I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.268(Biar makin pintar)



Keduanya tertahan di ambang pintu saat melihat kedua orang yang memiliki kisah lama yang belum selesai itu kini justru tengah bertukar saliva. Cecilia melingkarkan tangan pada lengan Irsan, dia juga menyandarkan kepala di bahunya dengan terus menatap keduanya.


Irsan hendak melangkah, namun Cecilia mencegah dengan menggelengkan kepalanya.


"Jangan diganggu nanti kentang ... Alias kena tanggung!" gumamnya pelan.


"Aku tidak bisa membiarkannya!"


"Bukankah kau bilang mereka punya cara sendiri buat nyelesaikan masalah mereka? Kenapa gak percaya sama kak Ines dan Tristan?" kata Cecilia yang terus berusaha menarik Irsan keluar dan dia menutup kembali pintu room.


"Tapi mereka melakukannya di sini! Kau lihat ... Bagaimana kalau karyawan di sini mengetahuinya. Terlebih Tristan adalah seorang Dokter."


Cecilia terus menarik suaminya itu dengan tenaga yang penuh.


"Memangnya kau ingin mereka melakukannya dimana? Hotel ... Apartemen ... lebih bagus di sini, mereka ada remnya, gak bakalan sampe lebih dari itu." Cecilia menyenggol lengan suaminya. "Kayak yang gak ngerti aja deh!"


Irsan memegang tangannya, dan berjalan di sampingnya. Ada benarnya ucapan Cecilia, jika mereka berciumaan di sini setidaknya mereka melakukannya hanya sebatas itu saja.


"Kau ini memang selalu ada ada saja, kau sengaja kan membawa Ines kemari?"


"Lah iya ... Karena aku tahu kalau Tristan bakal nyusulin kesini."


"Dari mana kau tahu. Apa dengan Kode lagi?"


"Ya ... Dari kedipan mata saja aku tahu kalau Tristan masih menyukai kak Ines."


"Aneh ... Kedipan mata bisa diartikan seperti itu. Bagaimana cara membedakannya?"


Cecilia terkekeh, dia melompat ke hadapannya lalu memegang kedua tangan Irsan.


"Gampang, kau lihat aja aku!"


Irsan menuruti perkataannya dengan melihat ke arah sang Istri yang tengah tersenyum. Menatapnya dalam dalam. Cecilia kemudian merogoh ponsel miliknya.


"Jangan gerak! Awas kalau gerak."


Cekrek!


Gadis berusia 20 tahun itu terkekeh, saat melihat raut wajah Irsan yang dia lihat dari layar galeri ponsel miliknya.


"Apa itu disebut tatapan penuh cinta?" tanya Irsan yang ikut terkekeh.


Cecilia mengangguk, "Kau lihat ini, tatapan Tristan begini saat lihat kak Ines."


"Benarkah?" Irsan merengkuh bahunya dan mereka kembali berjalan. "Apa kau seorang ahli micro ekspresi?"


Kali ini Cecilia tertawa dengan bergelayut manja, "Mungkin aku cocok di bidang itu. Ya gak?"


Irsan membawanya masuk kedalam market berbagai macam kebutuhan. "Kau ini!"


"Hey ... Aku gak mau ya pergi belanja kebutuhan kita, yang ada nanti semua ibu ibu liatin kamu! Biar nanti aku belanja sendiri saja."


"Memangnya kau sudah tahu apa yang mau kau beli dan apa yang di butuhkan?" tanyaa Irsan dengan terkekeh membawa Cecilia ke area water cooler.


Cecilia menggelengkan kepalanya. "Kau buat saja daftar belanja, nanti aku yang cari."


Irsan menjumput hidung mancungnya, "Dasar nakal! Ambil ini dan habiskan. Aku tidak mau kau terlalu sering mabuk."


"Siapa yang mabuk? Aaku hanya minum 3 gelas kok dikit!"


Pria berusia 40 tahun itu memegangi kedua pundaknya, lalu menatapnya dalam dalam. "Aku mencintaimu Cecilia, dan aku ingin kau selalu sehat agar bisa terus menemani aku sampai sisa umurku habis, jangan merusak dirimu sendiri, umurmu masih panjang, jadi saat aku sudah tidak ada. Kau masih sehat dan bugar untuk terus merawat anak anak kita dengan baik. Faham?"


Cecilia terdiam, terpaku ditempatnya berdiri dengan kedua mata yang berkaca kaca, tenggorokannya tercekat mendengar ucapan Irsan yang menusuk tepat dijantungnya.


Sekejap saja, Cecilia berhambur memeluknya dan menangis hingga tersedu sedu. "Aku akan berhenti minum, aku juga akan berhenti merokok. Aku ingin sehat agar kita terus sama sama, jangan ngomong kayak gitu, kamu merawat dirimu sendiri dengan baik, kamu pasti panjang umur, aku gak tahu kalau kamu gak ada nanti."


Irsan terkekeh, "Haruskah aku mengambil fotomu sayang?"


"Iiih ... Aku mendadak sedih, kamu malah bercanda. Gak lucu tahu!"


Cecilia melingkarkan tangan pada pinggang sang suami, tidak bisa dia bayangkan jika Irsan tidak ada nanti. Tidak mau pula membayangkannya.


"Minumlah ... Agar efek alkoholmu berkurang." ujarnya memberikan sebotol minuman dingin.


"Janji kita bakal terus sama sama?"


"Kenapa harus berjanji? Kau takut ada yang merebutku?" goda Irsan dengan kaku namun bibirnya melengkung tipis. "Aku tidak mau janji, karena aku akan melakukannya Cecilia. Kau tahu itu. Hm?"


"Kalau aku masih belum hamil?"


"Apa menikah hanya tentang anak?"


Cecilia mengerdik, dia masih heran kenapa sampai saat ini masih belum hamil juga. "Ya aku gak tahu, tapi semua orang menikah pasti mengharapkan kehadiran anak iyakan?"


Irsan membuka tutup botol miliknya, "Ya ... tapi semua sudah ada waktunya, banyak yang menikah lama tapi belum punya keturunan, begitu juga sebaliknya. Tapi jangan khawatir, karena semua akan datang di waktu yang tepat. Terlebih Saat kau menunggu waktunya dengan sabar, perbaiki pola makan dan pola tidur, yang paling utama jangan cemaskan apapun. Stress hanya akan membuat hormon hormon ditubuhmu tidak bekerja dengan optimal."


Cecilia mengangguk dengan sesekali segukan. "Siap Mas Dokter ..., ayo kita pulang."


"Kau sudah tidak ingin jalan jalan? Kita ke coffe shop sebentar."


Akhirnya Cecilia mengangguk, "Baiklah aku ikut."


Setelah mengantri cukup lama, akhirnya mereka keluar dari sana, sementara Ines dan Tristan sudah tidak tahu bagaimana kelanjutannya.


Meraka berjalan saling memegang satu sama lain, dengan Irsan yang terus menatap Cecilia. Mereka melewati banyak gerai, juga banyak toko toko pakaian dengan brand terkenal, toko aksesoris juga toko buku.


"Kau ingin membeli sesuatu?"


Cecilia mengangguk, lalu dia masuk kedalam toko buku, berbagai macam buku tersedia di sana, mulai masakan sampai pelajaran, buku nasional juga buku internasional lengkap dengan harganya.


Kedua manik hitam itu menyisir rak rak yang dipenuhi buku. Dia mengambil satu, dua, tiga, tujuh lalu sepuluh.


Membuat Irsan heran dengan tumpukan buku yang dia pegang.


"Sebanyak ini. Kau yakin?" ujar Irsan dengan menatap satu persatu buku buku yang dia pegang.


"Ya ... Tentu aja, kau fikir aku akan menggunakannya sebagai pajangan saja. Ini semua harus aku baca. Agar aku semakin pintar dan bisa membuatmu bangga."


Irsan mengambilnya. lalu membaca judul judul dari buku tersebut satu demi satu.


...Cara merawat anak....


...Cara memasak masakan simple....


...7 Cara hidup sehat....


...Tumbuh kembang anak usia 0-2 tahun....


...Tumbuh kembang anak usia 2-5 tahun....


...The golden age....


Irsan terkekeh membaca satu persatu judul buku yang hendak Cecilia beli, lalu memasukkannya kedalam keranjang.


"Itu biar aku makin pintar," tukasnya saat Irsan terus terkekeh.


"Apapun sayang ...! Apapun yang ingin kau baca," ujar Irsan mengacak pucuk kepalanya.


Pria itu semakin haru saat melihat perubahan Cecilia, dia bahkan melewati toko tas dan pakaian bermerek, dan justru tenggelam di toko buku.


Salah satu toko yang paling Cecilia hindari sejak dulu, bahkan dia akan rela mengeluarkan kocek lebih jika ada yang harus dia beli di toko buku, dia akan memilih menyuruh Orang lain maupun Nita jika sudah urusan buku.


Cecilia tenggelam diantara rak rak berisi buku, membaca judul demi judul. Terkekeh saat asa judul buku nyeleneh dan menggelengkan kepalanya, bukan hanya buku saja yang dia lihat, dia juga beralih melihat lihat Novel novel penulis ternama.


"Ternyata toko buku asik juga. Kok aku baru tahu sensasinya yaa."