
Irsan memberikan kartu miliknya pada kasir, sementara Cecilia melongo dengan sedikit berjingkat saat melihat dompet milik Irsan.
"Uangmu banyak?" tanyanya dengan konyol."Dompetmu juga tebal."
"Dasar kau ini. Memangnya kenapa?"
"Enggak, kamu bayar ketiga dress itu sekaligus, padahal aku cuma minta 1 aja, kamu juga gak lihat aku saat mencobanya, memangnya kamu bisa tahu kalau itu cocok atau enggak."
"Itu bukan masalah uangku cukup atau tidak, tapi saat kau sendiri nyaman memakainya. Kenapa aku harus melihat dulu baru membayar. Yang akan memakainya kau kan bukan aku." sahut Irsan dengan mengambil kembali kartu miliknya yang telah selesai di gunakan pembayaran.
"Kalau gitu aku mau beli itu, itu, dan itu." tunjuknya pada dress dan juga setelan mini dress dan piyama seksi. "Hm....!"
Irsan menoleh pada benda benda yang ditunjuknya, "Berikan apa yang dia mau." ujarnya pada kasir, dan membuat Cecilia sedikit tercengang.
"Kamu yakin? Uangmu habis nanti." bisik Cecilia yang menjadi tidak tega membuatnya bangkrut.
"Tidak! Ambil apa saja asal kau suka." ucapnya melengos pergi.
Cecilia mengambil paperbag dengan mendengus pelan karena sikap Irsan benar benar membuatnya heran. "Orang mah di pilihin, yang paling cocok pas di lihat, keluar dari fitting room terus bertanya apa ini bagus. Ini mah boro boro! Lihat juga kagak." decihnya sangat pelan.
Gadis itu mengikuti langkah kaki Irsan yang keluar dari butik, dan tiba tiba saja dia berhenti hingga Cecilia hampir menabrak punggungnya.
"Aw!"
"Kenapa kau mengikutiku keluar?"
"Lah ... Emangnya kenapa?"
"Kau harusnya ganti pakaian di dalam sana, ada toiletnya kan? Sudah sana ganti pakaianmu dulu."
Cecilia mengulas senyuman, dan langsung masuk ke dalam mobil. "Aku ganti di mobil aja, kau juga sudah pernah melihatku telanjang, jadi aku tidak khawatir."
"Astaga ... kau ini!"
"Kau juga boleh mengintip kalau kau mau!" Ujarnya terkekeh.
Pria itu hanya menggelengkan kepala nya saja, sementara Cecilia menutup pintu mobil. Irsan tampak mematung di depan pintu mobil, menunggu Cecilia yang tengah berganti pakaiannya, mempersulit diri dengan menggantinya di dalam mobil. Untung saja kaca mobil berwarna gelap, hingga Irsan tidak khawatir ada orang lain yang melihatnya.
Pintu akhirnya terbuka sedikit, Cecilia melongo keluar. "Aku udah selesai."
Irsan akhirnya berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil. "Lain kali kau ganti di tempat yang benar."
"Ish ... Sama aja lah, dari pada aku masuk lagi ke dalam. Males." jawabnya asal.
"Kau ini setiap aku beri tahu pasti mengeyel." Irsan menyalakan mesin.
Cecilia terkekeh, dan langsung terkesiap saat mobil menyala. "Tunggu. Resletingku belum naik!"
Cecilia mengarah ke belakang, hingga Irsan dapat melihat resleting yang belum selesai sampai ke atas, juga punggungnya yang putih. Gadis itu mengulas senyuman, saat Irsan hanya menatapnya.
"Ayo ... Jangan bilang kau sedang menelan ludah melihatnya."
"Kau ini, ada ada aja."
Setelah selesai, akhirnya mobil melaju kembali ke tempat yang Irsan maksud tadi, keduanya keluar dan seperti biasa tangan Cecilia bergelayut di lengan Irsan. Gadis itu tidak membuang kesempatan emas ini. Keduanya tampak serasi. Irsan yang hanya memakai polo t-shirt hitam dipadukan dengan jas hitam miliknya yang ada di mobil, serta celana jeans berwarna biru navy. Sementara Cecilia memakai dress selutut dengan bentuk leher V.
"Gimana. Aku cantik gak pake baju ini?"
"Cantik!"
"Berarti tadi gak cantik?"
"Cantik juga."
Kedua manik Irsan melebar ke arahnya, ingin sekali dia berteriak memanggil namanya dengan keras.
"Eit ... Dilarang marah." Cecilia tergelak, semakin merekatkan tangan pada lengannya.
Irsan mendengus, lagi lagi dia hanya bisa menurut saja hari ini, tapi anehnya hatinya ikut merasa senang karena membuat gadis yang dia cintai itu tampak senang. Sesekali dia meliriknya hanya untuk menatap wajah cantiknya saja.
Deretan kursi masih terlihat kosong, hanya beberapa saja yang terisi oleh mereka yang tengah menikmati makan romantis, alunan live musik juga terdengar merdu.
"Lho ... Kita mau kemana?" tanya Cecilia pada saat mereka terus berjalan melewati meja meja yang maish kosong. "Ini masih kosong."
Irsan tidak menjawab, membiarkan Cecilia terus bicara hingga mereka sampai di privat room. Seorang waiters membuka pintu dan mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam.
"Wah ...!"
Kata pertama yang keluar dari mulut gadis itu dengan takjub. "Ini akan bikin kamu bangkrut."
Irsan mengulas senyuman, menarik kursi untuk Cecilia duduk. "Kau ini cerewet sekali."
"Aku gak perlu merampokmu, uangmu sudah akan habis dalam sehari."
Irsan kembali tersenyum, "Kau khawatir sekali aku bangkrut. Hm?"
"Ya iya ... Gini gini juga aku masih punya perasaan. Karena aku pakai perasaan jadi aku gak mau pacarku ini sampai mengeluarkan uang banyak hanya untuk melakukan semua ini." terangnya sambil melihat buku menu. "Coffe shopmu juga belum lama buka, pasti beluk keliatan untungnya kan, aku jadi gak tega kalau harus rampok uangmu."
Irsan terkekeh melihatnya, "Aku tidak akan bangkrut hanya karena melakukan hal ini untuk mu Cecilia. Sudah berapa kali aku katakan. Tidak akan. Aku punya uang."
Cecilia mendongkak melihat wajah Irsan yang serius menatapnya, diakhiri dengan anggukan kecil darinya.
"Tidak usah khawatir lagi tentang hal itu. Hm!"
Segala macam menu makanan pun datang, terhidang diatas meja dengan rapi. Padahal Cecilia baru saja membuka buku menu.
"Kenapa udah dateng lagi, aku baru lihat lihat ini."
"Aku memesannya saat kau memilih pakaian."
"Oh pantesan."
Mengingat jarak antara kafe and resto itu sangat dekat dengan butik yang mereka datangi.
Tiba tiba kedua mata Cecilia memicing ke arahnya, "Kau bukan pemilik Kafe and resto ini kan? Atau butik tadi?"
"Bukan, temanku pemiliknya. Dan aku memiliki kartu discount khusus."
"Benarkah?"
"Hm...!"
"Sekaya itu kah temanmu, sampai dia meminjami kau mobil, memberimu discount dan segala macam."
"Ya begitu lah. Aku hanya seorang dokter yang hanya memiliki usaha coffe shop." jawab Irsan dengan kedua alis naik turun.
Cecilia semakin memicing, entah kenapa kali ini dia tidak percaya apa yang di katakan Irsan, semua fasilitas yang dia miliki, mobil yang sering berganti ganti setelah dia tahu mobil pertama yang di berikan pada Ines dan sikapnya yang tenang.
"Aku rasa kamu bukan sembarangan Dokter deh."
"Ya ... Aku memang bukan sembarang Dokter, aku Dokter bedah dalam dengan lisensi internasional. Gaji ku juga tidak sedikit Cecilia, jadi kau tidak perlu khawatir," sahutnya dengan memotong motong daging steak di atas piring lalu meletakkannya di depan Cecilia.
"Magsudku bukan begitu! Kamu bukan pembisnis kan, atau kamu bukan pengusaha, kamu hanya Dokter saja kan."