I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.113(Bisa keluar gak bisa masuk)



Sementara Irsan yang datang ke rumah sakit karena ada pasien yang baru saja masuk unit darurat mengalami serangan jantung kini masuk ke dalam ruangan. Seorang pria terbaring lemah dengan semua alat yang menempel di tubuhnya.


"Dok?"


Seorang suster menyerahkan berkas pasien dan hasil pemeriksaan sementara dari dokter yang berjaga di unit gawat darurat.


"Tensi 90/60 Dok, riwayat penyakit darah tinggi." tukas Seorang suster memberikan informasi.


"Hasil EKG (Elektrokardiogram)?" tanya nya tanpa basa basi.


Suster menyerahkan sebuah kertas berwarna pink dengan grafik grafik di dalamnya, dan hanya dokter lah yang faham cara membaca hasil dari grafik grafik itu.


"Sempat drop setelah dilakukan defibrilasi tadi, tapi kembali normal setelah dilakukan CPR."


"Ok!" ujarnya mendekati ranjang pasien yang masih tidak sadarkan diri itu, pria paruh baya yang tidak berdaya.


Irsan mengeluarkan stetoskop dan memeriksa detak jantung pasien, lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jubahnya.


"Siapkan kamar dan pantau terus!"


"Baik dok!"


"Dan siapkan tim bedah untuk bersiap jika kondisinya kembali menurun, kita akan melakukan bedah bypass." terangnya sembari membubuhkan tanda tangan di berkas pasien.


Dokter Irsan kembali ke luar dari ruangan gawat darurat itu, seorang pria terlihat berjalan ke arahnya.


"Dokter Irsan?"


"Ya?"


"Bagaimana keadaan tuan Reno?"


"Reno?" Irsan mengernyit, dia membaca riwayat penyakit di setiap berkas pemeriksaan pasien tetapi selalu melewatkan bagian informasi nama.


"Bukankah dokter yang menanganinya barusan?"


Pria ini. Bukankah pria ini yang aku lihat di kantor Reno dan dia yang masuk kedalam mobil Reno. Reno ... Jadi pria itu? Irsan membatin saat pria di depannya terus bertanya padanya.


"Ah ... Iya, maaf. Kondisinya saat ini cukup normal, tapi kami masih harus terus memantaunya, jika tidak ada masalah lagi, pasien akan segera sadar dan bisa menjalani perawatan, tapi jika kondisinya memburuk. Kami akan mengambil tindakan. Suster akan membantu prosedurnya nanti. Apa kau keluarganya?"


"Istrinya dengan dalam perjalanan kemari dok."


"Kalau begitu dia bisa menemuiku nanti. Permisi." Irsan melenggang pergi meninggalkan pria yang hanya bisa mengangguk saja.


Irsan masuk kedalam ruangan praktek miliknya, duduk dengan memijit pelipisnya sedikit keras, sebagai seorang dokter. Dia tidak pernah memandang siapa yang menjadi pasiennya, namun saat ini. Terlihat jelas kekesalannya saat tahu jika pria yang baru saja dia periksa adalah Reno. Pria yang mengikat rantai dileher Cecilia, membelenggunya dengan segala macam kemewahan dan dia. Pria yang membuat Cecilia tidak bisa menjawabnya saat dia menyuruhnya berhenti.


Tidak pernah terfikir olehnya sedikitpun akan bertemu dalam kondisi seperti ini, dia jelas marah bahkan sangat marah pada pria hidung belang yang menggunakan kekuasaan serta hartanya itu, namun dia tidak mungkin bisa melakukan apa apa karena pria itu kini justru jadi pasiennya.


Irene datang dengan langkah tergesa gesa, melihat Jo masih berdiri saat sebuah blankar keluar dari ruangan gawat darurat. Jo juga mengikuti seorang dua orang bulder yang mendorong ranjang pasien menuju ruangannya.


"Nyonya?"


"Jo ... Bagaimana kondisinya?"


"Oke. Dimana ruangan Dokter Irsan?"


***


Mobil berwarna silver melaju dengan kecepatan sedang dikemudikan Irsan menuju apartemen, setelah bermalam di rumah sakit dan memantau keadaan Reno yang belum berubah sedikitpun. Bisa dikatakan stabil namun juga masih beresiko tinggi jika tiba tiba drop.


Pria itu jelas mengantuk dan lelah, karena dia jarang mengambil jam malam jika tidak benar benar darurat.


Tak lama dia sampai, pria tinggi itu tidak langsung ke basement untuk memarkirkannya sendiri, kali ini dia turun di lobby apartemen dan menyerahkan kunci mobil pada seorang securty. Prilaku tidak bisa itu mengundang rasa heran, terlihat security itu menautkan kedua alis tebalnya saat Irsan melenggang masuk begitu saja setelah memberikan kunci padanya.


"Tumben banget pak Irsan! Mungkin dia capek kali ya."


Sementara Cecilia bergelung manja di dalam selimut, tidur saat dini hari karena semalaman resah dan gundah gulana. Mencoba menahan diri tidak keluar dari unit milik Irsan demi mencari minuman yang menjadi obat tidurnya selama ini.


Bahkan saat pintu terbuka dan Irsan masuk ke dalam unitnya, Cecilia tidak mendengarnya sedikitpun.


Irsan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, namun tidak menemukan dirinya, dia pun beralih ke kamar dan mendapati pintu kamar masih tertutup.


"Astaga ... Apa dia sama sekali tidak mendengarnya!" Gumamnya dengan terus mengetuk pintu kamar.


Dia pun masuk ke dalam kamar setelah tahu kalau kamar tidak dia kunci dan berdecak heran saat melihatnya masih terlelap.


Irsan menghela nafas, pria itu kembali ke luar dan menuju dapur. Dapur yang kini sedikit berantakan, gelas dan piring kotor masih berada di meja makan, wajan menggorengan yang sedikit gosong juga masih berada di atas kompor.


"Astaga!" Ujarnya dengan memindahkan semua piring dan gelas kotor ke dalam wastafel, mencucinya dan merapikannya dengan cekatan.


Dia tidak suka kotor, tidak juga suka berantakan, rasanya aneh jika melihat tempat tinggalnya saat ini berantakan.


Dia juga memasak makanan. Tunggu, memasak?


Ya memasak sendiri, dan terbiasa dinikmati sendiri. Aroma harum menyeruak masuk kedalam lubang hidung gadis yang masih terlelap itu, dia mengerjapkan kedua matanya yang masih berat untuk dibuka namun perutnya menagih minta di isi asupan gizi. Dengan langkah terseok seok dia keluar dari kamar Irsan menuju dapur, dan keroncongan di perutnya semakin hebat saja.


"Kau sudah bangun. Apa aku mengganggumu sampai kau terbangun?" Sindir Irsan yang melirik jam tangannya, bahkan waktu sudah memasuki jam 10 pagi. "Kau tidak kuliah hari ini?" tanyanya lagi.


"Aku lapar, semalam aku hanya makan telor, itu juga gosong dua kali." ujarnya dengan berdiri didepan meja makan, masih mengerjapkan kedua matanya saat melihat Irsan memasak. "Kamu bisa masak?" gumamnya dengan menggaruk kepalanya.


"Kenapa tidak memesan makanan saja kalau kau lapar!" Irsan baru membalikkan tubuhnya dan mendapati Cecilia yang hanya memakai kemeja putih miliknya, kemeja yang cukup besar jika dia yang memakainya hingga tidak perlu lagi memakai celana, serta dua kancing yang terbuka begitu saja memperlihatkan dadanya yang cukup besar.


Glek!


Irsan menelan saliva, mengambil piring lalu dengan cepat mengisinya dengan cumi crispy saus madu buatannya. Namun dia tersentak kaget saat tangan Cecilia sudah melingkar di pinggangnya, menempeli punggungnya sampai tidak berjarak lagi.


"Ya minimal kamu kasih tahu kode password pintumu, aku bisa keluar dan masuk, kalau semalam aku keluar, mana bisa aku masuk lagi, dan kamu pasti berfikir aku pergi lagi dan kamu pasti marah lagi. Aku gak mau kamu marah lagi."


.


Ati ati modus tuh si Cece bang.... Wkwkwk.


2 bab moga langsung lolos review. Kalo gak lolos malem ini, besok pagi baru ada nih. Huuh sebel. Biasanya akhir bulan nih mimin nton suka sensi.