I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.166(Asisten Dosen)



Jam pertama sudah berakhir, Dosen tersebut bangkit dari duduknya.


"Cecilia! Jam kedua dan ketiga kau yang isi. Bapak ada urusan, dan jangan lupa nilai nya kau masukkan langsung, file nya kau buat sendiri. Semua ada di flash disk itu." Ujarnya lalu keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban dari Cecilia.


"Astaga! Belum apa apa tugas lo udah banyak banget." gumam Nita menggelengkan kepalanya, namun sejurus kemudian dia tertawa, "Lo gak bisa berkutik sedikitpun."


Cecilia mendelik, dia bangkit dari duduknya lalu keluar untuk mengejar dosen yang dia rasa salah memilih orang.


"Pak ... Pak Harsa. tunggu Pak!"


Dosen bernama Harsa itu tidak menoleh sama sekali, dia terus berjalan menuju tempat parkir mobil, padahal Cecilia sudah berteriak sekuat tenaga.


"Tunggu Pak ... Elah, budeg juga tuh orang!" Umpat Cecilia saat mengulangi panggilannya lagi.


Tentu saja kali ini Harsa menoleh, dia berdiri di depan pintu mobilnya.


"Apa?"


Cecilia menelan saliva, takut umpatannya terdengar oleh Harsa. Namun dia tetap menghampirinya juga.


"Bapak yakin pilih aku jadi asisten dosen. Aku ini nggak punya kemampuan apa-apa loh Pak, gak punya kelebihan apa-apa. Gak tahu karakter bapak kayak gimana selain tukang marah dan tegas, aku juga nggak punya prestasi apa-apa. Kenapa Bapak milih aku?Yang lain aja deh pak!"


"Apa kurang jelas yang saya katakan di depan kelas tadi. Semua itu hak saya, terserah saya ... Dan saya sudah memilihmu, jadi ambil itu dan berusahalah dengan keras." sahut Harsa tegas,


"Tapi kalau saya ternyata gak bisa?"


" Maka kamu tidak akan saya luluskan di mata kuliah saya!" tegasnya lagi lalu melengos masuk ke dalam mobil, melaju meninggalkan Sisilia yang terpaku di tempatnya berdiri.


"Anjim banget deh gue! Tahu gitu besok aja gue ngampusnya," desis Cecilia yang berkacak pinggang. "Mana gue juga harus gantiin dia dua jam nanti, susah emang tuh orang, masa harus gue rayu dulu sih!"


"Kebangetan lo. Inget lo udah punya si tiang listrik! Mau lo ketahuan ... Jangan macem macem deh!" Tukas Nita dari arah belakang dengan menarik sedikit rambutnya.


"Anjim lo. Ngagetin gue aja!"


"Ya lagian lo ngapain masih usaha aja buat nolak kesempatan bagus ini, lo tahu gak hampir semua mahasiswa pengen posisi yang lo sekarang punya! Lo malah gak mau ... Bego lo!"


"Ya gak mau gue Nit! Nanti gue gak ada waktu maen, gak ada waktu buat seneng seneng, udah punya pacar sibuk, nanti gue sibuk ... makin ancur dah hidup gue kalau begini ceritanya."


"Heh ... Bego lo! Justru dengan ini lo kan bisa buktiin sama dia kalau lo itu sebenernya pinter, lo juga bisa lulus, atau bisa jadi dosen muda di sini. Kan ada tuh yang jadi Dosen alumni."


Cecilia terdiam mendengar perkataan Nita, perlahan lahan kepalanya terlihat terangguk angguk. "Bener juga sih! Gue bisa buktiin sama dia kalau gue ini cerdas. Kok gue gak kefikiran dari tadi ya?"


"Itu karena otak lo banyak mengandung alkohol, jadi gak bisa mikir alias to lol."


"Sialan tuh mulut, kayak gak sekolah lo!" Cecilia memiting leher Nita hingga nyaris tersedak lalu melepaskannya dengan tertawa.


Uhuk!


"Cece! Awas lo ya," serunya saat melihat sahabatnya pergi lebih dulu.


Cecilia menoleh dengan menjulurkan lidah ke arahnya, dan Nita pun berlari menyusulnya. Mereka sama sama kembali ke kelas, untuk mengambil tas dan barang miliknya. Cecilia masih punya waktu satu jam untuk mempelajari materi sebelum dia yang mengajarkannya pada teman teman satu angkatannya. Kemampuan bicara di depan umum memang sudah tidak asing baginya, namun otaknya perlu waktu untuk mencerna semua materi baru dengan membaca semuanya.


Sementara di rumah sakit


"Ayo bicara!" desisnya dengan kedua mata menajam ke arah Irsan.


"Pokoknya ibu tidak mau melihat gadis kurang ajar itu, tidak punya etika dan sopan santun."


"Bu ... Aku ingin ibu tetap di sini! Tinggal kembali di sini dan menemaniku. Aku mohon!" ujar Irsan dengan lirih.


Embun tentu saja tersentak mendengarnya, baru kali ini dia mendengar putranya memohon seperti itu, bak anak kecil yang meminta permohonan.


"Aku mohon bu! Tinggallah disini bersamaku. Aku tidak ingin lagi tinggal berjauhan denganmu bu." lirihnya lagi membuat hati Embun semakin menghangat.


"Apa kalau ibu tinggal di sini kau akan pergi ke perusahaan?" sahutnya menohok.


Irsan terdiam, "Atau begini saja, kau tinggalkan gadis itu baru ibu akan tinggal di sini." katanya lagi lebih menohok.


"Bibi!"


"Bu! Tidak bisa kah ibu mengerti apa yang jadi keinginanku? Sekali saja bu," Irsan tertunduk lesu.


Ucapan Cecilia agar mencoba berbalikan dengan ibunya sudah dia coba, mengenyampingkan egonya sendiri dan mengalah. Tapi nyatanya sesulit itu.


"Gadis yang ibu bilang tidak punya etika dan sopan santun, dan gadis yang ibu bilang kurang ajar dan tidak cocok untukku itu yang justru menyuruhku berbaikan denganmu Bu. Asal ibu tahu saja! Dia yang ingin hubungan kita kembali baik. Apa ibu tidak mengerti juga. Sekalipun di mata semua orang dia itu buruk, aku akan tetap mempertahankannya, dan sekalipun ibu tidak memberiku restu, aku akan tetap bersamanya." Ujar Irsan yang seketika bangkit dari duduknya lalu beranjak pergi.


"Irsan!"


"Bibi!"


"Irsan!" Teriak Embun lagi.


Ines merengkuh bahunya dan membawanya duduk di sofa.


"Kalau begini terus, kondisi kesehatan Bibi juga tidak akan bagus!"


Embun terlihat menghela nafas berat. "Ines!"


"Hm...!"


"Bagaimana gadis itu menurutmu?"


"Kenapa bibi tiba tiba bertanya seperti itu?"


"Jawab saja pertanyaan Bibi, apa dia benar benar menyuruh Irsan berbaikan denganku?"


"Aku tidak tahu dan tidak mendengarnya sendiri Bi, tapi aku tahu kalau Irsan tidak pernah bohong soal apapun pada Bibi, termasuk pada ku Bi. Dan aku rasa itu benar, Cecilia memang berbeda. Dia bahkan bisa membuat Irsan semakin ekspresif. Ya walaupun tidak banyak berubah, setidaknya dia sekarang lebih banyak bicara."


"Benarkah. Apa semua gara gara gadis itu?"


"Ya ... Cecilia memang unik dan menarik perhatian semua orang yang melihatnya, gaya bahasanya blak blakan dan tidak tahu tempat. Tapi dia baik bi. Dan bibi harus mengenalnya."


Embun tampak terdiam sesaat, lalu dia bangkit dan menyuruh Toni membawa koper miliknya.


"Toni! Kita tidak jadi pulang ke Singapura. Kita ke rumah sekarang."