I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.115(Karena Enak)



"Tunggu. Aku ...."


"Kenapa?" Irsan mengerutkan dahi menatap gadis yang masih memakai bathrobe serta handuk yang menggulung rambutnya.


"Apa rumor itu gak ganggu kamu? Maksud aku, apa kau gak keberatan. Kak Ines aja udah denger dari orang lain, dan sepertinya kak Ines bakal keberatan kalau sepupunya malah berhubungan sama aku."


Dahi yang mengkerut itu tiba tiba jadi mengernyit, namun tatapannya tidak juga beralih dari menatap Cecilia. "Apa kepercayaan dirimu sekarang jadi hilang Cecilia?"


"Enggak sih! Maksudnya aku sedikit khawatir aja, kau kan seorang dokter. Apa itu gak masalah?"


"Kenapa baru memikirkannya sekarang. Hm?"


"Gi--gimana nanti kalau ada orang yang ngomong langsung sama kamu, atau ada yang kenal kamu dan bilang aku begini begitu?"


"Begini begitu?"


"Ya ... Kau tahu lah gak usah di perjelas lagi." dengusnya kasar.


"Apa harus aku jawab saat ada orang yang bertanya begitu nanti?"


Cecilia menghela nafas berat, "Aku sih gak masalah karena itu memang kenyataan, aku bukan gadis baik baik juga, dan rumor itu sudah pasti benar. Eeh malah aku di sini sekarang. Kalau kau kan beda, Beda sama aku ... Kan!"


"Kalau begitu aku tidak akan menjawab jika ada orang yang bertanya tentangmu atau bahkan membicarakanmu padaku."


"Tapi!"


"Apalagi Cecilia?"


Dengan wajah cemas Cecilia menatapnya, dia ingin bertanya tapi tampak keraguan yang begitu jelas. Dia merasa lama lama tidak nyaman, takut jika kehadirannya di unit Irsan akan membuat pria itu juga mendapatkan intimidasi dari orang lain.


"Apa?" tanya Irsan dengan lembut.


"Kalau misal ada orang yang bilang dia pernah tidur sama aku dan dia ternyata kenal atau bahkan temanmu?"


"Apa itu juga harus aku jawab?"


Cecilia mengangguk, dengan tangan mengerat di tali bathrobe yang melingkar di pinggangnya. "Ya kamu pasti gak akan nyaman kan."


"Aku akan bilang." terlihat Irsan tengah berfikir dengan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya. "Mungkin aku akan bilang kalau kau sangat enak makanya aku mau dengan mu." ujarnya lalu terkekeh kecil.


Cecilia terbeliak dengan jawaban di luar nalarnya itu, mungkinkah Irsan akan menjawabnya seperti itu. Benar benar jawaban konyol bukan.


"Kau yakin akan jawab kayak gitu?" Ujar Cecilia tak percaya, namun dia juga menggigit bibirnya tipis, menatap pria itu dengan lekat. Sedikit berharap Irsan menariknya dan mencumbuunya, atau mendorongnya hingga terjerembab di atas ranjang dan melakukan hal yang menyenangkan, terlebih dia hanya memakai bathrobe yang hanya sekali tarik saja akan terbuka.


"Tentu saja tidak! Sudah. Pakai bajumu ... Kita kehabisan waktu hanya karena obrolan ini!" Ujarnya melengos begitu saja.


Cecilia berdecak, lalu menutup pintu kamar dengan keras. Dugaannya benar. Sepertinya itu hanya angan belaka, sangat mustahil jika Irsan melakukannya. Dasar otaknya saja yang mesum.


"Jangankan di cumbuu ... Ciuum aja enggak! Dasar tiang listrik, mana bercandanya gak pernah lucu pula, gue udah kaget sama jawabannya." gumamnya dengan memakai pakaian yang telah di siapkan oleh Ines. Dress sebatas betis dengan motif floral, juga terdapat belahan hingga batas paha, juga bentuknya yang sangat pas di tubuhnya.


"Bodo amat deh ... Itu memang kenyataan, dan tidak akan bisa merubah masa lalu, karena masa lalu itu bagian dari hidup gue, entah ke depannya gue jadi apa kan. Gue juga gak tahu. Yang pasti sekarang gue berharap masih ada pria yang mau nerima gue apa adanya! Dan kalau pria itu Irsan, gue udah bersyukur banget." gumamnya lagi dengan menatap dirinya di pantulan cermin, seakan baru sadar diri jika dirinya sendirilah yang merendahkan harga dirinya.


***


Irsan terbeliak saat melihat Cecilia keluar dari kamar dengan memakai dress yang membuatnya tampak anggun, dengan rambut terurai begitu saja dan riasan wajahnya yang sederhana. Pakaian yang di siapkan oleh Ines juga sangat cocok di pakainya.


"Sebenernya kita mau kemana sih. Kencan ya?"


Irsan yang tengah terbeliak menatapnya kini terkesiap, "Apa otak mu hanya ada hal hal begitu?"


"Ya habis nya apa coba?"


"Orang. Siapa?" Cecilia melirik foto ibunya Irsan, "Apa kita akan bertemu keluargamu?"


Irsan terkekeh kecil, "Kau sudah berharap bertemu dengan keluargaku? Apa kau sudah yakin?"


"Eeeh ... Maksudku bukan gitu! Kau sendiri kan gak bilang kita mau kemana."


"Kau akan tahu nanti."


Cecilia mendengus, "Dasar! Tinggal bilang aja kenapa sih. Malah bikin penasaran aja."


Wajah Cecilia yang menggemaskan saat tengah menggerutu itu membuat senyumannya terulas walau tipis, dia masih belum menyangka saat ini ada seorang gadis yang tinggal di unitnya.


"Kau kesal karena aku tidak memberitahumu Cecilia?"


"Iya iya lah woii ... Lagian kenapa sih maen rahasia rahasian segala, aku gak akan kabur juga kalau tahu ketemu siapa? Kau fikir aku gak berani apa ... ketemu orang lain! Justru aku ngerasa gak enak sama kamu kalau ternyata orang yang bakal kita temui itu kenal sama aku. Atau jangan jangan seorang daddy yang aku kenal. Gimana coba?" cibirnya panjang lebar.


Irsan menghampirinya, mengeluarkan jepit rambut berbentuk kupu kupu kecil dan menyematkannya di rambut Cecilia.


"Justru itu, kalau kau tahu ... Aku yakin kau tidak akan mau." ujarnya lembut.


Deg


Deg


Jantung Cecilia berirama sangat kencang hanya karena perlakuan Irsan sangatlah manis, jepit rambut yang di sematkannya pun sangat indah dan menambah kesan anggun dirinya.


"Ini lebih bagus." Irsan merapikan sedikit rambutnya yang berantakan. "Cantik!"


"Aku emang cantik dari sananya, dibuat memakai tenaga ayah dan ibuku tersenyum bahagia, penuh cinta dan kasih sayang. Ya ... walau harus lahir dengan penuh perjuangan." Cecilia terkekeh dengan bahasa yang keluar dari mulutnya dengan asal itu.


"Kau ini! Ayo pergi."


Cecilia menahan lengan Irsan yang hendak melangkah pergi, dan kembali menoleh ke arahnya.


"Kau yakin gak akan ciuum aku dulu?" Cecilia memajukan bibirnya lantas terkekeh.


Membuat Irsan lagi lagi terkesiap. "Kau benar benar mengujiku Cecilia ...!"


Gadis itu hanya terkekeh, dia maju beberapa langkah di depannya sampai jarak mereka sangat dekat, "Ya anggap aja begitu."


Irsan pun menghela nafas saat Cecilia mencondongkan wajah ke arahnya.


Cup


Irsan mengecuup pipi Cecilia sekilas, "Ayo pergi."


Gadis berusia 20 tahun itu mendengus, dia tidak puas hanya mendapat ciumman sepetrti itu. Dia pun nenarik lengan Irsan lagi sampai pria itu kembali menoleh.


Dengan cepat Cecilia menyambar bibir Irsan dan melumaatnya pelan, hanya beberapa detik saja hingga Irsan lagi lagi terkesiap.


"Ayo pergi!" kekehnya sambil mengelap lembut bibir Irsan dengan jarinya, membuat Irsan mengerjapkan kedua matanya tanpa bisa melakukan apa apa, dia hanya bisa mengikuti pergerakan Cecilia yang kini berjalan ke arah pintu.


"Kau ini benar benar agresiff."


.


Hadeeuuhh Si Cece bener bener deh! Pake di pancing pancing terus, udah tahu dia itu tiang listrik bukan kang ikan. Wkwkwk.