
"Anjim jangan jangan dia nekad ke rumah Reno!"
Sila terus menekan tombol lift agar lift terbuka, namun lift itu tidak kunjung terbuka. Cecilia yang tiba di lantai dasar keluar dari lift dengan berjalan sempoyongan, membuat heran orang orang yang melihatnya di sana.
Seorang security menghampirinya dan bertanya apa dia butuh bantuan.
"Gak pak! Aku bisa handle semua masalah. Terima kasih yaa!" jawabnya dengan membungkukkan tubuhnya dengan kaki kiri yang dia silang ke belakang. Seolah dia tengah berada di atas panggung. Lantas dia menuju mobil miliknya dan masuk ke dalam sambil terus mengumpat pada Reno dan juga Irsan yang dia bawa bawa. "Kenapa cuma security yang baik padaku." gumamnya menutup pintu mobil.
Dia memasukkan kunci, namun tidak juga masuk, saking parahnya dia mabuk. "Iihhh sialan ... Mana ini lubang kunci" racaunya semakin parah, bahkan memasukkan kunci saja tidak bisa.
Sila yang keluar dari lift berlari mencari keberadaan orang yang telah menjerumuskannya tapi juga menolongnya. Dia mencari ke sana ke mari dan akhirnya menemukannya.
"Kak ... Buka pintu nya! Lo mabok kak."
"Hah?" Teriak Cecilia dari dalam mobil. "Gue gak mabok ... Enak aja."
Kunci mobil sudah masuk, dia menyalakan mesin mobil dan siap melaju. Sila berlari ke depan dengan merentangkan tangan. "Heh bocah sialan, minggir! Lo mau ketabrak?"
"Enggak kak ... Lo jangan gila, mending lo keluar. Kita balik ke atas! Lo jangan nekad,"
Deru kendaraan terus terdengar namun Cecilia tidak juga melaju. Begitu juga Sila yang tidak merubah posisinya, dia tetap berdiri dengan tangan yang dia rentangkan. Saling menatap satu sama lain sekian lama dan akhirnya Cecilia yang hanya menatap Sila dengan kedua alis berkerut lalu menghembuskan nafas. "Kalau liat dia kayak gitu, gue jadi lihat gue dulu."
Tak lama dua orang security datang menghampiri mereka, satu diantaranya mengetuk pintu kaca mobil. Sementara yangvsatunya menghampiri Sila.
"Ada apa Non. Apa terjadi sesuatu?"
Sila mengangguk, dengan terus menatap Cecilia, takut jika gadis itu menginjak pedal gas tiba tiba, bisa bisa dia terlindas atau terpental jauh.
"Dia mabok pak! Kita harus keluarkan dia dari mobil. Pintu mobilnya dia kunci. Aku gak bisa masuk, dia sudah gila."
Security itu berbicara pada talky walky, sepertinya dia meminta bantuan pada rekannya, sementara satu security masih terus mencoba mengetuk kaca mobil.
"Nona ... Buka pintunya, matikan kendaraan anda. Berkendara saat mabuk akan membahayakan jiwa anda."
"Jiwa apanya? Gue gak mabok!"
"Nona ...."
"Nona buka!"
"Apa kita pecahkan aja kaca nya pak!" seru Sila yang semakin lama semakin cemas, karena Cecilia tidak juga mematikan kendaraannya, juga tidak melaju. Dia hanya terkekeh dan terus meracau yang lama lama juga seperti orang yang akan tidur.
Cecilia akhirnya tak sadarkan diri, dengan kepala yang terkulai di setir kemudi dan menekan klakson hingga berbunyi nyaring. Klakson itu berbunyi tanpa henti, membuat ketiga orang yang berada di luar mobil semakin panik. Orang orang yang baru saja memarkirkan kendaraan mereka pun mulai berkumpul dan melihatnya.
"Kak ... Kak!! Buka kak!" Sila terus berteriak dengan menggedor kaca mobil, berharap Cecilia bangun dan keluar dari sana.
Begitu juga dengan dua orang security yang mengetuk ngetuk kaca mobil. Sila mencari sesuatu yang bisa dia gunakan untuk memecahkan kaca mobil namun tidak menemukannya.
"Heh ... Kalian dari pada cuma nonton, bisa kan bantu cari sesuatu yang bisa nolong dia. Jangan berdiri kayak orang bego." Teriak Sila yang semakin panik. "Ini juga! Malah rekam. Bego." ujarnya lagi merebut ponsel seseorang lalu mematikannya.
Keberanian Sila sama persis seperti Cecilia, orang orang yang kerap diterpa kesulitan di usia belia. Pribadi yang kuat terbangun karena keadaan yang memaksa mereka tumbuh dengan keras.
Sampai Sila menemukan sebuah ganjal yang sering di gunakan untuk mengganjal ban mobil, dia mengambilnya dan berlari kembali ke arah mobil.
Prang!
Sebelum Sila sempat memecahkan mobil, seseorang telah lebih dulu memecahkannya dengan tangan kosong, lalu dia memasukan tangan dan membuka pintu disebelahnya. lalu berputar kembali ke arah pintu kemudi. Membuka pintu yang sudah tidak terkunci itu. Mematikan mesin kendaraan dan juga mencabut kuncinya. Klakson telah berhenti berbunyi, Sila melempar ganjal ban begitu saja dan berlari menghampiri Cecilia yang sudah keluar dengan digendong pria yang memecahkan kaca.
"Kak ... Lo gak apa apa?"
"Lantai lima pak ... Ayo bawa dia!"
"Aku tahu!" ujarnya membawa tubuh Cecilia menuju kearah lift. "Kenapa dia bisa begini?" tanyanya lagi.
"Dia mabok pak!"
"Aku tahu!" jawabnya lagi, bagaimana dia tidak tahu, aroma alkohol menyeruak di seluruh tubuh Cecilia.
Mereka masuk ke dalam lift, Sila menekan tombol nomor lima. Keduanya saling menoleh satu sama lain.
"Kau kenal dia?"
"Ya ... Dia udah aku anggap kakak sendiri! Dia udah nolongin aku dan keluargaku. Tapi sekarang dia punya masalah yang berat." sahut Sila,
"Masalah. Masalah apa?"
"Maaf ... Tapi aku gak bisa bilang,"
Pria itu mendengus, dengan rahang tegas dan menatapnya tajam. "Katakan padaku?"
Ting
Pintu lift terbuka, keduanya keluar dari lift dan berjalan ke arah unit Cecilia. Sila masih heran kenapa pria itu tahu di mana unit Cecilia bahkan dia juga tahu kode password miliknya.
"Pak ... Bapak siapa?"
"Bapak?" dengusnya saat masuk ke dalam, berjalan menuju kamar dan membaringkan Cecilia di atas ranjang.
Sila semakin heran, bagaimana ada orang yang tahu seluk beluk ruangan di unit apartemen, walaupun hampir semua memiliki ruangan yang sama persis disana, tapi ini sangat mencurigakan baginya.
"Pak? Jawab ... Bapak siapa? Bapak pernah masuk kesini. Bapak kenal sama dia?" Selorohnya dengan banyak pertanyaan.
"Jangan banyak tanya! Ambilkan baju ganti dan pakaikan padanya."
Cecilia menggeliat diatas ranjang, merubah posisi nya hingga bathrobe yang masih dikenakannya tersingkap dan memperlihatkan paha putih mulus miliknya. Sila menyambar selimut dan menutupinya dengan cepat.
"Aku sudah pernah melihatnya! Cepat kau pakaikan dia baju!" ujarnya lalu bergegas keluar.
Sila yang tidak tahu siapa orang tadi hanya mengerjap, lalu dia turun dari ranjang dan mencari pakaian yang bisa di kenakan Cecilia.
"Orang mabok nyusahin!" gumamnya.
Setelah memakaikan pakaian Cecilia dia keluar dari kamar dan melihat pria yang sama tengah duduk, dia mengobati luka di tangannya karena memecahkan kaca mobil.
"Duduk!" titahnya dengan datar.
Sila menurut dengan duduk di hadapannya, menatap kepalan tangannya yang masih berdarah darah, membuatnya ngilu, namun pria itu datar saja dengan mengoleskan obat luka, menggulungnya dengan perban. What ... bapak bapak ini bahkan tahu dimana Kak Cecil nyimpen kotak obat? Makin curiga gue.
"Ceritakan semua masalahnya padaku!"
.
...Dah lah bapak bapak itu udah pasti kang tiang listrik. Wkwkwk Ati ati Sila ... ...
...Kalau lancar othor bakal up satu lagi, semoga gak kena review yaa. ...