I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.29(Suster Gadungan)



Kedua mata Reno terbelalak dengan sempurna, melihat ke arah gadis yang kini tersenyum manis dengan aura kecantikan paripurna, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki seolah memastikan penglihatannya sendiri.


"Ka--kau ...?"


"Hmmm!" gumaman kecil nan syahdu membuat dada pria yang menatapnya kini berdebar debar.


Bukan kerinduan ataupun rasa bahagia bisa bertemu dengan gadis yang selama ini menjadi penghiburannya, melainkan debaran ketakutan serta kecemasan luar biasa yang sulit dijelaskan logika saat wanita cantik nekad memasuki rumahnya dengan cara yang benar benar gila.


"Kenapa kau kemari?" Reno bangkit dari duduknya, dengan tangan mengelus dadanya sendiri. Khawatir tiba tiba serangan jantung dan mati berdiri.


Cecilia berhambur memeluknya, melingkarkan tangan pada pinggang lebar sang daddy. "Daddy ... Aku kangen!"


"Kau gila! Nekad sekali datang kemari." ujar Reno dengan melepaskan kedua tangan yang merekat di pinggangnya. Panggilan sayang atau honey yang kerap terucap benar benar sulit keluar dari mulutnya.


Tidak menyerah begitu saja, Cecilia kembali melingkari pinggangnya disertai rengekan manja. Hingga topi suster yang terpasang dirambutnya hampir lepas.


"Eeeummhh!!" lenguhan manja saat menggoyang goyangkan tubuhnya yang bergelayut manja.


"Kau benar benar nekad, bagaimana kalau istriku tahu!"


"Daddy jahat sama aku! Aku bela belain nyamar kayak gini cuma buat ketemu daddy, aku juga berbohong dengan mengaku sebagai suster hanya karena daddy. Kalau bukan daddy, mana mau aku ngelakuin hal ini!" cicitnya dengan bibir tipis mencebik.


Reno mengambil nafas panjang, wajah menggemaskan yang dilihatnya benar benar mengacaukan fikirannya.


Si otak cerdas benar benar mengambil kesempatan dari sepasang suami istri dengan ucapan yang berbeda, jelas dua keuntungan bisa dia dapatkan dengan mudah. Mengambil kesempatan dengan menarik hati Irene juga meminta haknya diberikan pada Reno. Setali tiga uang, kecerdasannya memang luar biasa.


"Ho--!" Reno harus menahan diri agar tidak sembarangan bicara di rumahnya sendiri, dia tidak ingin menambah masalah dengan sang istri, walaupun bosan dengan hidupnya yang monoton, tapi Reno tetap memikirkan istri sahnya, wanita yang jelas jelas menemaninya dalam keadaan apapun. Sementara gadis yang kini di pelukannya hanyalah kesenangan. Kesenangan yang tidak mungkin dia genggam selamanya namun juga belum mau melepaskannya.


"Daddy gak kangen sama aku? Atau Daddy sakit karena kangen aku."


Ahk ... Tidak ada yang bisa menolak pesona Cecilia, wajahnya, nada bicaranya bahkan gerakan tubuhnya saja mampu menghipnotis kaum adam. Termasuk Reno si lemah iman.


"Daddy kangen sekali!" Reno pasrah, dia tidak ingin menyia nyiakan kesempatan langka ini. "Tapi kita harus hati hati, jangan sampai istriku tahu."


"Soal itu gampang Daddy! Yang susah itu waktu Daddy, ngebiarin aku gitu aja."


"Maaf sayang! Daddy benar benar sakit. Lagi pula ini belum dua bulan. Gimana kabarmu hem? Kamu tidak nakal kan?"


Cecilia menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan sibuk merapikan topi di atas rambutnya, "Aku baik, tapi aku sedih!"


"Kenapa hem?"


"Mobil dipinjam temanku, dia kecelakaan sampai meninggal, dan aku gak bisa minta tanggung jawabnya." Cecilia sampai berbohong, entah siapa temannya yang penting dia tidak menyebutkan nama.


"Temanmu?"


"Hem ...! Temanku yang pernah aku bicarakan Daddy, yang selalu bilang aku tidak punya baju bagus!" kelakarnya makin membuat Reno bingung, entah siapa yang dia bicarakan. Toh Reno tidak akan peduli dengan teman temannya juga.


Reno mengulum senyuman, dia paham keinginan sugar baby cantiknya itu. "Mau ganti mobil apa?"


"Daddy. Aku gak minta daddy ganti kok!"


"Sudahlah ... Nanti Daddy suruh asisten Daddy siapkan,"


"Atau begini saja, Daddy kasih uangnya, biar kamu pilih dan beli sendiri. Hem."


Binggo, ini yang gue tunggu tunggu dari tadi. Satu pelukan aja emang gak cukup buat yakinin nih aki aki. Gue udah beli mobil, yang gue butuh justru duitnya sekarang.


Cup


Cecilia mendaratkan kecupan sekilas di pipi pria tua yang terlanjur senang walau wajahnya masih terlihat pucat. "Daddy ... Iihh, daddy terbaik pokoknya! Love you Daddy."


"Janji gak nakal?"


"Janjilah Daddy ... Aku gak akan pindah ke daddy lain kalau aku punya daddy ter the best ini." ucaonya mengelus perut buncit Reno.


Reno jelas tertawa, penghiburan saat dirinya sakit seolah menjadi obat manjur yang menghilangkan semua penyakitnya. Dia memajukan bibir hendak menciumnya, namun Cecilia dengan cepat bergerak mengambil obat diatas meja.


"Sekarang Daddy minum obat, aku gak mau Daddy sakit lama lama, Daddy katanya harus nemenin tante Irene berobat juga kan." ucapnya menyerahkan obat beserta segelas air. "Aku akan keluar sekarang, kalau lama lama aku takut bikin tante Irene mikir yang enggak enggak." ucapnya lagi.


Reno menenggak obat itu dengan semangat, berbeda jika yang menyuruhnya adalah Irene, tidak akan ada smangat yang berkobar. Datar saja.


"Kamu menginap di sini?"


Cecilia mengambil tissu dan mengelap bibir Reno yang basah, "Kalau aku menginap, aku bisa masuk ke kamar malem malem dan nemenin Daddy bobo! Tapi ... Aku gak yakin apa cuma nemenin ata---"


"Nakal kamu yaa!" Reno tergelak, belum apa apa sudah membayangkan hal itu terjadi.


"Tante Irene menyuruhku menginap, tapi aku takut tidak bisa menahan diri. Apa Daddy mau aku menginap? Kalau Daddy yang minta ... Aku gak bisa nolak. Tapi aku takut ketahuan." ujarnya melingkarkan tangan di lengan Reno, membawanya duduk di sofa yang berada disana. "Tapi aku bisa setiap hari kesini, memberi Obat dan manja manja begini."


Reno tertawa lagi, dia cukup puas bisa melihat dan bersama sugar babynya itu walau tidak bisa sepanjang waktu, itu lebih baik dari pada mengambil resiko terburuk.


"Benar ... Begitu lebih baik! Istriku tidak akan curiga."


Cecilia kembali beranjak dari sofa, "Kalau gitu, aku keluar dulu."


"Temani sebentar saja lagi!"


"Gak bisa Daddy, nanti tante Irene nyusulin aku kesini. Bisa bisa dia nangkep basah kita. Daddy mau suruh tinggalin aku yang cantik ini? Kalau aku gak mau lho Dad." ujarnya dengan mendayu dayu, juga kedua manik nanar mempesona.


Reno mau tidak mau mengangguk pelan, dia juga tidak ingin hal itu terjadi dan membiarkan Cecilia keluar dari ruangan kerjanya.


"Bagaimana?" Irene berdiri tepat saat Cecilia membuka pintu, dia melonjak kaget melihatnya.


"Tante ... Bikin kaget!"


Irene memicingkan kedua matanya melihat gelagat gadis di depannya yang kikuk, menatap topi yang sudah miring di atas kepalanya. Menyadari hal itu, Cecilia dengan cepat merapikan topi susternya, tak lupa dia juga terkekeh,


"Maklum Tan, suster gadungan. Aku gak bisa masang ini!"


Irene mengangguk mengerti, "Kamu dapat info yang aku minta?"


.


Nah lho pusing gak lo Ce ditanyain. Wkwkwk dasar suster gadungan.