
Kedua mata saling menatap dengan sengit, Cecilia berada di kebimbangan, antara mengatakan apa yang selama ini dia dan Dirga jaga atau tidak.
"Apa kau bisa aku percaya setelah ini?"
"Ya ... Kau wajib percaya."
"Kenapa?"
"Apa aku harus katakan alasannya?"
"Iya, karena bagiku ini bukan hal sepele, ini masalah besar sampai aku tidak ingin orang lain tahu, bahkan polisi sekalipun. Aku dan Dirga sama sama menjaga hal itu, aku tidak bisa percaya pada siapapun. Bahkan Nita saja gak tahu hal ini."
Kecurigaan Irsan benar adanya, Cecilia dan Dirga sama sama menyembunyikan sesuatu. Tertangkapnya Dirga oleh polisi menjadi ketakutan terbesarnya karena takut terkuaknya satu janji yang harus mereka pegang. Entah apa itu yang jelas Cecilia dan Dirga sama sama menjaganya dengan baik.
Keduanya saling membisu di tepi jalan, manatap satu sama lain dengan fikiran yang sama. Kepercayaan. Butuh waktu banyak untuk Irsan memantapkan hatinya sebelum benar benar mengatakannya langsung. Selain itu, dia tidak pandai merangkai kata kata manis. Selalu to the point dan mengarah langsung lada tujuannya, sampai dia benar benar meyakini hatinya.
"Bukan kah tidak alasan yang signifikan untuk mencintai seseorang Cecilia." Ujar Irsan dengan suara serak. "Kau tahu itu, sekalipun kau memakai alasan cinta untuk mendapatkan banyak uang."
Cecilia terhenyak mendengarnya, baru kali ini dia mendengar Irsan mengatakan sesuatu yang menghangatkan hatinya, walaupun kata kaya terakhirnya membuatnya mencelos, dia hanya berdecih.
"Aku. Aku mencintaimu Cecilia, aku ingin menjagamu dengan baik dan lebih baik lagi." ujarnya kemudian.
Sangat jelas dan membuat debaran jantung Cecilia berkali kali lipat.
"Aku sudah mengatakan semuanya, sekarang giliranmu." ujarnya dengan enteng, sementara Cecilia masih sulit bernafas saat jantungnya benar benar berpacu dengan kencang.
"Itu---"
"Aku serius Cecilia, kau tahu aku tidak suka bercanda."
Cecilia menyusut bulir bening yang diam diam turun tanpa dia sengaja, lalu mengangguk kecil.
"Dirga sengaja memakai identitasnya saat ... Saat Se--serly kecelakaan motor bersamanya, Serly meminta Dirga merahasiakannya karena tidak ingin menbuat ayahnya kecewa lebih besar lagi padanya."
Irsan mengernyit, dia tidak paham dengan semua yang di katakan Cecilia. "Serly. Jadi yang memiliki illness itu dia?"
Cecilia mengangguk, "Selama hidupnya dia memang selalu bermasalah, posesif berlebihan, tindakannnya berlebihan, ingin selalu diakui oleh orang lain, bahkan ... Bahkan menganggapku saingan karena bersahabat dengan sahabatnya. Aku tahu hal itu karena dia teman sekolahku. Tapi setelah aku tahu dia punya bipolar. Aku sedikitnya paham, dia selalu dianggap mengecewakan keluarga. Terutama ayahnya, sampai dia bertemu dengan Dirga yang mengerti keadaannya. Dirga sering menemaninya saat berkonsultasi pada psikolog, dia tahu semuanya. Sam---sampai saat kejadian ..." Cecilia menghela nafasnya berat, menyusut air mata yang kian turun.
"Sebelum kecelakaan terjadi itu Dirga lagi sama aku, dia ditelepon Serly yang ngamuk. Ternyata Serly ngikutin Dirga sampai ke apartemenku yang dulu. Dan akhirnya dia tahu kalau Dirga dan aku punya hubungan. Dia mengancam bunuh diri."
Irsan menyerahkan sapu tangan padanya tanpa mengatakan apa apa, dia hanya mendengar semua yang dikatakan Cecilia dengan seksama.
"Dirga lalu pergi menyusulnya, sampai mereka bertengkar di motor dan mengalami kejadian itu. Serly terluka parah, dan saat di rumah sakit ... Dia, dia bilang tidak ingin membuat ayahnya kembali kecewa karena memiliki anak yang tidak bisa dibanggakannya, bahkan memiliki mental yang terganggu. Dia pernah sekali membuat reputasi ayahnya tercemar, dan dia tidak ingin terjadi untuk kedua kalinya."
"Jadi sampai sekarang keluarganya tidak tahu kalau dia bermasalah?"
Cecilia menggelengkan kepalanya sambil menyusut air mata, "Ayahnya menyalahkannya bahkan saat dia terbaring dengan penuh luka dirumah sakit, katanya anak yang gak pernah membanggakan. Ayahnya juga menyalahkan Dirga, bahkan ingin memenjarakannya, tapi Serly melarangnya saat itu. Dan Dirga sampai memohon pada psikolog yang menangani Serly agar mengubah semua identitas Serly menjadi identitasnya. Walaupun awalnya menolak. Tapi akhirnya psikolog itu mau, hal itu juga yang membuatnya tidak jadi dipenjarakan. Aku fikir itu akan selesai sampai di situ, ternyata tidak, Dirga dilarang menemui Serly lagi. Karena takut Dirga akan lebih memperngaruhi Serly dengan penyakit itu, padahal Serly lah yang bermasalah, dan itu yang membuat Serly mengalami kesulitan sendiri. Tanpa obat, tanpa dukungan sementara hanya Dirga yang tahu penyakitnya. Sampai kondisinya drop banget dan dia meninggal."
Cecilia menangis tersedu, "Dia ngobrol banyak pas dihari itu sama aku, dan malemnya Serly meninggal."
'Ce gue minta maaf karena gue banyak salah sama lo, Nita, terutama sama Nia. Tapi gue mohon jangan kasih tahu mereka apa apa tentang gue, kasian ya gue. Tapi gue gak mau mereka lebih kasian saat tahu kondisi gue kayak gitu pas gue gak ada. Gue mau gue dikenal jadi Serly yang biasanya, yang selalu iri lihat lo dan temen temen lo. Jujur gue kesepian Ce, cuma Dirga yang mau nerima gue apa adanya sampe lo datang dan bisa bikin dia lebih happy, dia mungkin bosen nemenin gue dengan gue yang begini. Jadi lo juga gak perlu minta maaf karena selama ini lo ada maen sama Dirga dibelakang gue, gue gak akan marah. Gue udah cape Ce hidup kayak gini. Bener bener cape. Gue cuma pengen papa bangga sama gue, dan nyatanya gue ngecewaian dia lagi kalo tahu.'
'Tapi Serl ... Lo harus ngomong sama keluarga lo. Lo gak bisa sendiri.'
'Enggak Ce ... sekali aja lo bantu gue ya. Cuma lo sama Dirga yang tahu keadaan gue yang sebenarnya, gue ... gue gak mau mereka tahu,'
'Lo gak kasian apa sama nyokap bokap lo? Mereka bakal sedih kalau tahu, terus juga Nia.'
'Ya ... gue udah gak punya malu kalau maksain dateng ke singapura dan lihat dia waktu itu, dan kondisi gue lagi parah banget, gue pengen banget maki maki dia dan lakinya, karena ternyata dugaan gue bener kan kalo mereka udah nikah, gara gara itu gue dikasih dosis lebih gede lagi. Lo boleh tanya sama Dirga, dia yang nemenin gue waktu itu.'
' Jadi itu alesan lo gak dateng?'
'Ya ... Dan gue udah curiga sama lo pas pembukaan MABA,'
'Itu karena si Dirga aja yang ganjen Serl.'
Cecilia semakin tersedu sedan saat mengingat percakapan terakhirnya dengan Serly, mengingat senyumannya dan ternyata senyum pertama juga terakhir baginya karena hubungan mereka selalu tidak baik.
Irsan menarik tubuhnya kedalam pelukannya, isak tangis yang baru dia lihat dari seorang gadis dengan tingkah polah dan kegilaannya.
"Ssttt ... ternyata kau bisa menangis seperti ini juga!"