I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.65( ngumpet)



Cecilia masuk kedalam kamar dengan terus tertawa, mengingat wajah Irsan saat dia meninggalkannya, melempar tas dan sepatunya sembarangan lalu masuk kedalam kamar mandi.


"Kenapa lama lama hubungan gue jadi aneh begini ya sama Irsan, sebenernya gue suka beneran apa enggak ini." Ujarnya membasahi seluruh tubuhnya dengan air dari shower. "Gue aja bingung gini! Pake di tanya dia bagi gue apaan? Masa gue bilang jodoh. Kalau gue bilang jodoh yang ada dia kegeeran sama gue, mana gue juga belum bisa lepasin Reno gitu aja." Gumamnya lagi dengan bahu yang mengerdik.


Tak lama dia keluar dari kamar dan hanya mengenakan bathrobe dan langsung melompat ke atas ranjang miliknya, mengambil ponsel lalu berselancar didalam sana.


"Yes transferan tepat waktu, ini beres. Ini juga." ucapnya saat menggeser semua tagihan apartemen yang sudah dibayar oleh Reno, begitupun dengan uang jajannya yang masuk lancar bulan ini. "Ah ... Senangnya! Gak apa apa deh, gak ketemu setahu dua tahun juga asal gini aja lancar."


Lalu menatap kalender kecil disamping nakas.


"Masih ada sebulan sebelum gue ketemu Reno. Jadi sebulan itu khusus gue pake buat Irsan aja kali ya." gumamnya terkekeh, dengan tangan terus menggulir layar ponsel.


"Nih lagi apaan si Nita. Banyak banget kasih tugas yang mesti gue kerjain sebelum akhir sementer. Huft!" keluhnya dengan melemparkan ponsel ke samping. "Bodo amat lah! Gimana nanti,"


Dia memilih mengambil wine dan meminumnya sebelum tidur yang menjadi kebiasaanya selama ini, atau dia tidak akan bisa tidur jika tidak minum terlebih dulu.


Setelah meminum 3 gelas sloki wine merah. Gadis itu menuangkannya pada sebuah botol kecil yang bisa dia bawa kemana saja. Termasuk ke kampus. Juga sebungkus rokok yang juga selalu menemaninya selama ini.


Obat obatan memang sempat dia komsumsi, namun dia bisa berhenti dengan berusaha menghindarinya. Namun untuk minuman alkohol dan juga lintingan tembakau yang tidak bisa dia lepaskan begitu saja. Atau dia akan hidup dalam keresahan terus menerus.


Sesudah itu, barulah dia bisa memejamkan kedua matanya dan siap memasuki mimpi mimpinya.


***


Keesokan paginya, Cecilia bangun lebih awal dari biasanya, setelah melakukan sedikit olahraga kardio. Dia bersiap siap untuk pergi ke kampus. Kali ini tekadnya sudah bulat, dia tidak ingin bolos kelas apapun hari ini.


Setelah menyantap roti dia keluar dari unitnya, berjalan melewati lorong menuju lift. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu lift terbuka. Dia masuk dengan pandangan menyapu seluruh kotak yang memiliki kapasitan sekitar 15 orang itu namun tidak menemukan pria yang ingin dia lihat. Gadis itu menghela nafas, merasa ada yang kurang karena tidak melihat Irsan, terlebih saat ini.


"Kau mencariku?" ujar seorang pria yang berada di sampingnya, dia sejak tadi sudah ada dan melihatnya , Cecilia mendongkakkan kepalanya pada Irsan. "Ti--enggak! Kenapa aku harus mencarimu. Kalau aku mau aku bisa ke---"


Cecilia membuang wajahnya ke arah lain namun juga terlihat bibirnya terangkat tipis.


Ting


Lift terbuka, semua orang termasuk mereka keluar dari lift, berhamburan dengan tujuannya masing masing, Irsan memperlambat langkahnya agar bisa menyamai langkah Cecilia yang tertinggal dua langkah di belakang.


"Selamat pagi dokter Irsan?"


Langah Cecilia terhenti saat dia melihat seorang polisi yang menyapa Irsan tepat di depan matanya sendiri. Kedua manik hitamnya membola lalu menggeser tubuhnya dan bersembunyi di balik pot besar dengan daun besar besar pula.


"Ah iya ... Kau kemari untuk kasusnya Dirga?"


"Betul ... Kami harus meminta keterangan dari semua saksi." ujarnya dengan menunjukan surat penyidik.


Cecilia tentu saja kaget sampai merasa ingin pingsan saat itu juga, namun jangankan pingsan. Dia hanya menemplok di belakang tembok.


"Banyak?"


"Tidak. Hanya beberapa orang yang akan aku mintai keterangan, salah satunya adalah seorang gadis yang dimana setahun kebelakang mereka tinggal bersama."


"Benarkah? Ini---di...."


Irsan tersentak kaget dan keduanya saling penatap.


"Mana anak itu!"