I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.161(Hey kau!)



"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau meracuniku dengan memasukkan racun dalam infusku?"


"Mampus!"


Cecilia bergumam tanpa suara saat kedua mata Embun terbelalak menatapnya, terlebih saat Embun menuduhnya yang bukan bukan. Secepat kilat Embun meraih tombol berbentuk spiral yang berada di samping ranjang untuk meminta bantuan namun Cecilia dengan cepat menepis tangannya dan merebut tombol bell nurse itu dari tangan Embun.


"Eh ... Gak usah panggil suster, ini aku cuma ganti infusan yang habis aja kok! Negatif mulu deh fikirannya," sahutnya dengan meletakkan tombol spiral itu pada holder yang terpasang di dinding dibelakang ranjang, hingga Embun tidak bisa menjangkaunya.


"Halah ... Kau bohong! Cepat lepaskan infusan itu, aku tidak mau kenapa kenapa."


"Ya udah sih bu kalau gak percaya! Lagian ya, aku gak sengaja lewat, aku lihat tuh infusan kosong, ya aku masuk!"


"Aku tidak butuh bantuanmu!"


"Ya udah, lagian juga aku gak sengaja bantuin kok! Tadinya aja, kalau gak ada yang ganti terus ibu kan lagi tidur, yang ada nanti darah nya keluar. Habis tuh darah ibu."


"Halah cari muka!"


"Buat apa aku cari muka sama ibu?"


"Jangan panggil aku ibu!" Sentaknya dengan memalingkan wajah ke arah lain.


"Ya terus mau dipanggil apa? Mbak ... Kakak ... Sis, bestie? Gak pantes kan. Ribet banget kalau cuma panggilan. Itu artinya aku menghormati ibu, aku juga mulai sayang sama ibu," Cecilia terkekeh geli, "Karena apa. Ibu itu ibu yang melahirkan pria yang baik hati, lembut, perhatian, penyayang dan menghormati wanita, Dokter yang baik pula. Harusnya kan ibu bangga, punya anak Dokter. Ya walaupun sifatnya persis kayak ibu."


Embun memalingkan kembali wajah menghadapnya. "Persis seperti ku? Apanya, jangan mengada ngada hanya untuk membuatku luluh padamu."


Cecilia menarik kursi karena terlalu lama berdiri dan mulai pegal, lalu duduk dengan menghadap Embun. "Ibu tahu gak, waktu aku pertama kali ketemu sama anak ibu?"


Embun mendengus menatap kursi yang Cecilia duduki.


Membuatnya menggaruk kepala sambil terkekeh. "Pegel lah bu!"


"Masih muda ya begitu kalau tidak menjaga pola hidup, berdiri sebentar langsung pegel."


Cecilia terkekeh lagi, "Nih ... Persis banget kayak Irsan dulu, judes, lempeng, dingin apalagi, ah pokoknya benci dan pengen nonjok aja!"


"Jadi kau juga sekarang ingin menonjokku. Hah?"


"Ya enggak ... Mana berani aku sama ibu, aku kan lagi cerita kemiripan anak dan ibu. Tapi bener kok bu, Irsan itu mirip banget, bahkan wajahnya aja mirip ibu, aku pernah lihat foto ibu waktu muda. Cantik banget, apalagi kalau senyum."


Embun mendengus lagi mendengarnya, namun hatinya juga sedikit menghangat. Ada seseorang yang bercerita tentang kebaikan anaknya. Mendengarnya sendiri.


"Dan ibu tahu gak pertama kali dia ketemu aku dia bilang apa?"


"Apa?"


Embun mulai tertarik dengan obrolan Cecilia yang terdengar seru, cara bicara yang blak blakan juga raut wajahnya yang menyenangkan saat bercerita.


"Dia bilang gini, Apa dunia ini terlalu sempit sampai aku harus terus melihatmu? Gitu katanya, terus dia bilang lagi, jaga jarak denganku atau kau akan menyesal!" ujarnya menirukan perkataan Irsan dengan suara yang sengaja dia beratkan, juga telunjuk yang mengacung tepat ke arah Embun.


"Kau!"


Gadis berusia 20 tahun itu kembali terkekeh, lalu menutup mulutnya saat melihat tatapan tajam dari wanita paruh baya yang terlihat semakin baik baik saja itu.


"Maaf ... Maaf! Aku terlalu bersemangat menceritakan Irsan, sampai akhirnya cinta itu tumbuh," ujarnya dengan wajah berbinar, dia juga menopang kedua tangan tepat di pipinya. "Dia adalah pria yang membuatku percaya kalau cinta itu ternyata ada, cinta itu menjaga dan saling percaya, tidak peduli seburuk apa kita di masa lalu. Dan lebih hebatnya lagi Irsan bisa menahan dirinya." terangnya dengan membayang kan wajah Irsan yang tengah tersenyum.


Embun mengernyit, dia memang tidak pernah tahu bagaimana Irsan selama ini, sifatnya saat bersama wanita, atau bahkan perlakuannya pada wanita. Dia hanya mengambil kesimpulan sendiri, Irsan akan seperti Ayahnya yang sibuk mengurus pasien, orang lain yang bahkan tidak dia kenal sama sekali dibandingkan istri dan anaknya.


Tidak pernah mendapat perhatiannya namun kerap melihat suaminya begitu telaten mengurus pasien, begitu baik sikapnya pada saat di rumah sakit, tapi begitu dingin saat bersamanya, saat pulang dan saat berada di rumah pun menjadi sosok yang sangat berbeda.


Cecilia terus menceritakan tentang Irsan, dan Embun cukup mendengarkan kisahnya, sifat dinginnya, sifat pemarahnya namun juga perhatian perhatian kecilnya. Segala tentang Irsan yang Cecilia tahu.


"Itu hanya sifat luarnya saja, kau akan tahu kalau sudah lama, atau sudah menikah. Itu juga kalau kau mendapat restuku! Sikapnya akan berbeda, dia akan sibuk dan lupa rumah."


"Ya aku tahu. Aku juga lihat ada lemari baju di ruangan prakteknya, dia juga jarang pulang jadi memberikan unit apartemennya padaku."


Embun terbeliak mendengarnya, "Apa? Dia memberimu apartemen?"


Mampus, kenapa gue malah keasikkan cerita sampe gue keceplosan. Dah kayak si Nita nih kelakuan! Batin Cecilia.


"Ya ... Mungkin dari pada kosong gak berpenghuni, lebih baik dimanfaatkan kan. Baik kan anakmu itu!" Cecilia terkekeh lagi, kali ini dia hanya bisa asal bicara saja.


Bicara dengan Embun tidak semudah yang dia fikir, Embun adalah tife orang yang tidak gampang percaya pada orang lain, juga tidak terlalu peduli juga. Sesekali dia menimpalinya dengan kasar.


"Jadi kau tidak tahu siapa dia sebenarnya?"


"Apa maksud ibu? Tentu saja aku tahu, dia itu dokter bedah dalam, berlisensi internasional dan mendapat pernghargaan dunia." jawab Cecilia polos, memang sebatas itulah yang dia tahu.


"Benarkah?"


Cecilia mengangguk, sementara Embun nyaris tidak percaya kalau Cecilia memang tidak tahu siapa putranya, dia hanya tahu kalau Irsan hanya seorang dokter saja. Benar apa yang dikatakan anakku Irsan, gadis itu memang tidak tahu yang sebenarnya.


"Sudah sana pergi. Aku ingin istirahat!" sentaknya kemudian, dia tidak ingin berlama lama dengan gadis berambut panjang itu, terlebih hatunya mulai sedikit lega sekarang. Aku tidak mau luluh begitu saja karena dia pandai bercerita dan mengambil hati.


"Iya ... Aku akan pergi kok! Tapi ibu jangan bilang Irsan kalau aku kesini dan ngomongin dia ke ibu ya. Nanti dia marah sama aku." Ujarnya bangkit dari kursi, menggeserkannya lagi ke tempat semula.


"Ah satu lagi, ibu emang udah pasti akan ngadu yamg enggak enggak nanti, apalagi soal infus tadi. Tapi aku rasa Irsan gak bakal percaya ucapan ibu. Sekali pun sekarang ini aku masukin racun ke dalam infusan ibu." Cecilia terkekeh. "Upsss ...! Ibu jangan coba coba bilang deh karena gak bakal ada yang percaya."


Embun terbelalak, dia menoleh pada infus yang menggantung di tiang, kepalanya sendiri mulai berkunang kunang. Sementara Cecilia melambaikan tangan dan menghilang ke arah pintu.


"Hey ... Kau kurang ajar! Susterrr."


.


Wkwkwk si Cece duh! Ngerjain orang tua segitunya, awas lo Ce tuh gardu listrik ngamuk. Tahu rasa lo nanti.


Jangan lupa vote, like, komen, rate dan gift juga boleh ya biar othor makin senang.