "Kita di sini saja,"
"Tapi kau bilang tempat ini tempat anak anak."
"Tidak masalah, kau juga masih anak anak." Irsan mengulas senyuman, menarik tangan Cecilia dan membawanya menuju sebuah kursi panjang. "Kita disini saja sambil menunggu." ujarnya lagi dengan menyimpan paper bag berisi cemilan.
Cecilia mengangguk, menurut bak anak kecil. Tempat ini tempat yang selalu di laluinya setiap hari saat usianya 7 tahun, hanya di laluinya karena dia harus ikut ibunya yang bekerja di sebuah apartemen mewah di sebrang taman. Setiap hari juga dia hanya bisa melihat anak anak seusianya berlarian kesana kemari dengan kedua orang tuanya, tertawa gembira dalam dunia anak anak yang notabene hanya dunia bermain saja. Tidak sepertinya yang harus ikut berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup setelah ayahnya baru saja meninggal.
Cecilia menatap lurus, gedung apartemen mewah kini dia lihat, ingatannya membayang saat saat dulu, jumlah anak tangga yang dia hitung, nomor angka yang dia tekan di pintu lift, lorong yang dia lewati, bahkan dia masih ingat betul warna cat dinding serta gorden pemilik unit yang baik hati. Yang sempat memberinya mainan agar dia tidak bosan saat menunggu ibunya bekerja.
"Kau melamun?"
Cecilia mengerjap, "Ah ... Enggak! Aku hanya ingat masa lalu."
"Masa lalu?"
"Hm ... Kau lihat gedung apartemen itu?" tunjuknya pada gedung tinggi di depannya. "Aku dulu bertemu orang baik di sana."
Irsan menatap ke arah tunjuk Cecilia, "Pacar pertamamu?"
"Bukan."
"Pria hidung belang yang memberimu segala kemewahan?"
"Bukan juga. Dia hanya seorang ibu ibu yang tinggal sendirian." terangnya lagi.
Irsan mengangguk angguk, baginya Cecilia memang unik. Dibalik keceriaan dan juga sifat menantangnya tersimpan cerita masa lalu yang sulit, tumbuh kuat karena sejak kecil sudah menghadapi begitu banyak masalah hidup, juga beban yang seharusnya tidak dia pikul di usia yang masih kecil.
"Kau ingin ke sana dan menemuinya?"
Cecilia menggelengkan kepalanya, masuk ke dalam gedung itu hanya akan mengingatkannya pada kesulitan kesulitan yang dia dan ibunya jalani.
"Jadi kita berkencan begini saja?" Irsan mengulas senyuman, "Kencan yang unik."
Mereka berdua melihat sekelompok anak anak bermain kejar kejaran, mereka sama sama tertawa saat salah satu nya tertangkap dan justru merengek tidak mau kalah.
"Kenapa kita jadi nontonin orang kayak gini." gumam Cecilia yang menyandarkan kepala di bahu Irsan.
"Tidak apa apa, anggap saja itu anak anakmu."
Cecilia terkekeh, "Siapa bapaknya? Anakku banyak banget begitu."
"Kau pilih saja salah satunya di sana." Ujar Irsan menunjuk pria pria yang tengah memancing.
"Ih kau ini! Dasar gak peka, jawab aku kek. Itu kan cuma pancingan doang biar kamu jawab." Cecilia merengut dengan mencubit lengan Irsan. "Gak bisa di ajak romantis!"
Setelahnya Irsan tergelak, "Aku hanya bercanda."
Cecilia menggelar tikar setelah sekelompok anak anak itu pergi, berbagai camilan dan juga minuman ringan juga sudah mereka siapkan.
"Kita benar benar seperti sedang rekreasi." tukas Irsan membuka kaleng soft drink lalu memberikannya pada Cecilia, berdiri menatap gedung apartemen yang tadi ditunjuk Cecilia.
"Gak masalah, aku memang belum pernah melakukan hal ini, apalagi siang siang. Aku biasanya hanya keluar malem, pulang pagi. Tempat yang aku kunjungi hanya sebatas hotel atau karaoke, sembunyi sembunyi pula." Cecilia terkekeh, menarik tangan Irsan agar duduk di sampingnya. Dia menceritakan aibnya tanpa beban, padahal harusnya dia menutupi aibnya sendiri. "Tapi sekarang enggak, aku bisa kapan aja pergi. Gak disembunyikan dan tanpa kontrak."
"Hmmmm!"
"Iya kan ... Kamu Daddy aku tanpa kontrak." Cecilia kembali terkekeh, mencubit kedua pipi Irsan yang tampak datar saja.
"Kau ini!"
Dan tentu saja, mereka banyak bicara hal hal yang tidak di ketahui oleh orang lain, terlebih Cecilia yang banyak bertanya dan juga paling banyak menjawab. Obrolan obrolan random yang padahal bisa dilakukan di tempat tinggal mereka.
***
"Kau harus janji padaku, kau akan rajin kuliah mulai besok." Ujar Irsan saat masuk ke dalam mobil.
"Hm ...!"
"Janji?" Irsan kembali menoleh dengan kedua tangan yang sudah erat di kemudi.
"Kalau aku gak bisa janji gimana? Kau mau tiba tiba datang ke fakultas dan tiba tiba jadi dosen aku? OMG ... Gak kebayang serunya kayak apa. Aku pasti kaget."
"Kenapa aku harus melakukan hal bodoh seperti itu? Aku ini Dokter dan aku bukan Dosen."
"Eeh kau bilang apa. Bodoh! Kamu gak tahu aja serunya gimana, sembunyi sembunyi saling lirik lirikan, gak ada yang tahu kalau dosen itu pacar kita. Seru tahu." Ujarnya teringat sesuatu. Agnia.
"Kamu tahu gak, itu tuh bukti keseriusan seorang pria saat ngejar ngejar cinta si wanita. Kayak temenku dulu di sekolah menengah, cowoknya ngedadak jadi Guru dong di sekolah. Heboh pasti kalau semua siswa sekelas tahu."
"Iya ... Dan pria itu pasti sangat bodoh!" Irsan mulai melajukan kendaraannya, "Banyak cara untuk membuktikan keseriusan. bukan hal bodoh seperti itu, dia hanya akan mempersulit dirinya sendiri,"
"Ih ... Kau ini!"
"Kau bayangkan saja, jika aku melakukan hal bodoh seperti itu, aku akan meninggalkan setidaknya 3 jam di jam kerja ku di rumah sakit, berapa banyak pasien yang aku korbankan hanya untuk mengejar seorang wanita. Lagi pula, kau sudah tidak perlu aku kejar. Kita bahkan tinggal bersama sampai hari ini."
"Ya ... Ya terserah kau saja tuan pintar. Kau memang pintar berdebat."
"Aku bukan berdebat, ini memang harus di luruskan. Fikiran wanita memang selalu berbeda."
"Fikiran wanita selalu berbeda, memangnya kamu punya berapa wanita!" Cecilia mendengus, entahlah. Kenapa dia ingin Irsan melakukan hal seperti itu.
"Astaga! Itu kenyataan, tapi bukan berarti pernyataan itu menunjukan kalau aku yang memiliki banyak wanita. Kau ini kenapa?"
"Ya kamu yang kenapa? Orang aku cuma ber i ma ji na si aja." Ujarnya dengan sengaja penuh penekanan. "Gak kebayang juga kalau kamu sampai ngelakuin hal yang kamu bilang bodoh itu." rungutnya. "Dasar tiang listrik gak pernah peka." Kali ini dia hanya bergumam pelan.
"Orang yang kau ceritakan yang bodoh kenapa kita yang berdebat, hari ini kencan kita. Jadi tolong, tidak usah bawa bawa orang lain. Hm? Kita fikirkan tentang kita saja. Ok."
.
.
Ya elaa ... Masih aja gak jelas. Wkwkw. Maafkan karena othor masih akan terus kasih ketidak jelasan mereka. Mohon sabar dan ikuti terus alur yang udah othor rancang buat mereka. Komen yang banyak kalau kalian suka. Suka Cecelover atau suka Doksay tiang listrik.