
"Ya. Bukan kah kau ingin aku pilih?"
Cecilia mendengus lagi mendengar ucapannya, ucapan Irsan yang hanya menurutinya saja.
Ceklek
Tiba tiba pintu terbuka, wajah sembab Ines terlihat sangat jelas walaupun dia menutupinya dengan riasan lebih tebal dari biasanya.
"Oh kalian sudah datang." ujarnya dengan membuka pintu lebar lebar, agar Cecilia dan juga Irsan masuk ke dalam. "Masuklah."
Irsan masuk di ikuti oleh Cecilia yang mengernyit melihat Ines yang seakan tidak bereaksi melihatnya.
"Gimana. Kau sudah menemui Satya?" tukas Ines dengan kedua tangan yang melipat di dadanya.
Irsan menggelengkan kepalanya, "Aku baru saja kembali dari kantor polisi."
"Oh ... Jadi kapan menemui Satya! Aku tidak mau tahu ya, kau harus secepatnya temui dia. Kalau tidak, aku tidak akan memaafkanmu."
"Hello gue disini? Kalian kenapa asik mengobrol berdua. Apa gue kalian anggap guci. Atau asbak gitu?" tukas Cecilia yang tidak sabar. Sudah terbayang di fikirannya, kalau dia akan menang lagi kali ini.
Ines menoleh ke arahnya, lalu kembali menoleh ke arah Irsan. "Kau sudah menjelaskannya?"
"Belum ... Aku sengaja membawanya kemari agar kau juga mau memaafkannya. Ini semua salahku, kalau saja aku---"
"Tunggu! Apa aku bersalah. Kenapa dia harus memaafkanku?" Lagi lagi Cecilia memotong pembicaraannya, ada yang tidak dia mengerti. "Kau sengaja membawaku kemari untuk meminta maaf?"
"Heh dengar ya. Bisa tidak kau dengarkan penjelasan Irsan dulu sebelum nyerocos tiada henti seperti kereta api,"
"Penjelasan apa? Sudah terang terang kau berselingkuh, kau yang bermain api dan kau wanita matre." ungkap Cecelia dengan satu tarikan nafas.
Ines tentu saja berang kembali, dia tidak terima dituduh yang tidak tidak, justru karena tuduhan dari Cecilia lah kencannya gagal. Dia menarik lengan Irsan yang hanya diam saja dengan memijit pelipisnya.
"Katakan Irsan! Kenapa kau diam terus saat dia berkata seenaknya padaku." Ines kembali menatap Cecilia, "Kau pasti menyesal karena mengatakan hal itu padaku, dan aku akan meminta ganti rugi yang setimpal."
Cecilia berdecih, "Jelas jelas kau yang salah, aku hanya kasian pada Irsan, dia mudah diperdaya oleh wanita sundel. Kasian sekali."
"Cecilia ... Bisakah kau diam dulu? Aku ingin menjelaskan semuanya padamu."
"Jelaskan apa? Bahwa selama ini aku salah gitu. Nuduh dia yang enggak enggak?"
"Ya ... Kau memang salah!" Sahut Ines.
Cecilia kembali berdecih namun kedua matanya mengarah pada Irsan. Ayo buktikan, kau bilang kau bakal belain gue dari pada dia.
Irsan membawanya duduk di sofa, begitu juga dengannya yang duduk di depannya, Ines juga duduk disamping Irsan.
"Apa apaan kalian duduk bersama disitu? Sementara aku sendiri." gumamnya dengan tatapan semakin tajam pada Irsan, lalu beralih pada Ines.
Irsan menghela nafas, dia bangkit dari duduknya dan memilih duduk disofa single yang berada ditengah keduanya agar mereka tidak saling iri.
"Kenapa memangnya? Kau kan sundel, gak pantes buat dia."
"Heh ... gak usah nyamber ya. Gue gak ngomong sama lo." Ines benar benar kesal sampai kata kata yang keluar dari mulutnya pun sudah tidak lagi formal.
"Nes!"
"Kenapa! Ini salahmu. Kau terlalu lambat Irsan." ujarnya menendang sepatu yang dikenakan Irsan. "Jadi lebih baik gue yang ngomong. Dan lo ... Lo tahu siapa gue?" tunjuknya pada Cecilia.
Cecilia berdecih, "Lo sundel."
"Gue sepupu Irsan!"
"Mana mungkin! Kau hanya mengada ngada. Oh aku tahu, kalian sengaja kan. Banyak diluar sana yang menutupi hubungan dan mengaku sepupu dan paman, adik dan kakak. Gue gak bego ya."
"Itu benar Cecilia! Ines sepupuku, dia bukan kekasihku." sela Irsan yang membuat kedua manik hitam Cecilia mulai membulat. "Aku yang bersalah dalam hal ini karena melibatkan Ines, sampai dia gagal kencan karena kau berfikir dia berselingkuh dari ku. Maafkan aku Cecilia. Harusnya aku menjelaskannya lebih cepat.
Cecilia tersentak mendengar semua yang dikatakan pria yang katanya akan memilihnya dibandingkan Ines, yang katanya akan membelanya dibandingkan Ines.
"Kau dengar itu baik baik Cecilia. Kami." ujar Ines menunjuk Irsan lalu dirinya sendiri. "Adalah sepupu. Dan itu artinya semua ucapan lo sama gue itu salah besar."
Cecilia tidak bisa bicara satu patah katapun, dia terus menatap keduanya bergantian satu sama lain. Kedua matanya mengerjap ngerjap tak percaya.
"Maafkan aku Cecilia. Ini semua kesalahanku,"
"Memang salahmu! Kau hanya ingin membuat dia cemburu dan kau terlihat keren dengan memiliki wanita. Tapi nyata kau tidak keren!" Ujar Ines, ini memang kesalahan Irsan seorang. Dan jelas harus bertanggung jawab.
"Jadi kalian?"
"Ya ... Kami memang sepupu, dia memintaku agar membuatmu cemburu walaupun aku tidak tahu hasilnya kau cemburu sekali. Bahkan membuat kencanku gagal total."
"Jadi kalian sengaja mempermainkanku?" Dengus Cecilia. "Bikin cemburu? Hah ... Lucu sekali." Cecilia bangkit dari sofa, lalu menundukan kepala ke arah Ines. "Kalau gitu aku minta maaf!" ujarnya kesal lalu menyambar tas miliknya dan berlalu keluar.
Irsan mengejarnya, pria itu mencekal lengannya agar tidak pergi dan terus minta maaf kepadanya.
"Cecilia. Tolong maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku tidak bermaksud mempermainkanmu. Aku ... Aku hanya ingin membuatmu cemburu saja. Aku hanya ingin tahu perasaanmu saja Cecilia."
"Udah ngomongnya?"
Irsan mengangguk, setelahnya Cecilia menepiskan tangan Irsan dan kembali melangkah pergi. Sialan, lo gak tahu gue bahkan ngelakuin hal bodoh dengan neglakuin pole Dance di depan banyak orang di klub itu gara gara lo sama Ines. Dan kalian cuma sepupu. Bener bener muka gue mau di taro dimana sekarang, belum lagi nuduh dan bilang sama teman kencan Ines kalau gue gak pernah salah. Sial ... Bener bener sial.
"Cecilia ... Tunggu! Aku benar benar minta maaf. Aku bersalah. Jangan marah padaku."
"Terus aku harus marah sama siapa. Sama setan?"
.
....Hayolooo tanggung jawab lo tiang listrik, Gue gak mau tanggung jawab yaa. Gak ikut ikutan ah. Kaburrrr...