
Irsan menarik tangan Cecilia dan berjalan dengan cepat menuju ke unit Cecilia. Wajah datar dengan rahang mengeras karena menahan marah juga benar benar malu. Sementara Cecilia menahan tawa melihatnya.
"Kau puas?" tanyanya dengan menghempaskan tangan Cecilia, dia berbalik ke arahnya dengan tatapan kesal.
Dengan cepat Cecilia merubah raut wajahnya, "Tidak juga, aku masih kesal dan marah. Itu cuma 10 orang dan mereka gak kenal kita."
"Apalagi yang kau inginkan dari ku hem? Kau ingin aku umumkan ke seluruh dunia kalau kau pacarku?"
"Enggak juga. Buat apa!" Cecilia memalingkan wajahnya.
"Kalau begitu, berhenti bertindak semaumu Cecilia, kau tahu itu sangat memalukan!"
"Kenapa kau jadi marah?"
Kedua alis Irsan mengernyit tajam menatapnya lalu terpejam sesaat, rahangnya yang keras mulai mengendur walau terlihat jelas gigi bergemelatuk. "Marah. Apa aku terlihat marah?"
"Itu mukamu udah kayak setan yang lagi keliling cari mangsa." ujar Cecilia acuh lantas dia membuka kunci password, lalu masuk kedalam unitnya.
"Apa. Setan keliling cari mangsa. Jangan sembarangan bicara ya!" ujarnya dengan ikut masuk.
"Ya terus apa? Tiang listrik, setan keliling ... emang cocok untukmu! Lagian ya, aku yang marah kenapa kau ikut marah. Nyebelin banget."
Irsan akhirnya menghela nafas panjang, mengatur emosi yang hampir meledak namun lagi lagi otaknya berpikir rasional. Dia menghempaskan tubuhnya di sofa lalu meraup wajahnya pelan.
"Terserah kau saja kalau begitu."
"Ya udah!" jawab Cecilia tak mau peduli sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Gadis itu bersandar dibelakang pintu dengan senyuman dibibir tipisnya. Dari sekian banyak pria yang selama ini hanya bisa menyembunyikannya saja, baru Irsan yang bersikap bodoh menuruti keinginannya walau sedikit ancaman serta juga sedikit paksaan.
Tak lama dia keluar lagi, melihat Irsan yang juga menatapnya. Pria itu seakan baru saja kenapa dirinya malah ikut masuk ke unit Cecilia.
"Aku harus pergi!" Irsan bangkit dari duduknya.
Cecilia bergegas menarik lengannya, hingga pria itu kembali menoleh kebelakang.
"Tu--tunggu. Kau fikir kau bisa pergi gitu aja? Itu belum selesai, aku masih marah."
Irsan menghela nafas, "Apalagi?"
"Ak--aaku lapar. Aku mau makan enak."
Tatapan Irsan menelisik dari atas sampai bawah, lalu kembali menatapnya.
"Ganti baju!"
"Eeh ..."
"Kalau kau ingin makan, ganti baju mu dulu. Rok mu terlalu pendek." ujarnya membuka pintu, "Aku tunggu di luar." ucapnya lagi sambil berlalu pergi.
***
Irsan kembali menatapnya dari atas sampai bawah saat gadis yang kini berpenampilan sederhana dengan celana Jeans sobek dan juga kaos oblong bergambar dragon ball yang dikenakannya beserta sepatu kets berwarna putih. Rambut panjangnya dia gulung ke atas, tampak berantakan namun Irsan tidak berkedip melihatnya.
"Gimana. Masih salah juga? Atau tidak usah pergi saja. Aku bisa pesan makanan via online." seru Cecilia yang melihat Irsan hanya berdiri menatapnya.
"Tidak! Kita bisa pergi." Menarik pergelangan tangannya dan membawanya berjalan.
Gak salah. Padahal gue sengaja pakek baju kayak gini biar dia makin kesal, eeh ternyata enggak, apa dia emang suka gue keliatan urakan dan cuek begini dibandingkan penampilan gue yang seksi kayak biasanya. Cecilia membatin.
"Mau makan apa?"
Cecilia mengerdikkan bahu, dengan menatap penampilannya sendiri, "Memangnya pake baju kayak gini kau fikir kita bisa makan dimana?"
"Kita bisa makan di mana saja, kenapa kau khawatir dengan penampilan yang kau pilih sendiri?" jawab Irsan menohok.
Cecilia menggaruk tengkuknya sendiri, jelas dia sengaja berpenampilan seperti itu agar Irsan kembali emosi, bukannya malah balik menyerangnya.
"Oke ... Kau sendiri gimana?" Cecilia menatap penampilan Irsan yang rapi dengan kemeja dan sepatu pentopelnya.
"Aku bisa makan dimana saja. Terserah kau! Yang penting kemarahanmu reda."
"Jadi kau ...!" Cecilia mengulum senyuman dengan kedua mata memicing ke arahnya.
"Apa. Maksudku kau berhenti marah agar kita bisa cepat menyelesaikan masalah ini."
"Hiih ... Ku kira kau benar benar melakukannya karena aku, ternyata karena itu." gumamnya pelan.
Mereka berdua masuk ke dalam lift, Irsan menekan tombol nomor satu di mana basement berada, hingga pintu lift tertutup. Keduanya terdiam untuk beberapa saat sampai suara Irsan akhirnya terdengar pelan.
"Aku juga ingin melakukannya." sahutnya datar, bahkan tidak merubah pandangannya atau pun menoleh walau sedikit. "Aku melakukannya karena mu."
Cecilia terbeliak ke arahnya, menatapnya beberapa detik lalu mengulas senyuman tipis. Pria itu benar benar pintar menarik ulur perasaan dengan sikapnya yang dingin namun tiba tiba bisa menjadi hangat. "Benarkah?"
"Hm."
"Dasar tiang listik. Lempeng aja masih bisa nyetrum."
"Kau mendengarnya Cecilia, berhenti memanggilku seperti itu."
Cecilia terkekeh, merekatkan tangan pada genggaman Irsan lalu menggeser sedikit tubuhnya ke samping hingga lengan mereka menempel, gadis setengah gila itu menyenggil sedikit lengannya.
"Jadi kau mau aku panggil sayang atau honey?"
..
Hai Cecelover ... Maaf othor baru up lagi, hehehe. Tugas di RL yang lebih banyak menyita waktu. Semoga kedepannya lancar lancar terus up nya yaa. Makasih karena udah sabar menunggu. Lope lope buat kalian.