I'm A Sugar Baby

I'm A Sugar Baby
Bab.135(Hadiah untuk Irene)



Bukan Cecilia namanya jika akan diam saja saat ada orang yang menyakiti orang terdekatnya, teman, sahabat. Terlebih lagi saat ini, saat ada orang yang menyangkut pautkannya dengan orang yang saat ini mengisi hatinya, tentu saja dia akan melakukan sesuatu kalau perlu hal gila sekalipun.


Alih alih datang ke kampus untuk mencari ilmu, dia nekad datang ke kantor dimana Irene kembali bekerja saat ini.


Boot hills berwarna hitam, dipadukan dengan rok sepan beludru dengan warna senada, juga atasan mini blazer membalut tubuh seksinya, rambut panjangnya dia gerai begitu saja hingga tertiup angin dan bergerak ke kiri dan ke kanan. Tidak lupa kaca mata hitam bertengger di pangkal hidung dengan tindikan disalah satunya.


Gadis itu berjalan bak model, melenggang masuk begitu saja ke gedung perusahaan batu bara terbesar di negara ini, dia juga mengunyah permen karet dan sesekali meniupnya kecil, tidak sampai keluar dari mulutnya sendiri.


Jo yang baru saja keluar dari mobil dan melihatnya masuk segera bergegas menyusulnya, dia sampai berlari agar bisa dengan cepat menghentikannya. Bisa dia bayangkan apa tujuan wanita yang selama 2 tahun di kontrak mendiang bosnya itu bukan sesuatu yang baik.


"Nona. Kau mau apa datang kemari?" ujarnya mencekal lengan Cecilia saat gadis itu hendak masuk ke dalam lift.


"Aah ... Jo. Bikin kaget aja sih!"


"Nona?" Jo masih menunggu jawaban dengan mengulangi pertanyaannya lagi walau tidak lengkap.


Cecilia masuk kedalam lift, tentu saja Jo mengikutinya masuk juga. Keduanya berdiri sejajar walaupun keduanya berada di dua sisi berbeda.


"Aku dengar kamu yang kasih tahu informasi tentang laporanku pada polisi, apa kamu gak takut kalau tante Irene juga seret kamu nanti?"


Jo tentu saja terbeliak, dia sudah memastikan jika dia hanya mengatakannya pada Carl dan menyuruhnya agar tutup mulut dan tidak memberitahu siapapun kalau dia yang mengatakannya.


"Nanti tante Irene tambah marah lho. Terus kamu gak bisa deket deket lagi sama dia ... Kamu bisa dipecat atau bahkan di penjara dengan tuduhan penghianatan." Ucap Cecilia dengan kedua mata yang memicing.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan, aku melakukannya agar Irene tidak bertindak terlampau jauh dan Nona juga pengacara Nona siap dengan hal itu." sahut Jo dengan menatapnya.


Cecilia tidak tahu apa arti tatapan dari asisten sang Daddy yang dia kenal terlampau loyal dalam bekerja, apapun perintah bosnya bisa dia lakukan walau sulit sekalipun, memesan vib rator dari negara terbaik penghasil se ex toys pun dia lakukan, dan bisa dibayangkan tugas tugas lainnya yang dia lakukan selama ini.


"Ya kenapa kau mau lakuin itu. Jangan bilang kau naksir padaku Jo?" seloroh Cecilia dengan kedua mata yang memicing dibalik kaca mata hitam yang dikenakannya.


Jo tentu saja tertawa, dia menyukai sikap ceria dan penuh kepercayaan diri Cecilia. Hal itu juga yang membuat Reno bosnya tidak bisa melepaskannya, menyenangkan hati walau penuh drama kebohongan dan kepalsuan.


Cecilia berdecak, "Ayolah Jo ... Itu gak mungkin kan? Ya kali ...."


Jo hanya mengangguk saja, "Sekarang apa rencanamu dengan datang kemari?"


"Kau mau bantu aku?"


***


Irene masuk ke dalam ruangannya, membawa beberapa berkas laporan perusahaan dan tentu saja berkas tuntutan yang sudah dia siapkan untuk menjebloskan Cecilia dan orang orang yang mencoba menghalanginya ke penjara.


Tiba tiba saja kursi bergerak terbalik, dengan menopang kaki dan dua tangan yang merekat dari Cecilia yang tersenyum manis.


"Hai Tante ... Apa kabar?"


"Kau. Apa yang kau lakukan di sini?" Irene menyambar intercom dan menekan tombol no 2 untuk meminta bantuan agar Cecilia bisa di seret keluar dari ruangannya.


"Buru buru amat Tan ... Aku sampai gak masuk kuliah dan bela belain kesini untuk nyapa tante lho." Tukasnya lagi saat melihat Irene sibuk sendiri karena Intercomnya ternyata tidak tersambung.


"Berani kau kemari wanita jaalang!"


"Kenapa aku gak berani Tante, aku ini terkenal cantik dan pemberani." Sahutnya dengan menunjukan kabel intercom yang sudah dia putuskan. "Uppss ... Sorry!" ujarnya terkekeh.


Irene melempar gagang telepon begitu saja saat tahu apa yang di lakukan oleh Cecilia, dia menatapnya tajam dan juga sorot mata yang menyeramkan.


"Kau! Tidak tahu diri."


"Aku tahu. Tapi tante tenang aja, aku gak akan lama kok. Aku kesini hanya akan memberikan tante hadiah spesial." ucapnya dengan menyimpan beberapa foto ke atas meja. "Ini spesial, satu lagi spesial pake telor, telornya dua." ujarnya lagi menyimpan flashdisk disamping foto.


Irene semakin menajamkan tatapannya, tatkala melihat foto paling atas, dimana Reno saat itu terlihat memeluk tubuh seorang gadis yang sudah bisa dia duga itu adalah Cecilia.


"Tante tenang aja, aku punya stok foto dan salinan CCTV, bukan hanya pada hari dimana aku di ajak kemari. Hotel, apartemen, tempat tempat romantis yang pernah aku kunjungi sama mendiang suami Tante." ujarnya benar benar menohok. "Aku akan menyebarkannya hari ini, jam 00.00 tepatnya nanti malam, jadi kita semua yang akan hancur."


"Kau!!"


Cecilia lalu berdiri, dengan kedua tangan yang menekan meja, dan tubuh yang sedikit dia condongkan ke depan, "Aku bisa bikin saham perusahaan ini anjlok seketika, saat mereka tahu seperti apa suamimu, karena itu akan berimbas padamu tante. Aku gak takut diri aku yang hancur, aku juga gak takut jika semua orang tahu keburukan dan pekerjaanku selama ini. Ya ... itu benar, I'm a sugar baby! Jadi jangan pakai alasan apapun untuk membuatku hancur, terlebih pada dokter Irsan dan juga Sila. Urusan Tante hanya sama aku aja. Jadi mari kita selesaikan berdua aja." ucapnya lagi dengan melangkah mendekatinya. "Dan aku juga gak bakal minta maaf tentang apa yang udah terjadi di antara aku dan suami Tante, kesalahan itu bukan hanya milikku," Cecilia mengeluarkan secarik kertas, menyodorkannya pada Irene. "Ini surat kontrakku dan mendiang suamimu di tahun pertama. Padahal beliau bisa saja berhenti dan gak lagi tanda tangan kontrak di tahun kedua." ujarnya lagi dengan menyerahkan surat kontrak lain padanya.


Irene tentu saja tidak dapat bicara, bagaimana tidak, dia diserang habis habisan oleh wanita yang dia anggap duri dari pernikahannya selama ini, orang yang menipunya juga, dan orang yang paling dia benci setelah tahu apa yang terjadi.


Cecilia membuka kaca mata hitamnya lalu melangkah dua langkah, "Ah ... Satu lagi! Khusus yang ini aku akan mengirimkannya pada ponsel Tante." Dia mengedipkan mata lalu melangkah ke arah pintu, namun dia kembali menoleh lagi.


"Nanti ... Tante bisa cek semua hadiah ini saat aku pergi ya, aku ingin tante fokus dan memikirkannya dengan baik, bye tante!"


.


.


Hai hai hai ... Hi Cecelover, maafkan othor karena baru sempet up lagi, othor lagi punya tugas negara yang gak bisa ditinggalkan, dan gak bisa di wakilkan Pyuh... yaitu


Ngelurus lurusin taoge. Wkwkw. Makasih selalu sabar nunggu othor yaa.