
Namun Nita tidak sedikitpun mengubris sahabatnya itu, dia memiliki rencana spektakuler untuknya dan pasti akan dia katakan keesokan pagi karena takut jika Cecilia berubah pikiran dan menolak semua rencananya.
Cecilia mendengus kesal, melempar bantal guling ke arahnya lalu keluar dari kamar. Sedangkan Nita mengulum senyuman dan mengotak atik ponselnya. Setelah selesai, dia meletakkan ponsel di atas nakas lalu menarik selimut dan tertidur.
"Sialan si Nita! Udah bikin gue kayak gini masih belum juga bilang apa rencana nya, gue kan penasaran." ucapnya dengan mematung menatap wajah serta rambut hitamnya yang tergerai. "Mana gue jadi gak pede lagi rambut begini! Ahhhk. Emang anjim tuh si Nita."
Keesokan pagi
Cecilia bangun terlebih dulu, dia terlihat sudah tidak sabar dengan rencana Nita yang terus di tunda tunda untuk dikatakannya.
"Nit! Woi bangun! Elah, lo molor aja. Cepetan." Cecilia menarik narik tangan sahabatnya itu, dia bahkan menendang nendang kaki Nita agar terbangun.
Gadis manis itu membuka matanya sipit, berdecak karena wajah Cecilia yang berada didepannya.
"Apaan sih lo! Gue masih ngantuk!" ucapnya dengan kembali menarik selimut lalu menutupi wajahnya.
"Lo jangan bercanda! Gue dari kemaren udah sabar nungguin lo. Lo malah main main. Serius anjim." ujarnya kesal.
Nita terkekeh dibawah selimut, dia membukanya kembali lalu menatap sahabatnya. Tak lama dia bangkit dan terduduk, "Awas ya kalau lo nyesel sama rencana gue ini."
"Enggak ayo buruan."
Keduanya telah siap, dengan Cecilia yang memakai setelan feminim yang sopan, tidak seperti dirinya yang sering menggunakan pakaian terbuka dan kekurangan bahan seperti biasanya. Riasan wajahnya tampak sederhana, hanya memakai olesan di bibirnya serta bedak tabur alakadarnya, namun menjadikannya cantik natural.
"Ini gue mau ngapaian sih! Wawancara apa mau foto buat ID Card. Gerah banget Nit."
"Udah deh! Lo tinggal nurut sama gue." ujarnya sedikit merapikan rambut Cecilia. "Cantik juga lo kalau begini, dah gak bakalan keliatan kalau lo cewe gak bener."
Cecilia menarik rambut Nita dengan kencang, membuatnya meringis namun juga tertawa, "Sialan congor lo!"
"Udah yuk, cabut! Nanti kita telat."
Cecilia menarik kerah belakang baju Nita, hingga sahabatnya itu kembali mundur, "Eeh nyet! Lo belum bilang rencana lo apaan. Gue gak mau pergi ya kalau lo gak bilang sekarang.
"Ya udah ... gue pergi sendiri aja kalau gitu!" Nita kembali mengayunkan langkahnya, tanpa memberikan bocoran sedikitpun tentang rencana spektakuler menurutnya itu.
Cecilia menghela nafas, hanya bisa menurut walau terpaksa. Keduanya keluar dari unitnya, masuk ke dalam lift yang kebetulan terbuka.
Nita mengulum senyuman, senang rasanya membuat Cecilia mengikuti arahannya walau bibirnya terus mencebik kesal.
"Pokoknya lo harus inget, nanti kalau kita udah nyampe, lo gak bisa bicara sembarangan, lo harus hati hati dan juga sopan."
"Apaan! Emangnya gue selama ini gak sopan, bicara hati hati. Gue bicara apa yang mau gue bicaraain. Gimana sih lo."
"Terserah! Gue bilang lo jangan nyesel, kita bakal ngelamar kerja. Eeh lebih tepatnya lo yang bakal ngelamar kerja, gue cuma nganterin lo." ujar Nita yang langsung mengedarkan pandangannya ke arah lobby saat pintu lift terbuka.
Seorang pria yang duduk di sofa lobby melambaikan tangan ke arahnya, begitu juga dengan Nita yang melambai dan berjalan ke arahnya, sedangkan Cecilia hanya bisa mengikutinya di belakang dengan banyak pertanyaan dibenaknya.
"Gimana beres?"
"Beres dong! Gampang kalau ini." ujar pria itu dengan menyerahkan sebuah map berwarna.
"Apaan?"
"Tiga ratus!"
Cecilia mendengus, mengambil uangnya di dalam dompet dan menyerahkannya pada Nita. Gadis itu menyerahkannya lagi pada Pria yang masih betah duduk. "Udah ya ... hubungi gue lagi kalau butuh bantuan."
"Beres!"
Nita menyerahkan map berwarna merah itu kepada Cecilia yang makin mengernyit tidak mengerti.
"Bawa ih! Bengong aja, kesambet lo."
"Sumpah gue gak ngerti apa yang lo rencanain."
Keduanya keluar lebih dulu setelah berpamitan pada pria yang masih duduk itu, dengan map yang kini dibawa oleh Cecilia.
Dia membukanya dengan tidak sabar dan terbeliak saat melihatnya.
"Apaan nih! Kapan gue nyuruh lo bikin CV ini."
Nita tertawa, membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya, Cecilia seperti orang yang linglung melihat semua persyaratan yang biasa dilakukan orang orang saat melamar pekerjaan.
"Sialan si Nita!" gumamnya masuk kedalam mobil.
"Lo nyuruh gue ngelamar kerja! Dimana? Sejak kapan? Ini rencana lo buat gue? Terus hubungannya sama Irsan apa!" selorohnya dengan menimpuk kepala Nita dengan map lamaran kerja itu.
Nita tertawa terbahak melihat Cecilia yang emosi, namun dia tidak menjawab semua berondongan pertanyaan yang di ajukan Cecilia dengan kesal padanya itu. Dia justru melakukan mobil miliknya dan keluar dari basement.
"Nit! Sumpah ... Lo freak banget anjim. Nyesel gue minta bantuan lo! Lo malah nyuruh gue ngelamar kerja."
"Eit ... Lo udah bilang lo gak bakal nyesel! Gue udah tanya lo dari kemaren."
"Iya tapi kan gue belum tahu rencana lo apa kemaren, gue butuh bantuan lo buat deketin Irsan, bukan ngelamar kerjaan apaan, gak guna. Gue masih punya tambang emas gue ngapain gue cape cape kerja."
"Lo masih gak ngerti juga! Lo bener bener bego apa ya kalau urusan dokter lo itu. Apa gimana sih!" ujar Nita tanpa mengalihkan pandangannya, dia tetap fokus menyertir walau Cecilia terus mendumel padanya.
"Iya gue emang bego! Gue gak ngerti rencana lo."
Nita menepikan mobilnya, lalu menolehkan kepala ke arah sahabatnya itu. "Lo bakal ngelamar kerja di coffe shop milik jodoh lo itu, rubah image diri lo yang geragasan dan bikin dia jatuh cinta sama lo. Ngerti lo. Dan ingat, lo gak usah goda goda dia walaupun lo gak tahan pengen nyosor." terangnya dengan wajah serius. "Apa lo gak mau? Kalau lo gak mau kita bisa balik lagi ke salon, dan rubah lagi penampilan lo."
Cecilia terdiam, dengan kedua mata yang mengerjap ngerjap. Berfikir dan mencerna semua ucapan Nita.
"Gimana? Kalau lo gak mau, gue bisa puter balik! Mungpung belum jauh."
.
.