
"Ini mah soal gampang ...! Biar aku yang urus."
Cecilia melangkah maju, namun langkahnya terhenti saat Irsan mencekal tangannya dan menariknya kebelakang lagi.
"Tidak ... Jangan lakukan apapun! Kau hanya akan mengatasi masalah dengan masalah, lebih baik kita pergi dari sini. Biarkan mereka menyelesaikannya berdua." Tukas Irsan yang terus memegangi lengan Cecilia yang masih berusaha bergerak maju.
"Mengatasi masalah dengan masalah katamu! Semua masalah bisa di atasi tahu." sungutnya.
"Ya tapi tidak untuk kali ini Cecilia. Menurutlah! Kita tidak mau hubungan kita di campuri orang lain bukan? Biarkan mereka sudah dewasa."
Cecilia mendengus dengan melipat kedua tangannya di depan dada lalu menghempaskan tubuhnya begitu saja ke atas sofa. "Susah kerja sama sama orang yang bijaksana dan arif kayak kamu!"
Irsan menghela nafas, lalu menarik lengannya. "Kita pergi. Hm?"
"Seenggaknya kau peduli sama sepupumu itu, lihat dia, aku aja yang lihatnya ikut kesel. Gak lihat apa tuh cowo cengengesan mulu?" Cecilia menunjuk ke arah Tristan.
Irsan menoleh, dia memang tidak peduli sebab Ines sudah dewasa untuk menyelesaikan masalah pribadinya, dan setiap orang dewasa selalu tidak ingin di campuri. Namun perkataan Cecilia sedikit menyentil dirinya.
"Ines itu satu satunya keluarga mu, dia bahkan langsung datang kemari saat aku bilang gawat. Kefikir gak apa yang ada di fikiran Ines saat kesini. Mungkin dia mikirin kamu! Aku aja sama Nita khawatir banget sampai hari ini, padahal dia buka saudara aku. Coba bayangin." pungkasnya dengan terus melihat kedua orang yang masih bersitegang di depannya.
"Kamu gak peduli sama orang lain, minimal sama saudara terdekatmu, kalau ada apa apa sama kamu juga yang pasti nolong kamu yang dia." pungkasnya lagi.
Irsan kembali menghela nafas, dengan menatap sang istri dan juga dua orang yang berada tidak jauh darinya.
"Oke! Tapi biar aku saja yang mengurusnya. Aku tidak mau kau melakukan apa apa, kau hanya cukup diam saja. Faham?"
Cecilia mengangguk, lebih baik begitu dari pada tidak melakukan apa apa, terlebih rencana Irsan yang ingin menjodohkan Ines dan juga Tristan tapi tidak mau melibatkan diri. Sama saja kayak kawinin kucing dalam karung, minimal kita tahu jenis kucing apa mereka. Fikir Cecilia.
Sementara Tristan dan Ines masih terus memperdebatkan sesuatu hal yang pernah terjadi di masa lampau.
"Kau yang tidak sabar menunggu!"
"Kau sendiri? Apa kau pernah mengabari aku dan menyuruhku menunggu? Tidak Tristan, kau bahkan tidak mengabariku sama sekali." Ines berdecak berkali kali, "Lagi pula kenapa kita harus bertemu sekarang ini! Menyebalkan." ucapnya lagi.
Irsan akhirnya bangkit dan berjalan ke arah mereka. Lalu menarik tangan Ines dan membawanya duduk.
"Duduk dan bicara baik baik dalam satu meja!" seru Irsan dengan menatap Tristan.
"Bagiku semua sudah berakhir!" sela Ines.
Tristan terkekeh, saat Irsan menariknya juga dan duduk disampingnya.
"Aku tidak mau duduk dengannya!" Ines beringsut dengan pindah disamping Cecilia.
"Kau akan menyesal kalau tidak mau denganku terus!"
"Tristan! Ines ... apa kalian akan begini terus menerus? Aku tidak ada waktu untuk mengurus hal ini, tapi karena Istriku yang memintanya dan aku tidak bisa menolak ke inginannya. Jadi tolong, bersikaplah sesuai usia kalian, kalian bukan anak anak!" seru Irsan dengan suara keras. "Dan ini Rumah sakit, aku sudah tidak profesional jika mengurus masalah yang tidak jelas seperti ini." teriaknya lagi.
Ines dan juga Tristan tampak terdiam, keduanya tertunduk. Hanya Cecilia yang mengulum senyuman saat melihat suaminya bersikap tegas seperti ini.
"Sekarang aku tidak akan bertanya pada kalian berdua tentang masalah yang membuat kalian ribut dan berdebat seperti tadi. Aku hanya akan bertanya bagaimana kalian menyelesaikannya. Mulai dari kau Tristan?" tunjuknya pada Tristan.
Cecilia mengerjapkan kedua matanya, apa yang dilakukan Irsan ini, apa ini sebagian dari menengahi atau membantu masalah yang dihadapi sepupunya. Dia bahkan tidak tahu apa masalah yang mereka hadapi dan ributkan itu.
"Sebagai seorang pria sejati, aku tahu apa yang harus lakukan! Aku fikir ini hanya salah faham saja, jadi aku tidak bisa berbuat apa apa!"
"Heh ... Maksudmu apa?" Tukas Ines. "Jadi aku yang salah? Begitu? Sementara kau tidak?" tukasnya lagi dengan berapi api.
"Ines! Aku ingin kau diam dulu, biarkan Tristan menyelesaikan semua ucapannya."
Irsan terlihat seperti seorang ayah yang bijaksana, yang mengerti dan berada di tengah keduanya. Tidak memihal namun juga tidak peduli masalah yang dihadapi.
"Masalahnya apa sih kak? Rumit ya?" tanyanya pelan, dia sudah di suruh untuk diam dan hanya diam.
"Kau tanyakan saja padanya!" ketus Ines yang juga pelan.
Tristan menggelengkan kepalanya, tidak habis fikir dengan apa yang di fikirkan Ines yang menurutnya tidak lah berubah.
"Tristan?"
"Iya Senior!"
"Katakan apa yang ingin kau lakukan agar kesalah fahaman ini selesai?"
Tristan menggelengkan kepalanya saja, "Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi Senior, apa yang aku harus lakukan?"
"Bodoh! Kenapa gak minta maaf atas kesalahanmu itu?"
"Kenapa aku harus minta maaf padamu, jika yang kau debatkan menurutku tidak penting."
Cecilia menggelengkan kepalanya. "Apa kalian pernah berkencan sebelumnya?"
"Tidak!"
"Tidak!"
Jawaban serempak dari keduanya yang membuat Irsan dan Cecolia saling menatap.
"Kalau tidak, apa yang kalian ributkan ini?" tanya Irsan.
"Jadi begini senior, kami memang pernah dekat saat disskolah, karena kesalah fahaman kita berdua saja, ssmuanya jadi kacau!" terang Tristan.
Ines bangkit dengan penuh emosi, "Jqdi menurutmu, ini semua salahku? Ingat Tris, aku menunggumu dua jam lebih. Dan kau tidak memberi kabar apa pun padaku."
"Astaga ... Ini gak berhasil sama sekali!" Cecilia menggelengkan kepalanya berulang kali.
Irsanpun terlihat menghela nafas, jujur dia sangat kaku apalagi mengurus masalah pribadi orang lain.
"Iya ... Aku tahu itu, tapi aku fikir tidak akan dapat merubahnya ke arah manapun... itu sudah lama Ines."
Irsan berkali kali menghela nafas, menoleh pada Cecilia yang juga terliha bingung.
"Maksud kalian, kalian berkencan sejak lama dan salah faham selama ini?" tanya Cecilia yang menatap Ines ragu ragu.
"Betul istri Senior ... Kami sempat dekat saat kami di sekolah menengah atas." Tristan terkekeh, "Waktu itu Ines menungguku dua jam, dan aku terlambat datang karena mobilku mogok, lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kejadian itu sudah bertahun tahun dan kita lose contack karena Ines pindah sekolah ikut tantenya. Iya kan Ines, aku masih ingat itu."
Irsan meraup wajahnya kasar. "Astaga!"
Sementara Cecilia mengerjap ngerjapkan kedua matanya. "Hah ... Jadi ini masa lalu yang belum selesai?"
"Ya ... Kau tahu Senior, wanita itu pengungkit ulung, dan apa aku harus meladeninya? Itu sebabnya aku sejak tadi hanya bisa menggodanya saja, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah masa lalu yang menurut Ines belum selesai."
Cecilia menoleh pada Ines yang tertunduk.
"Sekarang aku tahu kenapa kak Ines selalu gagal kencan, bukan semata mata karena Irsan saja kan. Tapi Kak Ines pasti masih ngarep sama nih orang kan kak?"
.
.
Wkwkw bikin heboh aja sih othor, kaburrr ahhh