
Cecilia terbangun di keesokan hari, kepalanya masih terasa berat namun tidurnya sangat nyenyak. Dia mengerjapkan kedua matanya berulang kali saat melihat suasana asing dan kamar yang juga asing baginya.
"Gue dimana?" gumamnya, dia juga melihat pakaiannya kini sudah berganti, "Kapan gue ganti baju? Apa Irsan yang ganti baju gue. Atau kita abis ngelakuin it---, tapi kayaknya enggak deh. Celana gue gak basah juga." selorohnya lagi dengan menyentuh area penting miliknya.
"Neng sudah bangun?" Pelayan rumah Irsan masuk dengan membawa nampan, semangkuk sup dan sepiring nasi yang masih mengepulkan asap.
Wangi harumnya menyeruak, membuat keroncongan perut saja. Gadis dengan rambut acak acakan itu terus menatap nampan yang kini di simpan di atas meja.
"Maaf! Aku dimana ya?"
"Neng gak ingat semalam neng di bawa kemari sama Mas Irsan. Ini rumah Mas Irsan Neng."
"Ma---mas Irsan. Maksudnya dokter Irsan?"
Wanita paruh baya itu mengangguk, "Iya neng, ayo atuh di makan dulu ... Bibi gak tahu masakan apa yang neng suka, tapi sebelum pergi ke rumah sakit, mas Irsan sudah pesan kalau Non harus makan sayur."
"Hah?" Cecilia yang hendak mengambil nampan kembali menoleh ke arah pelayan yang dia tidak tahu namanya itu. "Dia pergi. Laah terus aku ditinggal sendiri di sini gitu?"
"Iya ... Tadi mas Irsan di telepon. Katanya penting, tapi Neng tenang aja ... Pulang dari rumah sakit, Mas Irsan akan pulang ke sini."
Cecilia sebenarnya tidak juga begitu peduli, toh jika dia ingin pulang, dia bisa pulang sendiri. Yang penting saat ini adalah mengisi perutnya terlebih dahulu. Tanpa malu malu dia pun mengambil nampan, dan langsung melahapnya. Bibi pelayan rumah tersenyum melihat gadis yang tidak sungkan saat perutnya terasa lapar.
"Enak Neng?"
"Enak bu. Makasih ya."
Tanpa terasa sepiring nasi dan sup tandas tanpa sisa. Rasanya, sudah lama sekali dia tidak makan masakan rumah seperti itu.
"Oh ya ... Yang ganti baju ku juga dia?"
"Ya bukan Neng, mana berani Mas Irsan begitu sama seorang wanita."
"Huh payah!" gumam Cecilia yang kini turun dari ranjang, "Ini beneran rumahnya Bu?"
"Lah iya Neng ... Buat apa bibi bohong, tapi semenjak tidak jadi menikah, Mas Irsan gak pernah kesini. Cuma bibi aja dan kadang dia kesini hanya mampir lalu pergi lagi."
"Jadi ini rumah...?" kedua mata Cecilia terbeliak.
Bibi pelayan mengangguk, padahal Cecilia saja tidak meneruskan ucapannya, "Tadinya mereka akan tinggal di sini Neng, tapi tidak jadi karena Non Alisa...."
"Aku tahu Bu." sela Cecilia dengan anggukan kepalanya, dia juga membuka jendela kamar dan menghirup udara yang masih terasa segar, "Udah kebayang kalau dia pergi cuma gara gara tuh orang kebanyakan diem. Secara dia kan tiang listrik. Fasif."
"Mas Irsan terlalu sibuk di rumah sakit, bahkan kadang lupa waktu Neng." tukas Bibi pelayan yang berdiri tepat di belakangnya.
"Eeh ... Bikin kaget nih si ibu."
"Panggil Bibi saja Neng, Bi Ira ... jangan ibu. Nanti kalau nyonya besar kesini. Bisa bisa ketuker." bibi pelayan terkekeh lalu mengambil nampan dari atas meja. "Bibi tinggal ya Neng, kalau butuh sesuatu panggil saja Bibi."
"Makasih ya Bi." ucap Cecilia dengan senyum sumringah, seumur hidupnya baru kali ini dia dilayani seseorang yang terlihat begitu tulus.
Setelah beberapa saat puas menatap pemandangan dengan hamparan hijau yang menyejukkan mata, gadis itu masuk ke dalam kamar mandi, melihat lihat seisi kamar dan tertarik pada saat melihat lemari pakaian yang penuh dengan pakaian wanita. Pakaian yang mungkin katalog lama, namun model dan warna nya juga tidak lah jelek.
"Wah ... Apa ini pakaian baru semua? Bahkan masih tag nya juga semua." gumamnya dengan mengeluarkan satu persatu pakaian lalu menempelkannya di tubuhnya sendiri. "Ini kayaknya baju buat calon istrinya yang kabur ... Kenapa gak dia buang aja atau jual lagi. Dasar gak bisa move on!" ujarnya dengan kembali memasukkannya ke dalam lemari dengan asal "Jangan jangan baju yang gue pakai juga baju dia nih!" Cecilia terus bermonolog, sedikit kesal juga memang saat menduga jika pakaian yang dia pakai itu milik seseorang, ya walaupun masih baru. "Dih ogah banget!" Menutup pintu lemari dengan sedikit kasar.
Setelah itu dia memilih keluar dari kamar, dia tersentak kaget saat melihat rumah yang cukup luas. Ada 3 pintu yang persis seperti pintu kamar yang dia tempati, juga ada balkon luar langsung menghadap ke timur, dimana pegunungan hijau terlihat lebih jelas. Tangga menuju ke bawah dengan ruang tamu dan ruang tivi.
"Siapa yang kau bicarakan?"
Cecilia yang hendak melangkah menuruni tangga tersentak kaget dan hampir terpeleset. Beruntung, Irsan yang berada di belakangnya memegangi pundaknya.
"Itulah akibatnya jika kau membicarakan keburukan orang dibelakang."
"Heh!!" Cecilia masih mengatur ritme jantungnya hlyang hampir saja copot, tidak terbayang olehnya jatuh dari tangga dan berguling guling. "Bukannya ke rumah sakit?"
"Baru tiba! Kenapa. Kau merindukan aku?" tanyanya datar sambil mengayunkan kakinya turun, memegangi Cecilia yamg juga ikut turun.
"Dih udah mulai pede!" dengusnya, tiba tiba saja dia menjadi kesal saat ingat rumah dan juga pakaian yang dipakainya milik wanita lain.
"Kenapa sih bawa aku ke sini. Mau pamer? Atau mau sombong kalau situ gak bisa move on." cibirnya dengan melepaskan diri dari Irsan.
"Siapa yang bilang?"
"Adalah! Jadi benarkan? Emang sesusah itu ya move on dari si tante."
"Apa yang kau bicarakan?" Irsan menarik kursi di meja makan, membuka laptop miliknya lalu menyalakannya.
Sementara Cecilia berdiri disampingnya dengan kedua tangan melipat di dada. Kedua matanya memicing menatap layar laptop yang kini menyala.
"Gak usah pura pura! Magsud situ ngajak aku kesini apa?"
"Situ. Siapa situ?" Irsan bahkan tidak menoleh sama sekali, tatapannya hanya pada layar laptop yang kini menampilkan banyak sekali tulisan yang entah itu apa.
Cecilia mencongdongkan sedikit kepalanya agar lebih jelas lagi melihat tulisan dilayar laptop.
"Kamu gak niat kasih ini rumah dan baju selemari penuh itu buat aku kan? Aku gak mau ya ... Fixs no debat!"
"Memangnya siapa yang akan memberikannya padamu?" ujar Irsan menohok.
"Ya itu apa? Surat kuasa kan...! Kau juga bilang akan berikan semua yang aku butuhkan kan!" tunjuknya dengan ketus pada layar laptop yang menampilkan email terkait surat kuasa yang dikirimkan seseorang.
"Kau ini ...! Aku memang bilang begitu, tapi aku tidak berniat memberikan rumah ini dan isinya padamu. Jadi tidak usah terlalu percaya diri!"
Cecilia menyibakkan rambutnya kebelakang, lalu melengos pergi,
"Sorry ... Aku gak mau!"
"Ya memangnya siapa yang akan memberikannya padamu?"
Cecilia kembali menoleh, dia masih belum puas jika belum mendebat semua ucapan Irsan yang terlampau datar, yang alih alih merayu nya atau menjanjikan hal hal menyenangkan justru malah membuat mood yang sudah jelek bertambah.
"Ya terus?"
.
.
Belibet sih bang ... tinggal bilang aja susah minta amoun! Si Cece mah di kasih rumah siput aja udah seneng kok. Wkwkwkwk