
Cecilia tidak juga melepaskan tangannya dari leher Toni sampai Toni hampir menyerah dan suaranya sudah mulai serak.
"Jangan macem macem lo sama gue!" tukas Cecilia yang justru mengeratkan tangannya. "Lo gak tahu siapa gue!"
Sementara Ibunya seakan tidak terpengaruh keadaan apapun, dia tampak tenang saja dan sesekali melihat ke bawah.
"Lepaskan dulu, bagaimana aku mengatakannya kalau aku tidak bisa mendarat dan juga bicara kalau begini." sahut Toni dengan satu tangan menahan lengan Cecilia dan satu lagi memegang kendali helikopter.
Hampir 15 menit helikopter yang di jalankan Toni tidak terbang juga tidak pula mendarat, tiga pria yang memakai seragam bruder pun hanya bisa melambai lambai ke arah Toni.
"Apa yang terjadi?"
"Entahlah, aku tidak tahu, kau lapor sana!" tukas salah seorang pada temannya.
Terlihat satu pria masuk ke dalam mobil ambulance dengan berlari saking kencangnya angin.
"Bos ada masalah!" teriak pria yang masuk ke dalam mobil pada seseorang diujung telepon. "Toni sudah akan berangkat tapi sepertinya target sulit ditaklukan." ujarnya lagi dan langsung menutup sambungan telepon.
Gelak tawa di salah satu ruangan mengagetkan Carl yang saat ini tengah duduk, Zian menyimpan ponsel miliknya yang baru saja berdering.
"Ada apa Hubby?"
"Dia dan sahabatmu memang benar benar berjodoh, yang satu tidak bisa bergerak dan satu banyak gebrakan yang tidak disangka!" ucap Zian yang tidak hentinya tertawa sampai Carl menghampirinya dan menyorotinya.
"Kau tertawa kenapa?"
"Kau tahu Carl, ide ku saja bahkan hampir gagal apalagi ide konyolmu itu!"
"Apa maksudmu?"
"Pengantin wanita terlalu pemberontak! Ide menculiknya saja bisa dia obrak obrik, apalagi ide mu yang tidak memiliki alternatif lain itu. Payah sekali si Toni!"
"Hey ... Apa maksudmu? Aku sudah tidak ingin mengurusi masalah itu lagi ya. Aku sudah malas! Biarkan saja."
"Terlanjur Carl, rencanamu gagal dan sudah tentu aku akan membantumu!" Zian tertawa lagi.
Seperti sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya itu, Agnia memukul lengannya keras. "Jangan ikut campur. Kau ingin membuat Dokter Irsan makin marah nanti, kasian Ibunya."
"Kalau dia marah padaku, aku akan lebih marah padanya, kau tahu itu Baby."
Agnia berdecak, dan mendengarkan cerita Zian pada Carl tentang penculikan yang dia rencanakan secara mendadak karena ikut gemas melihat Irsan yang terus memikirkan banyak hal.
"Sekarang Cecilia lagi jalan kesini?"
"Belum Baby! Mereka masih berada di lintasan helikopter,"
"Biar ku telefon saja dia!" Agnia sudah mengeluarkan ponselnya.
"Tidak usah, aku ingin melihat bagaimana Toni mengendalikannya, kalau dia berhasil aku akan merekrutnya untuk menjadi bawahanku."
"Hei ... Toni bekerja denganku, dan kau tidak mengatakan apa apa tadi, kau bahkan sudah berpamitan pada tante Embun tadi."
"Kau lihat mereka!" tunjuknya pada Irsan yang duduk di hadapan Embun, "Kau tahu mereka sedang membicarakan hal ini?"
Carl menoleh ke arah telunjuk Zian yang menunjuk satu tempat dimana Irsan duduk bersama Ibunya. "Mereka hanya diam seperti patung!"
Zian menjentikkan jarinya persis didepan wajah tampan Carl, "Tepatnya mereka tidak berbicara tapi justru hanya diam, membuatku muak akan sikap Dokter satu itu."
"Aku tidak ingin ikut campur!"
"Kau cukup kerjakan apa yang aku suruh saja, kita bekerja sama Carl!"
Agnia yang sedari tadi jadi pendengar setia hanya berdecak, membayangkan Cecilia tengah bingung dengan apa yang terjadi. "Hubby ... Makin lama ini, buang buang waktu tahu!"
"Kau punya rencana apa Baby?"
"Ku telepon aja Cecilia biar cepet, gimana?"
Zian terdiam memikirkan saran istrinya lalu mengangguk. "Kita ikuti saran Istriku Carl."
Carl mendengus, Zian yang gegabah dan berani mengambil segala tindakan masih mendengarkan saran orang lain, berbeda dengan Irsan yang sulit sekali di taklukan.
Drett
Drett
Cecilia mendengar bunyi nada dering diantara berisiknya suara baling baling heli, dua tangan mengerat kencang di leher Toni melonggar sedikit hanya untuk melihat siapa yang meneleponnya.
'Halo Nia ... Sorry gue lagi sibuk! Nanti gue telepon balik!' teriaknya pada ponsel yang ditempelkan di antara bahu dan telinganya.
Alih alih meminta pertolongan justru Cecilia mematikan sambungan telepon dan baru sadar saat itu juga. "Sial ... Gue bego gara gara lo!"
"Apa yang baru saja menelepon itu nona Nia?"
"Heh lo jangan maxem macem Lo!"
"Kau salah, aku mengenalnya. Kalau tidak percaya kau tanya saja padanya. Dia pasti tahu alasanku melakukan ini."
"Apa maksudmu?"
Ponselnya kembali berdering, dia buru buru melepaskan batang leher Toni dari pitingannya dan segera menerima panggilan.
'Ce ... Lo masih di heli kan?'
'Lo kok tahu?'
'Udah ikut aja, gak usah lo nanya nanya, nanti gue jelasin di sini!'
'Hah?'
'Udah ... Bilang sama Toni buruan!'
'Lo dimana Nia?'
'Bali....'
Setelah mendengar ucapan Nia, Cecilia terpaku ditempatnya dengan kedua manik mengerjap ngerjap tidak percaya. Begitu juga dengan Toni yang kembali menerbangkan helikopter membelah udara.
"Apa apaan semua orang hari ini?" gumamnya pelan, menengok kearah ibunya yang tampak tersenyum melihatnya.
"Bu ...!"
"Ya sayang ... Tidak usah khawatir, ibu akan selalu bersamamu." jawab ibunya tanpa sadar.
Cecilia menghela nafas, menghempaskan tubuhnya begitu saja dengan segala fikiran yang terus silih berkelahi dikepala.
"Toni ... Kau tahu sesuatu kan?"
Toni terdiam kesal, andai saja sejak tadi dia diberikan kesempatan bicara. Sudah pasti dia akan membeberkan semuanya, tapi kali ini dia berubah fikiran karena kadung kesal atas perlakuan Cecilia padanya.
"Toni ... Lo gak denger gue ya?"
"Maaf ... Tapi aku tidak mau mengatakannya!"
Bugh!
Cecilia menendang kursi pilot yang sekarang di duduki Toni saking kesalnya sementara Toni mendengus.
Kalau bukan tuan Zian yang menyuruhku langsung, aku tidak ingin berurusan denganmu Nona yang galak, aku tidak percaya Mas Irsan menyukai gadis sepertimu. Batin Toni kesal.
Beberapa saat kemudian helikopter akhirnya mendarat sempurna di lintasannya, Cecilia mengerjapkan kedua mata saat melihat pulau dewata yang jadi tujuannya sejak siang bersama Irsan justru dia batalkan.
"Tahu kemari kan tadi ikut aja sih! Bikin repot amat kayak gini." dengusnya kesal.
Dua orang berlari ke arah helikopter dengan menunduk, membuka pintu dan menyuruh Cecilia dan ibunya keluar. Tak lama mobil hitam melaju kearahnya. Sementara Toni masih berada di dalam helikopter dengan baling baling terus berputar putar.
Cecilia berdecak melihat mobil hitam yang kini pintunya terbuka. "Apalagi ini?"
Keduanya masuk kedalam mobil, pria yang sejak tadi berdiri pun segera menutup pintu dan menyuruh supir untuk segera melaju.
"Kita kemana ini nak?" tanya Ibu Cecilia.
"Aku juga gak tahu Bu!"
"Apa kita akan kerumah putriku Cecilia?"
"Iya Bu!" jawabnya tanpa berfikir dua kali.
Supir yang tengah mengendarai mobilpun hanya meliriknya sebentar pada spion mobil.
"Apa lo?" bentak Cecilia padanya.
Hari sudah menjelang gelap. Semburat orange sudah bermunculan indah menyegarkan pandangannya, dan 30 menit berlalu begitu saja dalam perjalanan ketempat yang bahkan Cecilia tidak tahu.
"Sudah sampai Nona."
"Ya terus kemana lagi, gue kan gak tahu."
Toni berlari ke arah mobil, dia yang sudah lebih dulu sampai menunggunya datang lalu membuka kan pintu.
Cecilia mendorong pintu sekuat tenaga sampai Toni yang berada diluar terdorong. Alih alih meminta maaf, gadis itu hanya mendengus, rasa kesalnya tidak juga hilang.
Dia di giring dua orang untuk masuk kedalam sebuah restoran namun sangat sepi, dan pandangannya tertuju langsung pada Carl yang tengah bernyanyi di atas panggung yang tidaklah besar.
Melihatnya datang, Carl turun dan berjalan menyambutnya.
"Akhirnya kau datang juga! Bagaimana perjalanannya tadi?"
Bugh!
Cecilia lebih dulu memukulnya ketimbang menjawab pertanyaanya, Carl meringis karena hidungnya yang sudah terluka kembali berdarah.
"Lo emang brengsekk Carl!"
.
.
Wkwkwk Padahal kita nungguin kondangan malah drama mulu. Yaa .... Cecelover banyak banyak sabar hari ini yaa, othor bakal up satu lagi nanti kalau lancar yaa. Lope lope badag buat kalian.
Jangan lupa dengerin juga versi audiobooknya. Dijamin makin seru. Suaraaa beuhhh... Cece banget deh. Gak percaya ... Cek aja sendiri. follow juga Dubbernya . Alka. Makasih