
Benar saja, mereka menghabiskan malam yang panjang hanya dengan bercerita saja, Cecilia bahkan menjaga jarak dengan duduk di single sofa sedangkan Irsan dibuatnya heran degan perubahan diri wanita yang saat ini justru berhak melakukan apapun padanya termasuk menggodanya soal ranjang.
"Kau ini benar benar aneh, kau aktif sebelumnya dan menjadi pasif setelah kau menjadi istriku."
Cecilia terkekeh, "Iyakah? Kau suka yang mana?" Tanyanya membuat Irsan justru gelagapan mencari jawaban.
Irsan bangkit dan masuk ke dalam kamar, "Terserah kau saja."
Bahkan Cecilia memilih tidur dengan ibunya ketimbang dengan Irsan, suaminya. Membuat Irsan tidak dapat tidur kembali dan terjaga sampai pagi.
"Sial ... Ini membuatku gila,"
Sampai pagi menyingsing dan mentari menunjukan dirinya, dengan deburan ombak di pesisir pantai yang indah justru memuat mood Irsan buruk.
Pria itu keluar dari kamar dengan wajah yang ditekuk sempurna lalu duduk dimeja makan disamping ibunya.
"Bagaimana tidurmu bu?" tanyanya dengan mengoleskan selai coklat pda roti panggang yang dibuat ibunya.
Embun menatapnya heran, "Kenapa wajah pengantin kita ini? Apa ada yang salah dengan tidurmu semalam."
Siapapun pasti tahu apa maksud dari ucapan Embun ke arah mana, begitu juga dengan Irsan yang tahu maksud ibunya kemana.
"Sudahlah Bu ... Aku akan kembali ke jakarta hari ini juga, cutiku sudah habis." desisnya dengan menggigit roti miliknya.
Embun mengangguk walau kedua matanya menyipit penasaran dengan bibir yang dikulumnya. Irsan melirik ke arah pintu kamar yang ditempati ibu mertua dan istrinya yang masih tertutup.
"Istrimu pergi tadi pagi ke pantai, dia ingin mengajak ibunya jalan jalan sebelum pulang."cetus Embun yang paham dengan lirikan putranya.
"Benarkah?"
"Hmmm ....!"
Dasar gadis aneh, setelah membuatku tidak bisa tidur dengan baik, dia justru tidak merasa bersalah, dan malah jalan jalan tanpa mengajakku. Batin Irsan.
Suara tertawa seseorang yang membuatnya menoleh sebentar ke arah pintu yang terbuka, Cecilia kembali dengan sang ibu dan terus tertawa bahagia. Sementara Irsan justru membuang muka ke arah lain. Bak seorang anak kecil yang tengah merajuk.
"Suami ... Udah bangun? Aku beliin ini buat kamu." Dengan ceria Cecilia menghampiri Irsan dan menyodorkan kopi cup yang masih mengepul hangat.
"Aku ini penjual kopi," jawabnya ketus, "Bahkan kopi terbaik yang aku jual." ujarnya lagi dengan entengnya.
Embun mengulas senyuman, melihat Irsan yang terlihat seperti anak yang manja. "Istrimu sudah membelikannya untukmu, ambil dan minumlah. Kau kan tidak membawa daganganmu kemari Irsan."
Irsan hanya menatap sang Ibu lalu mengambil cup hangat itu dari tangan Cecilia."Terima kasih."
Embun meirik ke arah Cecilia dengan tatapan yang seolah bertanya kenapa dengan suamimu?
Dan Cecilia terkikik dengan kedua bahu yang dia angkat keatas sedikit sebagai jawaban.
"Dia suamimu Cecilia, panggil dengan sopan." keluh Embun yang risih mendengar ucapannya.
"Sayang, kau mau aku panggil apa?" tukasnya terkekeh. "Sayang suamiku, Cinta, Doksay, abang. Atau Mas ...? Mas dokter?" Cecilia tidak berhenti tertawa saat lagi lagi dia bercanda.
"Mas ... Itu bagus!" tukas Embun,
"Mas?"
Alih alih menjawab pertanyaanya apalagi panggilan aneh dan konyol itu, Irsan justru memilih menyeruput kopi yang sudah di belikan oleh sang Istri dan mulai merasai kandungan kopi Bali itu.
"Aku akan pulang hari ini dan akan menuju langsung ke rumah sakit." tukas Irsan datar saja, kesal karena Ibu dan Istrinya yang kini terus berkomplot menggodanya.
"Aku ikut ya Mas ... Mas dokter, aku harus ikut kemanapun Mas Dokterku pergi." sahut Cecilia yang mengecup sekilas pipi Irsan lalu berlari masuk ke dalam kamar di iringi suara kekehan darinya.
Embun dan Ibunya Cecilia ikut tertawa melihat tingkah Cecilia yang justru mampu mencairkan suasana dan juga mengimbangi Irsan yang datar.
Begitu juga dengan Irsan yang menggelengkan kepala namun juga mengulas tipis senyum di bibirnya, sikap itulah yang kerap membuat mood Irsan berubah ubah secara tiba tiba.
Akhirnya keduanya kembali ke jakarta, sementara rombongan burder yang sempat membawa ibunya dari rumah sakit datang untung menjemput kembali Ibunya Cecilia.
Carl dan juga Toni sudah tidak terlihat lagi sampai mereka berdua serta ibunya masuk ke dalam pesawat. Embun sendiri memilih untuk mengambil libur beberapa hari di sana bersama suster dan beberapa orang yang di suruh menjaganya.
Cecilia menyandarkan kepalanya di bahu Irsan dengan manja, begitu juga dengan tangannya yang saling menggenggam erat, gadis yang sudah menjadi seseorang yang di nikahi secara benar itu kini tertidur, sementara Irsan masih terjaga dengan sesekali mengelus lembut tangannya.
"Kenapa semalam kau tidur di tempat ibumu, bahkan sampai pagi aku tidak bisa memejamkan mata karena menunggumu." cicit Irsan.
Suara kekehan kecil terdengar, membuat Irsan terbeliak kaget karena ternyata istrinya itu justru terbangun dan mendengar ucapannya tadi.
"Hei ... Kau sudah bangun?"
"Aku denger semua lho. Jadi kamu kesel kayak tadi gara gara semalem aku gak tidur bareng kamu? Cie Mas Dokter sekarang jadi mulai aktif yaa."
Irsan menepis tangan Cecilia, "Sembarangan bicara kau ini!"
Cecilia makin ingin menggoda Irsan dengan ledekan ledekan yang membuat Irsan merengut manja, gadis itu bahkan mencuil dagunya dengan terus terkekeh.
"Aaaah ... Ayolah, mengaku aja kenapa sih, sekarang kan aku istrimu Mas."
.
.
Tiang listrik udah gak ada daya .... Wkwkwk,
Jangan lupa juga Nitnit udah mulai Up rutin dari hari ini disebelah yaa, lope lope badag buat kalian.