
Tepat 24 jam keduanya berada di rumah sakit, suasana rumah sakit mulai ramai, sepi kemudian ramai kembali di keesokan pagi. Cecilia menggeliat dalam pelukan hangat Irsan, kelelahan dan fikiran yang tidak karuan membuatnya terjaga semalaman dan baru tertidur di saat dini hari.
Sementara Irsan tidak dapat memejamkan mata karena terus menjaganya. Jasmaninya mungkin terlihat segar dan bugar, namun dia tahu jika fikiran gadisnya itu cukup terganggu. Masalah demi masalah yang terjadi dalam hidupnya seakan tiada hentinya, dan bukan perkara mudah untuk bertahan dan melewatinya meskipun dia tahu jika Cecilia memang gadis yang tangguh.
Usapan lembut di kepalanya tidak juga berhenti, membuat Cecilia semakin nyaman dan terlelap damai. Jangan ditanya perasaan Irsan saat ini terhadap Cecilia, bukan hanya cinta saja yang semakin berkembang nyata, segala perasaan yang meliputinya dapat dia rasakan, sayang sudah tentu, khawatir dan peduli menjadi satu, memastikan yang terbaik adalah yang utama kini, dan berupaya membuatnya nyaman dan aman adalah tugasnya.
Cecilia kembali menggeliat, lengan Irsan yang menjadi bantalnya membuatnya nyaman, kedua tangannya semakin merekatkan pada tubuh berotot itu. Dan sudah tidak terhitung lagi seberapa elusan lembut yang menenangkannya.
Beruntung tidak ada yang berani masuk ke dalam ruangan, hampir semua perawat tahu jika Irsan sudah mengambil cuti sebelumnya, hanya satu orang saja yang berani dan seakan tidak peduli walaupun tahu jika Irsan akan marah. Carl.
Pagi sekali Carl sudah datang, dia langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dahulu, tidak peduli sepasang kekasih berbeda generasi itu terbaring di sofa dalam posisi saling bersisian dan sangat rapat tanpa jarak.
Dia hanya melihatnya sekilas, membuat Irsan berdecak.
"Apa kau tidak punya sopan santun?"
"Sorry dude ... Aku punya, tapi ini sangat urgent. Dan sebaiknya kita pergi sekarang."
Tanpa merubah posisi yang justru akan membuat Cecilia terbangun, Irsan hanya menolehkan kepalanya ke arah Carl yang duduk di kursi miliknya. Wajahnya datar dengan tatapan yang tajam.
"Apa yang terjadi. Bukankah kau sudah minta reschedule?"
"Ya ... Dan Zian tidak mau! Dia ingin semua berjalan sesuai dengan jadwal." Carl menjawabnya dengan kedua manik yang menatap layar di ipad miliknya. "Hari ini setelah makan siang, dia memberi kita waktu setengah hari." Carl bangkit dari duduknya, "So ... Siap siap Dokter, hari ini aku punya urusan lain. Jadi kau atur semuanya sendiri." pungkasnya lagi dengan berdiri menatap keduanya lalu mengulum senyuman. "Perkembanganmu sangat pesat Irsan, aku salut padamu." sambungnya lagi dengan kedua alis yang turun naik dengan lirikan genit ke arah Cecilia yang tengah tertidur.
"Kau. Dasar Brengsekk!"
Carl tertawa, melihat Irsan yang bahkan tidak bisa berbuat banyak karena takut akan membangunkan Cecilia, pria itu berjalan mondar mandir dengan sengaja, membacakan apa yang harus Irsan lakukan dan katakan nanti. Membuat Irsan menghela nafas dengan berat.
"Ku fikir Zian akan mengerti, tapi ternyata tidak. Dia tetap egois dan sok berkuasa!"
"Ini bisnis bro ... Tidak ada yang namanya teman apalagi keluarga, sekalipun kau sahabatnya. Bisnis tetaplah bisnis. Terlebih dia memang berkuasa, kau mungkin hanya berkuasa di rumah sakit ini. Itu pun dibalik layar. Tapi Zian memiliki kuasanya di kerajaan bisnis. Jangan lupa Itu Dokter Irsan."
Irsan terdiam, itu memang benar. Dunia mereka memang berbeda, dan dirinya tidak terlalu banyak tahu soal bisnis. Carl tertawa lagi,
" Kau tenang saja, Zian juga tidak seseram itu. Dia bisa membedakan mana bisnis bersama teman mana bisnis dengan orang lain."
"Diam kau! Kau akan membangunkannya dengan suaramu itu." cicit Irsan dengan suara pelan.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku ada urusan yang mendesak hari ini. Dan aku akan menyusulmu nanti, semua yang ku katakan tadi ada di sana." Carl berlalu pergi, dengan menunjuk ipad yang tergeletak di atas meja lalu melambaikan tangannya.
Irsan mendengus. "Hey apa aku harus tetap ke singapura hari ini? Kau gila Carl ...."
Carl yang sudah keluar dari ruangannya terus terkekeh dan tidak sadar jika dia tidak memberikan informasi dengan jelas, pria itu terus mengotak ngatik ponsel miliknya.
Cecilia mengerjapkan kedua matanya sesaat setelah suara sentakan Irsan sendiri yang membangunkannya.
"Astaga ... Ini sudah pagi. Kenapa.gak bangunin aku?"
"Ini masih terlalu pagi, tidurlah."
Cecilia menggelengkan kepala seraya bangkit dari tidurnya lalu mengusap usap lengan Irsan.
"Tidak apa."
Gadis itu mengulas senyuman, "Aku senang karena kamu ternyata masih ada di sini."
Irsan ikut bangkit dan terduduk menghadap ke arahnya, lalu memegang tangan Cecilia.
"Aku sebenarnya ingin disini dan menemanimu terus, tapi aku harus pergi. Aku harus mengurus sesuatu."
Cecilia mengangguk, walaupun wajahnya terlihat sedikit berubah. "Selesaikan urusanmu dengan cepat dan langsung pulang."
"Tentu saja, untuk apa lama lama di sana." Irsan mengacak pucuk kepalanya.
***
Waktu terus berputar. Setelah kepergian Irsan, Cecilia tetap berada di ruangan dimana Ibunya kini mendapat perawatan. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter memutuskan untuknya agar di rawat secara intensif.
Gadis itu sesekali hanya melihatnya dari kaca yang hanya tertutup tirai putih, terlihat sang Ibunya tengah terlelap. Kondisi Ibunya yang stabil membuatnya tenang, namun masih ada satu yang membuatnya belum bisa tenang, nomor Nita masih belum aktif juga, puluhan pesan darinya pun diabaikan.
"Nit ... Lo dimana sekarang! Maafin gue." Lirihnya dengan kembali duduk dengan kepala tertunduk lesu.
Lama sudah dia terdiam memikirkan Nita yang tidak kunjung memberinya kabar, sampai suara suara ribut dari ujung lorong membuatnya menoleh.
Suara tangisan anak kecil di sertai dua orang yang memperebutkannya. Cecilia beranjak dari duduknya, jiwa keingin tahuaannya meronta ronta hingga dia pun berjalan ke arah mereka.
"Ada apa Bu?"
Seorang wanita yang terlihat tidak terlalu tua itu menoleh ke arahnya, lalu menunjuk seorang ibu ibu yang terlihat lebih dewasa lagi." Ini mbak ... Dia ... mau bawa anak ini!"
"Eeh sembrangan ... Kau yang mau bawa anak ini! Aku justru yang menemukannya." balas wanita itu tidak terima.
Sementara anak yang tengah diperebutkannya terus menangis. Membuat Cecilia berdecak ke arah keduanya. "Jadi yang mana Ibunya? Pusing ... Kenapa kalian gak lapor securty aja sih, ribet banget."
Wanita muda itu justru menyerahkan anak yang tengah menangis itu padanya.
"Ya udah mbak aja yang lapor! Aku repot, lagi jagain orang sakit." ujarnya langsung melengos pergi.
"Heh ... Kenapa jadi gue! Lo fikir gue gak repot." serunya dengan kesal.
"Ya udah sih Mbak ... Bener juga, daripada aku sama tuh orang saling tuduh menculik kan, mending mbak aja yang pegang ini anak." tambah wanita satunya lagi yang ikut melengos pergi.
Cecilia tertegun menatap kedua orang yang pergi begitu saja dan tidak peduli, sementara anak itu terus saja menangis dan meronta ronta dalam pangkuannya.
"Astaga ... Kesialan apa lagi ini. Ternyata tobat itu makan ati mulu. Susaaah ya tuhan!"
.
Selamat hari Ibu, emak, bunda, mamak, momi semuanya, semoga makin luas lagi sabarnya, dan makin kuat menghadapi akhir bulan, cicilan panci, keranjang olshop yang belum di check out, dan masih banyak lagi. Wkwkwk Lope lope badag buat kalianš„°